
"Memangnya uang kita cukup untuk membayar perawat? Sementara uang dari mbak Kinan aja dipegang sama ibu," tanya Arman.
"Ada kok Mas, mbak Kinan mentransfer uang untuk membayar perawat ibu. Mbak Kinan bilang itu buat membantu keuangan kita disaat ada ibu, sebagai tambahan katanya. Beliau juga meminta maaf karena telah melimpahkan kewajiban mengurus ibu pada kita," jawab Nita.
"Beneran Dek?" Tanya Arman mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya Mas, ayo kita berangkat..!" Wanita itu menarik lengan suaminya agar bergegas pergi.
***
Nabila dan Riki yang mengetahui jika neneknya sudah kembali dalam.keadaan sakit. Mereka tentu datang untuk menjenguk dan membawa beberapa buah dan juga makanan. Hanya mereka berdua, karena Liana belum pulang dari kampus dan ibu Ani sedang tidak enak badan.
Melihat kedatangan dua cucunya, Maryati hanya tersenyum sinis. "Kalian ternyata masih ingat sama nenek," ucap Maryati.
Nabila sudah merasa sakit hati dan ingin segera pergi, tapi Riki mencegah adiknya itu. "Ini kami bawakan makanan Nek, semoga cepat sembuh ya Nek. Kami pamit pulang, karena nenek Ani sakit dan sendirian dirumah," ucap Riki.
"Memang kalian itu cuma peduli sama Ani aja. Yaudah sana pulang!" Ucap Maryati.
Mereka berdua tidak berani menjawab lagi, mereka pun pamit. Sepanjang jalan Nabila mengeluh dengan sikap neneknya yang tidak pernah berubah. Tapi Riki mencoba memberi pengertian jika mereka harus sabar dan tetap menghormati Maryati.
***
Saat Nita dan Arman sampai di rumah minimalis milik mereka. Terdengar suara keributan, ternyata Maryati mengamuk dan melemparkan gelas yang dibawakan oleh mbak Desi.
"Aduh Neng, mbak kok takut ya…, rasanya mbak gak bisa merawat ibu Maryati lebih lama lagi," keluh mbak Desi.
__ADS_1
"Jangan begitu mbak, saya mohon jangan berhenti bekerja disini..! Saya mohon sebulan saja, sampai saya mengambil cuti," ucap Nita.
Mbak Desi menunduk pasrah, dia juga sebenarnya membutuhkan pekerjaan untuk biaya sekolah anaknya yang akan memasuki sekolah ke jenjang berikutnya.
Sementara Arman sudah ada di dalam kamar ibunya dan mulai bertanya tentang kejadian yang terjadi barusan. "Ibu gak suka si Desi itu Man, bikin teh manis hangat aja rasanya hambar. Malah pahit Man," keluh Maryati.
"Tapi kan ibu bisa bicara baik-baik, tidak perlu melemparkan gelas, apalagi sampai pecah. Bagaimana kalau tangan ibu terluka kena pecahan kacanya?" Ucap Arman.
"Pokoknya ibu gak suka sama dia," jawab Maryati.
"Sudahlah Bu, susah cari perawat yang bisa dipercaya. Nita sudah percaya sama Mbak Desi, tinggal ibu yang harus sabar dalam mengontrol emosi..!" Ucap Arman.
Maryati tak terima dikala anaknya malah membela perawat itu, dia membalikkan badannya dan merebahkan badannya diatas ranjang. Dia berpura-pura tidur untuk menghindari masalah uang dia buat kali ini.
Setelah Nita datang, tentu mbak Desi pamit pulang. Kini Nita menggantikan tugas perawat itu, pekerjaannya lebih ringan karena sebelum pulang, Desi telah memandikan ibu mertuanya. Arman juga tidak mengizinkan istrinya itu bekerja terlalu berat karena sedang hamil.
"Ibu mau ngemil. Bikinin ibu pisang goreng ya..!" Ucap Maryati.
Arman yang mendengar itu, lantas dia menyuruh Nita menemani sang ibu, dia berniat membeli ke tukang gorengan yang ada di seberang jalan sana. Meski awalnya ibu dan anak itu berdebat, tapi pada akhirnya Maryati pun mau jika pisang goreng itu dibeli bukan dibuat sendiri dirumah dengan syarat harus masih panas.
Saat Arman pergi, Maryati mulai menyuruh Nita ini dan itu. Seakan sengaja, dia menyuruh Nita menggeser meja kecil yang Ada di kamarnya kesana kemari tanpa melihat kalau menantunya itu sudah lelah.
"Yaudah disitu aja. Itu sudah pas," ucap Maryati.
Nita diam, dia baru menyadari jika posisi meja itu sama dengan sebelumnya. Lalu untuk apa aku memindahkannya, jika tidak berpindah sama sekali dari posisi awal? Ibu ini ada-ada aja, batin Nita.
__ADS_1
***
Sebulan pun berlalu, mbak Desi begitu senang karena hari ini dia mendapatkan gajinya. Dia juga senang karena terbebas dari pekerjaan yang membebani pikiran. Dia tidak betah bertuankan Maryati yang cerewet dan suka melakukan apapun semaunya.
"Terimakasih ya Neng, mbak pamit," ucap mbak Desi.
Nita mengangguk, hari ini adalah hari pertamanya cuti. Dia ingin menghabiskan hari ini dengan kegiatan merajut baju untuk calon anaknya. Pagi-pagi sekali Arman sudah memandikan ibunya sebelum berangkat kerja. Lelaki itu tidak mau jika Nita harus mengangkat ibunya dari kursi roda ke kamar mandi.
Perhatian Arman membuat Nita merasa bahagia. Di kehamilan yang ketiga ini, suaminya lebih mengerti dirinya, mencari tahu di internet tentang ibu hamil. Arman selalu mengalah jika istrinya itu menginginkan sesuatu. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu.
Nita dan Arman mampir di warung bakso. "Mas, ko punya kamu kelihatannya lebih enak ya. Tukeran yu Mas?" Ucap Nita kala itu.
Arman menatap mangkok bakso milik istrinya itu dengan tatapan ngeri. Banyak saus dan juga warnanya sangat merah karena banyak diberi sambal. Tapi karena tidak tega, Arman pun mengalah.
"Yaudah kalau Adek mau yang ini," ucap Arman sambil tersenyum, padahal dia merasa keberatan sekali. Demi istri dan calon anaknya, dia pun rela memakan semangkuk bakso super pedas itu. Kalau tidak dimakan tentu akan mubazir, jika dibawa pulang… Arman takut kalau Nita malah merasa tidak enak hati padanya.
Sesuap demi sesuap bakso itu masuk ke dalam mulutnya sampai wajah Arman dibanjiri keringat.
"Mas, apa baksonya terlalu pedas?" Tanya Nita.
"Gapapa kok Dek, kan bisa ditambah kecap manis," jawab Arman sambil tersenyum.
Nita sebenarnya tahu kalau suaminya itu memaksakan dirinya, tapi melihat pengorbanan suaminya dia malah senang. Wanita itu mengambil beberapa tisu untuk membersihkan keringat di wajah suaminya.
"Aku bersihin ya Mas? Makasih loh udah mau menghabiskan bakso racikan istrimu ini, hehe…" Nita tersenyum sambil membersihkan wajah suaminya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Hingga teriakan Maryati yang memanggil namanya membuat lamunan indahnya buyar. Wanita itu lekas berdiri, takut jika ibu mertuanya itu memerlukan bantuannya.
Bersambung …