Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Sikap Maryati


__ADS_3

Ceklek


Pintu kamar pun terbuka. Maryati membuka pintu, dia berjalan dengan menggunakan tongkatnya. Seketika Nita merasa kaget saat melihat pemandangan didepannya, "Alhamdulillah…," ucap Nita saat itu juga.


"Ibu sudah bisa berjalan dengan tongkat? Sejak kapan Bu?" Tanya Nita.


"Sejak 3 hari yang lalu, tentu kamu senang. Agar kamu gak direpotin lagi sama ibu," jawab Maryati.


"Sama sekali gak ngerepotin kok Bu. Ibu jangan berpikir seperti itu..! Nita senang karena ibu sembuh," ucap Nita.


"Sudahlah, jadi ngapain kamu mengetuk-ngetuk kamar ibu? Berisik tahu," keluh Maryati.


"Gapapa ko Bu, Nita cuma khawatir aja. Apa ibu butuh sesuatu?" Tanya Nita.


"Gak, ibu bisa ambil air ataupun makanan di dapur," jawab Maryati kemudian menutup pintunya kembali.


Nita merasa tidak enak hati saat kata-kata pedas itu keluar dari mulut ibu mertuanya, tapi dia berusaha mengikhlaskan semuanya. Dia tahu kalau ibu Arman memang sudah seperti itu dari dulu, jadi seharusnya dia sudah terbiasa.


Nita juga bersyukur karena kesembuhan ibu mertuanya, jujur dia akui kalau setelah dia melahirkan dia tidak sanggup jika mengurus bayi dan ibu mertuanya secara bersamaan.


Nita kembali ke kamarnya, saat hamil dia memang sering sekali mengantuk. Tapi, baru saja dia sampai di depan pintu kamarnya, terdengar suara ketukan pintu. Wanita itu berjalan menuju arah sumber suara.


Saat pintu terbuka, dia menerima pelukan hangat dari Nabila. "Mamah, Billa kangen…," ucapnya.


"Kemarin juga ketemu, rumah Mamah kan deket. Hmm…," jawab Nita.


"Ih Mamah, Nabila baru pulang sekolah terus inget Mamah, aku beliin rujak deh," ucap Nabila sambil memberikan rujak yang dibawanya.

__ADS_1


"Wah, seger nih Bil. Siang-siang begini memang cocok, makasih ya…" Nita mengambil bungkusan itu dan langsung duduk dikursi yang ada di teras rumahnya.


"Mah, nenek ada?" Bisik Bila.


"Ya ada, memangnya gak ada kemana? Kalau terapi juga pasti sama Mamah, memangnya ada apa?" Tanya Nita sambil memakan rujak.


"Ih Mamah, jangan keras-keras dong. Aku males denger nenek yang cerewet. Aku pulang ya Mah, nanti Mamah harus temuin Nabila, bantuin ngerjain PR..! Hehe," ucap Nabila, dia mencium punggung tangan ibunya dan berlalu pergi sambil melambaikan tangan. Nita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu.


Meski rumah mereka cukup dekat, tapi Nabila lebih suka jika ibunya itu menemuinya di rumah Bu Ani daripada harus bertemu nenek Maryati. Kalau Riki, dia yang mulai kuliah sangat sibuk dengan berbagai kegiatan kampus. Nita pun sangat merindukan anak lelakinya itu, dia sepertinya harus pergi ke rumah ibu kandungnya.


Setelah menghabiskan rujak yang masam, rasa kantuknya tiba-tiba hilang. Wanita itu beranjak menuju dapur untuk memasak, menyambut kedatangan suaminya.


Kehamilan ketiganya ini sama sekali tidak membuat Nita merasa kewalahan, dia tidak ngidam yang aneh-aneh. Suaminya juga berubah menjadi super perhatian, anak-anak yang terpisah rumah membuat mereka lebih mempunyai waktu berduaan. Hubungan suami istri itu semakin harmonis, Nita merasa lebih bersemangat setiap harinya.


Meski begitu, terkadang dia juga merindukan canda tawa anak-anaknya yang sudah tumbuh besar. Sesekali Nita datang berkunjung ataupun Riki dan Nabila yang datang menemui ibunya. Jarak rumah mereka tak terlalu jauh, hanya memerlukan waktu 8 menit bila berjalan kaki.


***


Sore itu mereka makan bersama, Maryati juga ikut bergabung dimeja makan. Arman begitu senang melihat kemajuan sang ibu, tak sia-sia mereka mengorbankan tabungan yang mereka punya.


Sepanjang mereka makan, Maryati lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya yang selalu cerewet dan protes meski hal itu sepele. Ada saja yang membuat Maryati mengomel terlebih pada Nita. Arman dan Nita yang merasa heran, mulai menanyakan hal itu pada Maryati.


"Ibu gapapa, kalian ini aneh. Bukankah kalian lebih suka jika ibu diam begini? Kalau ibu cerewet setiap hari, kuping kalian juga yang sakit," jawab Maryati.


"Ibu…, bukan begitu Bu. Arman hanya khawatir. Apa ibu ada masalah? Atau ingin beli sesuatu?" Tanya Arman.


"Gak. Kalau ibu banyak maunya nanti kalian pusing mikirin uang yang habis. Kalau ibu jawab ibu pengen punya mobil, apa kalian akan membelikannya? Enggak kan?" Jawab Maryati.

__ADS_1


Arman pun mengalah, memang sulit bertanya pada ibunya. Selalu dijawab ketus, padahal Arman dan Nita benar-benar khawatir.


***


Beberapa Minggu kemudian, diadakanlah acara tujuh bulanan kehamilan Nita. Arman mengadakan acara yang sederhana, yang terpenting adalah doa dari semuanya. Maryati juga sudah berjalan dengan normal, dia hanya perlu memeriksakan kondisinya ke klinik setiap dua bulan sekali.


Bu Ani, Liana, Daffa, Riki dan Nabila datang bersamaan. Mereka tentu turut ikut bahagia dalam acara ini, mereka berkumpul dan bersenda gurau setelah tamu undangan yang lain telah pulang. Daffa yang terkesan dingin dan cuek, memilih pulang dengan alasan ada pekerjaan.


Mereka begitu asyik mengobrol, Nabila dan Riki bertengkar karena mereka memiliki keinginan yang berbeda.


"Aku maunya adik perempuan, biar bisa aku dandanin. Kalau cowok pasti nakal kaya kak Riki yang selalu ngerjain aku," ucap Nabila.


"Cewek itu cerewet kaya kamu. Lebih baik adiknya cowok jadi aku ada temennya," jawab Riki.


Disaat mereka bertengkar, semua orang hanya tertawa tanpa mau membela salah satu dari mereka. Maryati memisahkan diri, dia merasa tidak nyaman dan malah berlalu menuju kamarnya.


"Bu, makan dulu..! Kita makan sama-sama ya?" Tanya Arman.


"Gak, ibu makannya nanti aja di kamar. Kalian berisik…," jawab Maryati. Wanita itu pun masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa mengunci pintu meninggalkan Arman yang masih mematung diluar sana.


Arman tidak tahu bagaimana caranya agar ibunya itu mau berdamai dengan mereka semua. Arman merasa ibunya masih saja sama seperti itu setelah diuji sakit yang kesekian kalinya. 


Apakah selama ini… aku yang tidak bisa membahagiakan ibuku? Apakah selama ini aku yang salah, kenapa ibu masih saja membenciku, membenci Nita, anak-anak dan keluarga Nita? Batin Arman.


Sementara didalam sana, Maryati menangis dalam diam.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2