
Bu Rosi pun menceritakan apa yang dia dengar dari ibu Maryati tadi pagi pada Arman. Lelaki itu tak habis pikir dengan kelakuan ibunya, dia merasa malu sekaligus bingung. Bingung bagaimana caranya menyadarkan ibunya, jika dinasehati… Maryati tidak akan menerima dan merasa benar sendiri. Jika dibiarkan pun itu akan membuat masalah besar.
Arman pulang dengan membawa gula putih di tangannya. Dia membuka pintu dan mengucapkan salam, tanpa menunggu jawaban dari ibunya, dia pergi menuju dapur dan membuat dua gelas teh manis hangat.
"Bu, ini teh nya," ucap Arman.
Maryati keluar dari kamar dan mulai duduk, "kok dua gelas Man?" Tanya Maryati.
"Ini buat aku Bu, aku sedang ingin duduk bersantai disini bersama ibu," jawab Arman.
"Tumben, ibu jadi merasa tidak enak hati," jawab Maryati.
Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Arman. Memang selama ini dia jarang meluangkan waktu berdua bersama sang ibu, selain sibuk bekerja, dia merasa sejak kecil juga hubungannya dengan sang ibu kurang dekat. Dia lebih dekat dengan ayahnya yang kini sudah tiada, alasannya dulu tak dekat karena memang Maryati sang ibu yang terkadang pilih kasih, menorehkan luka dan membuat jarak diantara mereka sampai sekarang.
Aku tanyakan tidak ya? Batin Arman.
"Hmm… aku sedang ingin saja menikmati teh hangat di sore hari sambil bersantai sejenak Bu," jawab Arman. Dia mengurungkan niatnya untuk menginterogasi sang ibu, dia tidak tahu harus memulai pembicaraan itu seperti apa agar ibunya tidak marah.
Terlihat Maryati menatap lekat rumah besar yang ada di depannya, sangat jelas karena tepat didepan kontrakannya.
"Kenapa ibu terus memperhatikan rumah ibu Ani?' tanya Arman.
"Tidak. Rumah itu ada didepan kita, tentu ibu akan melihat ke arah sana. Ibu penasaran ingin bertemu calon suami Liana itu," jawab Maryati.
"Sepertinya memang orang sibuk Bu, orang kaya bukannya seperti itu," ucap Arman.
__ADS_1
"Ya, ibu hanya merasa takut saja kalau Liana tertipu lelaki yang telah beristri," ucap Maryati lagi, seolah dia peduli pada Liana, padahal dia sedang membuat pembahasan yang belum tentu benar. Arman tidak mengerti sikap ibunya yang seakan pandai sekali membolak-balikan kata, membuat sang pendengar salah menilai.
"Aku yakin Bu kalau lelaki calon Liana itu orang baik dan dapat dipercaya. Mana mungkin Nita mengizinkan adiknya berhubungan dengan lelaki tidak jelas apalagi suami orang. Sebaiknya ibu tidak usah khawatir..!," jawab Arman. Lebih tepatnya bukan khawatir, tapi janganlah ibu menebar fitnah Bu..! Batin Arman.
"Iya kamu benar. Mungkin ibu juga termakan omongan tetangga tadi pagi, hmm…," ucap Maryati berlalu pergi.
Arman diam, dia tidak habis pikir dengan sikap ibunya yang selama ini begitu membenci istrinya dan juga keluarga sang istri.
Ketika malam datang, tidak biasanya Romi menelpon Arman. Lelaki itu seperti mau tak mau mengangkat telepon dari kakaknya yang selama ini selalu berbeda pemikiran.
"Assalamu'alaikum…," ucap Arman setelah memencet tombol menerima panggilan.
"Waalaikumsalam…, apa kabar Man? Oh iya kabar ibu bagaimana?" Tanya Arman.
"Alhamdulillah baik Mas, ibu juga sekarang udah sehat. Udah bisa jalan lagi," jawab Arman sesingkat mungkin.
"Syukurlah, begini Man, beberapa hari ini mbak Dela menelpon ku dengan nomor baru. Dia meminta bantuan, tapi aku tidak sanggup. Apakah benar mbak Dela sedang dalam keadaan butuh pertolongan kita? Apakah tidak ada aset yang tertinggal?" Tanya Romi.
"Kalau Mas mau menolong itu sah sah saja, tapi aku disini sudah tidak mau berurusan dengan mbak Dela setelah apa yang dilakukan mbak Dela pada kami," jawab Arman
"Memangnya kenapa Man?" Tanya Romi.
"Mbak Dela menjual tanah yang dijadikan sawah milik ibu yang hasilnya biasa kami gunakan untuk tambah-tambah biaya ibu juga. Dan surat
Rumahku pun ikut dia gadaikan. Mbak Dela memang sedang butuh bantuan karena Fadli juga ikut masuk penjara, hanya saja aku tidak rela dia seenaknya seperti itu," jawab Arman.
__ADS_1
Romi pun kaget, dia tak menyangka jika mbak Dela lebih egois dari sebelumnya. Dia menjadi kasihan pada sang adik yang selalu setia menjaga ibu mereka. Romi pun berniat mengirim beberapa bantuan berupa sembako. Karena hanya itu yang mampu dia berikan, dia mengelola toko sembako milik istrinya.
Kenapa Romi tidak mengirimkan uang saja? Tidak, dia sejak dulu memang seperti menumpang hidup pada istrinya yang kaya, membuat harga dirinya sebagai suami pun tak bisa dia perjuangkan. Dia menjalani pernikahan yang tidak senormal orang lain, istrinya lah yang seakan menjadi kepala rumah tangga, mengatur keuangan dan memimpin apapun setiap tindakan.
Miris, memang miris. Berumah tangga karena perjodohan dan mendapatkan istri yang terkesan sombong atas apa yang dia punya, membuat Romi tak berkutik. Romi begitu iri pada rumah tangga adiknya Arman, tapi dia sudah terlanjur mempunyai anak yang harus diperjuangkan.
***
Gosip tentang Liana kini tersebar hingga sampai ke telinga Titin yang langsung dia laporkan pada Liana.
"Neng, Bibi lagi kesel sama tetangga sini," ucap Titin.
"Memangnya kenapa bi?" Tanya Liana.
"Mereka seenaknya memfitnah, mereka bilang non Liana itu simpanan om om, Bibi langsung membubarkan para penggosip itu, bikin kesal saja," ucap Bu Titin.
"Apa? Bibi gak salah dengar kan?" Tanya Liana kaget.
"Iya Neng, besok Bibi akan mencari tahu dari mana sumber gosip ini, Neng gak usah khawatir! Nanti bibi ulek tuh mulut lemesnya," ucap Titin sambil memutar tangannya yang sudah mengepal di atas lengan yang satunya. Titin seperti sedang membayangkan mengulek bibir orang itu.
Liana diam, selama ini dia tidak pernah mendapatkan fitnah seperti ini. Dikala hidupnya sederhana, tak ada orang yang mengusiknya, hanya segelintir orang yang memandang dengan tatapan merendahkan tidak separah ini. Menurutnya ini sesuatu hal yang baru dan dia tidak tahu harus menyikapinya seperti apa.
Apakah aku biarkan saja, toh nanti juga gosip itu hilang. Atau aku kasih pelajaran saja pada orang yang berani mengusik hidupku? Batin Liana.
Bersambung …
__ADS_1