
Nita menutup sambungan telepon dari suaminya, dia menghela nafas berat. Wanita itu merasa ingin menyerah, tapi dia sungguh tidak bisa melakukannya. Jika perceraian terjadi, maka anak-anaknya yang akan menjadi korban. Dia hanya bisa berdoa supaya kedepannya hidupnya menjadi lebih baik, dirinya dan juga semua anggota keluarganya diberikan hidayah agar menjadi pribadi yang saling mengerti satu sama lain.
Sesampainya dirumah, Nita mendapatkan pelukan dari Nabila. Anak itu baru saja pulang sekolah dan mendapati rumah berantakan, dan ayahnya yang marah-marah.
"Mas, kamu ini apa-apaan, kenapa jadi Nabila yang kena sasaran emosi kamu? Coba deh kamu tenangin diri kamu dulu! trus ceritain ini masalahnya apa dan bagaimana?" Tanya Nita.
Pergelangan lengan Nita dicengkram kuat, dia dibawa menuju kamar ibu Maryati.
"Lihatlah!" Ucap Arman.
Nita sama sekali tidak terkejut dengan kamar ibu mertuanya yang amat berantakan. Ya… awal-awal dirinya mengurus ibu mertua memanglah seperti ini, hanya saja sekarang Nita sudah tahu keinginan ibu mertuanya sehingga tidak sampai mengamuk begini.
"Iya aku lihat Mas, biar aku bereskan," jawab Nita.
"Apa kamu tahu kalau ini itu ulah teh Rini yang kamu bawa. Ibu sampai mengamuk begini, diapakan ibu sama dia?" Tanya Arman yang masih emosi.
Apa perlu aku menyimpan CCTV dikamar ibu?, Percuma saja aku menceritakan semuanya, toh dia tidak akan percaya kalau ibu kandungnya ini memang selalu berulah dan keras kepala, batin Nita.
"Iya, nanti aku hubungi teh Rini, sekarang aku akan membereskan ini dulu Mas. Aku lelah baru pulang perjalanan, seharusnya kamu membiarkan aku minum dulu..!" Jawab Nita.
"Yaudah bereskan, sebaiknya kamu jangan bayar dia Dek. Percuma saja, kerjaannya gak bener juga," teriak Arman berlalu pergi.
Nita hanya menggelengkan kepalanya, dia berustigfar dalam hati. Berusaha sabar dengan sikap orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
"Mah, aku bantuin ya?" Tanya Nabila yang sudah berganti pakaian.
"Gapapa sayang, kamu istirahat aja. Kan baru pulang sekolah, pasti capek. Mamah kan kuat, setiap hari juga memang suka beres-beres," ucap Nita dengan memaksakan senyumannya. Wanita itu tidak mau anaknya ikut sedih jika melihat ibunya bersedih.
Namun anak perempuan itu begitu menyayangi sang ibu, dia tetap saja membantu Nita membereskan kekacauan yang dilakukan neneknya. Beruntung sikap Nabila dan Riki tidak membuat Nita pusing, mereka anak-anak yang selalu mengerti.
Dulu Arman mempunyai banyak waktu untuk bermain dengan dua buah hatinya itu, tapi sekarang lelaki itu terlalu sibuk dan selalu beralasan lelah. Seolah itu membuat jarak diantara Arman dan anak-anaknya. Ditambah emosi Ayah Nabila itu semakin hari semakin tak terkendali, membuat Nabila sering ketakutan melihat perubahan Arman.
"Mah, ayah kok marah-marah terus? Kayak nenek aja deh, Nabila gak suka," Tanya Nabila.
"Mungkin ayah lagi capek Bil, biarin aja. Ayah gak bermaksud marah sama kamu, tetaplah hormati ayahmu..!" Jawab Nita.
