
"Saya memang bekas preman, tapi saya tidak berani mengambil tanah milik orang lain meskipun sejengkal. Anda mungkin lebih tahu dosanya. Saya akan ambilkan bukti transaksi dan juga sertifikatnya kalau anda tidak percaya," jawab Pak Rohim.
Dengan segera lelaki itu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arman yang kini mulai kebingungan. Dia kini merasa ada yang perlu diingat. Bukankah kemarin Bu Fatma pernah bilang kalau Mbak Dela sedang mengukur tanah disini, apa jangan-jangan? Batin Arman.
Arman sekarang merasa tak enak hati, dia bersikap berlebihan pada Pak Rohim padahal Nita sudah memperingatkannya tadi. Aku terlalu ceroboh dan sikap yang tak mau mendengarkan dulu penjelasan orang lain. Sikap egoisku yang merasa benar, sepertinya belum hilang dari diriku, batin Arman.
"Ini, lihatlah! Disana sudah ada tanda tangan Bu Maryati dan juga Dela anaknya, ada salinan cek juga sebagai tanda transaksi, saya bahkan sudah membalik nama sertifikat tanah itu," ucap Pak Rohim.
Arman tiba-tiba merasa lemas, dia seperti orang linglung. Nita memilih pamit dan meminta maaf atas keributan ini.
Selama diperjalanan pulang Arman berjalan diappah Nita. "Mas, kamu yang kuat..! Kamu harus sabar dan ikhlas, ini sudah terlanjur terjadi," ucap Nita.
"Mas tahu kalau tanah itu tidak akan kembali, tapi Mas masih ragu. Sepertinya mbak Dela membohongi ibu, Mas takut jika bertanya langsung tapi kalau tidak ditanyakan malah akan menimbulkan masalah lain kedepannya," jawab Arman.
Mereka istirahat terlebih dulu di rumah Dadang, keadaan Arman yang masih syok tentu tidak bisa dipaksakan untuk membawa motornya.
"Biar aku saja Mas yang membawa motornya, bagaimana? Kasihan anak-anak di rumah," ucap Nita.
"Mas gapapa kok, lima menit lagi ya? Sampai teh manisnya habis," jawab Arman.
Nita mengangguk pelan, dia tidak menyangka jika kakak iparnya akan berbuat sejauh ini. Jika Bu Maryati terlibat, sungguh disayangkan karena menjual tanah demi salah satu anaknya, sementara itu hak semua anak-anaknya. Jika Bu Maryati tidak terlibat dan tahu masalah ini, Nita takut ibu mertuanya yang sudah sembuh malah sakit lagi.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah Nabila mengeluh karena neneknya itu menghabiskan lauk miliknya.
"Cuma satu potong ayam aja anakmu ini menangis," protes Maryati.
"Aku kan belum makan Nek, sementara nenek makan 3 potong ayam," jawab Nabila.
"Maaf mah, Nabila tadi udah Riki ajakin cari lauk pauk diluar, tapi malah gak mau dan ngambek," jawab Riki.
Arman yang masih pusing dengan masalah tanah, dia tidak mau menambah beban pikirannya dengan pertengkaran masalah ayam ini. Arman memilih pergi menuju kamarnya.
"Bil, ibu masakin ayam tepungnya lagi ya? Tunggu disini dulu, kamu bisa makan cemilan dulu. Atau mau makan diluar sama Mamah? Kita beli bakso," ucap Nita.
Mata Nabila berbinar, dia memilih makan bakso di luar bersama ibu dan kakaknya. Sebelum pergi, Nabila menengok ke arah sang nenek, tersenyum penuh kemenangan.
Setelah mereka makan, Nita membungkus dua porsi bakso. Tentu untuk Arman dan ibu mertuanya, sementara Nabila ingin protes.
"Mah, beli dua porsi lagi?" Tanya Nabila.
"Iya, buat nenek sama Aya kamu," jawab Nita.
"Nenek kan sudah tua, memang bisa makan bakso?" Tanya Nabila.
"Bisa dong sayang, ini kan belinya bakso halus. Kenapa wajah Bila kaya bete gitu?" Tanya Nita.
__ADS_1
"Bila gak suka aja Mamah bawain makanan buat nenek, gadis aja makanan aku diabisian kok," jawab Nabila dengan mengerucutkan bibirnya.
"Oh ceritanya ngambek nih, hehe… sayang jangan gitu ya, bagaimanapun nenek Maryati kan nenek kamu juga. Mungkin karena usianya yang sudah tua jadi sikapnya begitu. Kamu yang lebih muda harus bisa mengalah..!" Ucap Nita.
"Tapi dari dulu nenek memang begitu kok," jawab Nabila tak mau kalah.
"Iya Dek, sebaiknya kamu jangan menyimpan dendam. Itu cuma membuat hati kita ikut kotor..! Kakak juga sudah melupakannya," ucap Riki.
Gadis itu pun mengangguk paham. Meski di dalam hatinya masih tersimpan rasa tidak rela memaafkan neneknya yang menaruh luka yang banyak. Sikap pilih kasihnya, sikap kasarnya dan banyak lagi.
***
Saat Nita dan anak-anak pulang, Nita terkejut mendengar ibu mertuanya yang menjerit dan menangis di kamar dan suaminya yang terduduk lesu dilantai tanpa melakukan apapun.
"Mas, ada apa ini? Ibu kenapa?" Tanya Nita.
"Dek, sertifikat rumah ini juga hilang. Sepertinya dia ambil mbak Dela juga. Bagaimana dengan kita sekarang kalau sampai rumah ini ada yang menyita tiba-tiba?" Jawab Arman.
Nita kini ikut terduduk lemas, dia tak mampu berpikir lagi karena ini tempat satu-satunya bagi mereka. Kemana kami harus pergi jika rumah ini juga malah dijual mbak Dela? Astagfirullahaladzim… , batin Nita.
Riki dan Nabila pun ikut sedih karena mereka cukup mengerti dengan apa yang dikatakan ayahnya. Nita pun berdiri, dan menyuruh kedua anaknya untuk beristirahat, lalu dia mencoba menenangkan ibu mertuanya yang tak berhenti menangis. Dia takut keributan ini mengundang para tetangga datang.
"Dela… kamu tega sama ibu Nak, kamu menipu ibumu ini. Hiks…hiks …," teriakan maryati diiringi tangisan dan jeritannya.
__ADS_1
Bersambung…