Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Kedatangan Daffa


__ADS_3

Karena memang hari itu hari libur, membuat mereka cukup lama bertamu. Apalagi Nita begitu menunggu momen liburan dan menghabiskan waktu bersama. Dia akan melakukan banyak kegiatan di rumah ibunya.


Seperti biasa Riki dan Nabila berniat mengajak ibunya untuk menonton, bercerita dan memasak bersama. Apapun yang mereka lakukan yang terpenting adalah kebersamaan. Mereka begitu senang, karena jika hari biasa mereka sulit bertemu dengan sang ibu yang pulang saat sore hari, sementara mereka juga tidak mau mengganggu istirahat sang ibu dan enggan bertemu nenek Maryati.


"Bu, masih mau disini atau mau aku antar pulang?" Tanya Arman.


"Kamu ngusir ibu Man,?" Tanya Maryati kesal.


"Bukan begitu Bu, hanya saja Arman takut ibu gak nyaman. Bukannya tadi ibu bilang keberatan datang kesini," jawab Arman.


Maryati sebenarnya hanya malas bertemu Ani saja, sementara dia merasa nyaman bertamu lama-lama di rumah yang bersih, besar, dan bahkan ber AC. Apalagi dihidangkan banyak makanan yang enak, dan tentu rasa penasaran Maryati belum terobati, dia ingin mengorek calon suami Liana yang menurutnya sudah tua. 


Sudah tua? Ah… aku jadi teringat Dela. Apa yang ada di berita kemarin itu dia? Batin Maryati.


Maryati mendadak sedih, dia seakan lupa dengan niatnya untuk mempermalukan Liana disaat calon suaminya datang. Ternyata hari ini spesial karena calon suami Liana akan datang berkunjung.


"Man, apa ada kabar dari Dela?" Tanya Maryati dengan tiba-tiba.


"Maaf Bu, aku lupa dan belum sempat menghubungi Mas Romi," jawab Arman. Lelaki itu segera menghubungi kakaknya untuk mencari informasi dan nihil, mereka pun tidak mendapatkan kabar apapun.

__ADS_1


"Belum ada kabar Bu, mas Romi juga ternyata baru tahu dari aku, mas Romi bilang nanti kalau ada kabar akan menghubungi aku Bu, ibu tenang aja ya..!" Ucap Arman setelah melakukan panggilan lewat telepon.


Arman begitu senang melihat kedua anaknya tersenyum. Terlihat mereka lebih bahagia tinggal bersama neneknya (Bu Ani). Perhatian dan kebutuhan yang terpenuhi membuat tumbuh kembang mereka sangat baik bahkan sangat pesat. Tubuh Nabila sekarang lebih berisi, pipinya terlihat lebih tembem sekarang.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu Man?" Tanya Maryati.


"Gapapa Bu, senang aja melihat anak-anak bahagia," jawab Arman.


Maryati merasa kesal, dia tidak suka kedua cucunya merasa bahagia, apalagi kebahagiaan yang didapat dari Ani, musuh lamanya.


Tak berselang lama, datanglah sesosok lelaki yang tampan dan berkarisma. Usianya sekitar 28 tahun, usia yang cukup muda untuk seorang pengusaha sukses. Meski bersikap dingin, tapi Daffa memperhatikan kesehatan Bu Ani. Membawakannya vitamin, makanan dan buah-buahan, perlakuannya yang dingin terhadap semua orang tapi begitu hangat jika berbicara dengan Ani. Itu membuat Maryati semakin iri pada Ani.


Daffa juga begitu irit dalam berbicara padanya, membuat Maryati kesal.


"Jadi kamu calon suami Liana?" Tanya Maryati. Tapi Daffa hanya menoleh sesaat tanpa menjawab pertanyaan Maryati. Membuat wanita lanjut usia itu kesal.


"Sombong," ucap Maryati pada Daffa.


"Terkadang sombong pada orang sombong itu perlu," jawab Daffa pelan. Seakan dia hanya ingin Maryati saja yang mendengarnya.

__ADS_1


Maryati semakin dibuat kesal, dia meminta Arman untuk mengantarnya pulang. Bisa-bisa aku langsung darah tinggi menghadapi lelaki tak sopan itu, sombong, belagu, sok kaya, batin Maryati.


Sesampainya dikontrakan, "Man, kamu temenin ibu dirumah ya..!" Ucap Maryati.


"Tapi Bu," keluh Arman. Lelaki itu ingin menghabiskan liburannya bersama anak istrinya.


"Gausah banyak tapi, aku ini ibumu. Masa kamu meninggalkan ibu sendirian disini, kamu tega?" ucap Maryati.


"Kita kesana lagi ya Bu. Kalau mau tidur, ibu kan bisa tidur dan istirahat disana..!" Bujuk Arman.


"Gak. Kamu disini temenin ibu!" Bentak Maryati.


Arman hanya bisa pasrah, dia bingung berada di posisi ini. Dimana ibu dan mertuanya memang tidak akur, anak-anaknya juga pasti ingin menghabiskan waktu dengannya sebagai seorang ayah. Dengan lesu, Arman menuju kamarnya dan memilih tidur siang untuk menghilangkan rasa lelah, yang sebenarnya yang lelah itu hatinya, bukan fisiknya.


Ibu adalah seseorang yang sangat berarti dan berjasa, disaat ibu salah jalan maka anaknya juga wajib mengingatkan. Tapi disaat sang anak lelah untuk menasehati karena sikap ibunya yang amat keras, bahkan ibu malah memberi contoh yang jelek. Ibu mengajarkan anaknya sikap egois dan tak peduli dengan perasaan orang lain. disaat itulah Arman merasa ibunya seperti Al-Qur'an yang meskipun sudah rusak dan tidak bisa dibaca, tapi kita tidak bisa membuangnya.


Disaat tubuh itu nyaman berbaring di kasur, tiba-tiba ada telepon dari sang kakak. Membuat Arman bangkit dan mencoba mencari tahu apa yang ingin dibicarakan Romi.


"Apa? Serius Mas?" Tanya Arman.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2