Nabila pun mengangguk. Saat Nabila mengeluhkan sikap neneknya yang pilih kasih pun, Nita akan berusaha memberi pengertian agar anak itu tidak mendendam, toh apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Tak peduli orang memperlakukan kita seperti apa, tapi kita harus berusaha memberikan yang terbaik. Kita harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan tentu bagi semua mahluk hidup. urusan sakit hati, barlah karma yang membalasnya.
"Bu, ibu mau makan?" Tanya Nita.
Bu Maryati menoleh, dia mengangguk pelan. Sungguh tak biasanya ibunya ini murung, biasanya akan ada bentakan dan teriakan. Atau menjawab dengan nada kesal saat berbicara dengan Nita. Jelas berbeda jika saat berbicara dengan anak kandungnya, maka Bu Maryati akan lemah lembut. Bahkan terkesan kalah oleh mbak Dela.
Nita pun pergi ke dapur, dia memasak terlebih dahulu. Meski lelah masih dirasakannya karena perjalanan jauh, tapi dia tidak boleh istirahat sekarang.
***
Sebelum adzan magrib, Nita pergi mengunjungi rumah teh Rini untuk memberikan upah. Nita juga ingin menanyakan perihal apa yang membuat ibu mertuanya mengamuk.
__ADS_1
Saat datang Nita tidak disambut dengan baik, bahkan teh Rini tidak mempersilahkannya masuk.
"Udah Nita, gak usah dibayar! Teteh terlampau sakit hati oleh tuduhan suamimu itu," ucap teh Rini.
"Tapi teh, aku gak enak. Maafkan mas Arman ya? Aku tahu teh bagaimana lelahnya menjaga ibu, aku tidak mau dzolim. Ini uang udah hak teteh, aku kan udah janji mau bayar segitu," jawab Nita.
Tanpa Rini menjelaskan pun Nita sepertinya tahu permasalahan ini dimulai dari siapa. Nita tahu betul sifat dan sikap ibu mertuanya padanya maupun pada perawat-perawat sebelumnya, itu fakta.
"Iya, Teteh sekarang mengerti. Pasti kamu sangat tertekan dan lelah selama ini, apalagi… hmm, sudahlah. Teteh gak mau ambil uangmu itu Nita, yang jelas Teteh sama sekali gak ngerasa bersalah karena memang tidak salah. Sebaiknya kamu pulang sekarang!" Ucap Rini.
"Tapi teh, terima dulu uangnya..! Aku bener-bener minta maaf teh atas nama saya dan juga keluarga saya," ucap Nita.
"Teteh gak mau. Teteh gak mau berurusan dengan keluarga suamimu lagi, nanti malah jadi masalah lagi karena uang itu. Kemarin suamimu bilang kalau tidak akan membayar seorang yang tidak becus seperti teteh, sudah ya, Teteh masih banyak kerjaan didalam," ucap Rini kemudian menutup pintu itu, tak lupa mengunci pintunya.
Nita mematung disana, dia bingung harus bagaimana agar hubungannya dengan teh Rini itu tidak berakhir seperti ini. Dia tidak mau dibenci atau punya musuh, dia juga merasa bersalah karena uang yang seharusnya hak Rini masih dia pegang sekarang. Hatinya kini tak tenang.
Sepertinya aku yang salah, seharusnya aku tidak menitipkan ibu pada orang lain mengingat ibu memang sikapnya keras, batin Nita.
Sesampainya dirumah, dia dihujani banyak pertanyaan dari Arman suaminya. "Bagaimana, apa yang dia katakan padamu Dek? Benar kan, dia sudah memperlakukan ibu dengan kasar? Apa dia sudah minta maaf? Kamu gak ngasih upahnya kan?."
Kepala Nita berdenyut sakit saat mendapatkan pertanyaan yang memusingkan ini. Dirinya merasa diposisi yang serba salah. Dia tidak tahu cara menjelaskannya bagaimana, suaminya juga tidak akan menerima jika dinasehati Nita.
Bersambung …
__ADS_1