
Sore itu Nita menghubungi Liana lagi dan mengabari jika mereka jadi datang. Perjalanan mereka ke tempat yang dituju cukuplah jauh, sekitar 30 menit mereka baru sampai.
"Apa benar ini rumahnya?" Gumam Nita.
"Mah, ini beneran rumah nenek dan Tante Liana?" Tanya Nabila.
"Panggil kak Liana aja Dek, kakak geli dengernya!" Ucap Riki.
Nita hanya tertawa, memang usia Riki dan Liana tak berbeda jauh makanya dia tidak mau kalau harus memanggil Liana dengan sebutan Tante. Begitupun sebaliknya, Liana lebih suka dipanggil kakak oleh Riki.
Mereka mencoba mengetuk pintu, dan benar saja ada Liana yang membuka pintu dan menyambut kedatangan mereka. Terlihat Bu Ani juga datang menyusul, Nabila langsung memeluk erat tubuh neneknya itu.
"Nenek, Bila kangen sama nenek…," ucap Nabila sambil memeluk Bu Ani.
"Cucu nenek udah gede aja, semakin cantik," puji Bu Ani.
"Nenek bisa aja," jawab Nabila tersipu malu. Gadis itu merasa senang sekali, karena dirumah, nenek Maryati tidak pernah memujinya seperti itu, neneknya itu hanya akan memarahinya dan membuatnya sedih.
Nenek Ani…, aku lebih suka nenek Ani. Aku tidak punya nenek lain selain beliau, batin Nabila.
Kebencian Nabila memang sudah seperti akar pohon yang kokoh, dia tidak bisa melupakan itu semua. Meski dia selalu berusaha melupakan dan bersikap baik demi sang ibu. Nyatanya luka yang ditoreh oleh sang nenek masih membekas. Terlebih dia merasakannya sejak usia balita, merasa dibeda-bedakan.
Merekapun makan bersama, Liana tahu akan kedatangan mereka, hingga sudah disiapkan juga makanan yang mewah. Liana sengaja memesannya, dia ingin merasakan hal yang berbeda dan memanjakan lidah kedua keponakannya.
"Makanlah yang banyak..!" Ucap Liana pada Nabila.
__ADS_1
"Ini enak sekali Tante, rumah nenek bagus banget. Nabila jadi ingin tinggal disini," ucap Nabila.
"Sesekali menginap saja disini..!" Jawab Bu Ani.
Nabila begitu senang mendengarnya, Nita pun memberi izin asal itu dihari libur. Karena kalau dari rumah Bu Ani jarak menuju sekolah Nabila semakin jauh.
Tak terasa malam pun sudah tiba, Nita membungkus makanan yang sama yang dimakannya bersama ibu dan adiknya untuk dibawa pulang. Dia tidak mau kalau suaminya tidak merasakan apa yang dia rasakan, makanan enak ini tentu harus dinikmati oleh Arman suaminya.
Nabila malah cemberut karena ibunya membawa makanan itu juga untuk Bu Maryati. Sebisa mungkin Nita memberi pengertian pada sang anak.
"Bila… jangan begitu sayang. Kita harus selalu menanam kebaikan pada siapapun agar kita menuai kebahagiaan.!" Ucap Nita.
***
"Nek, jangan begitu. Kita harus bersyukur apapun makanannya..!" Jawab Riki.
"Iya nih, nenek mau enaknya aja. Mamah sama Ayah juga yang capek kerja gak protes tuh!" Ucap Nabila. Gadis itu berani menjawab saat tidak ada ibu dan ayahnya dimeja makan.
Namun saat terlihat ibu dan ayahnya datang. Nabila melanjutkan acara makannya, Nabila merasa jika neneknya Pandai Berakting, maka dia harus mengimbanginya.
"Nita, makanan semalam apa masih ada? Kalau ada hangatkan saja, ibu masih mau!" Ucap Maryati.
"Maaf Bu, sudah habis," jawab Nita.
"Yaudah nanti beliin lagi ya!" Ucap Bu Maryati.
__ADS_1
Nita melirik pada sang suami, Arman menganggukan kepalanya. Lelaki itu akan memaklumi permintaan ibunya hari ini, tapi jika terus begini dia akan berbicara empat mata dengan ibunya. Karena Arman mengangguk, berarti dialah yang akan bertanggung jawab mengeluarkan uangnya, Nita pun setuju.
Sabar… sabar…! Semoga ada rezekinya, batin Nita.
Setelah pulang kerja, Nita pulang terlambat karena harus mampir ke rumah makan untuk membeli pesanan ibu mertuanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Arman dan anak-anaknya sedang duduk diteras dengan beberapa koper.
"Astagfirullahaladzim…, ada apa ini?" Gumam Nita.
Wanita itu berlari sekencang mungkin untuk menemui mereka semua dan meminta penjelasan.
"Yah, ada apa ini?" Tanya Nita.
"Rumah kita disita Mah, ternyata Mbak Dela menggadaikannya," jawab Arman lemas.
"Kita ke rumah nenek aja Mah, bagaimana?" Usul Nabila.
"Ish, masa kita numpang di kontrakan kecil milik si Ani itu," jawab Maryati.
"Maaf Bu, jangan menghina ibuku seperti itu..!"
"Ya sepertinya kita ke rumah ibu Mas, kalau ibumu gak mau ikut ya gapapa, kita hubungi Mas Romi atau yang lainnya, siapa tahu ada yang bisa membawa ibu tinggal bersama mereka..!" Ucap Nita.
Kali ini Nita juga berharap ibu mertuanya dibawa oleh salah satu kakak iparnya, dia tidak mau ada keributan saat ibu mertuanya satu atap dengan ibu kandungnya. Dia tidak mau ibunya setiap hari merasa sakit hati oleh kata-kata yang dikeluarkan ibu mertuanya.
Bersambung….
__ADS_1