Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Kinan vs Maryati


__ADS_3

Maryati tentu tidak terima dipermalukan seperti itu, "lihat Man, istrimu main nuduh aja. Kelihatan banget dia gak suka sama ibu. Gak ada sopan santunnya," ucap Maryati.


Wanita itu kemudian menatap Kinan karena tak ada jawaban dari Firman. Anaknya tampak diam, mungkin dilema karena bingung harus membela siapa, keduanya wanita yang berharga.


"Firman udah bilang sama ibu bakal cerai sama kamu kalau kamu masih memperlakukan ibu seperti ini, apa kamu mau?" Ancam Maryati.


"Bu…," panggil Firman. Lelaki itu ingin menghentikan pembicaraan yang tak masuk akal ini. Dia tidak pernah berkeinginan menceraikan Kinan.


Tapi Maryati memotong pembicaraan Firman, "iya Man, ibu juga tahu selama ini kamu diperlakukan tidak selayaknya suami. Sering diremehkan Kinan, seharusnya kamu memang meninggalkan wanita ini secepatnya!" 


Kinan diam membeku, dia tidak menyangka jika selama ini Firman menilai dirinya seperti itu. Padahal Kinan hanya tidak mau Firman lupa diri, dia tidak mau jika pada akhirnya Firman memanfaatkan kekayaannya untuk mencari kesenangan dengan wanita lain. Apakah selama ini caraku salah? Batin Kinan.


"Jika itu yang diinginkan Mas Firman, aku akan menerimanya. Aku juga tidak mau jika terus-terusan tidak tenang, karena menghadapi semua tingkah ibu yang keterlaluan," ucap Kinan.


Kinan menatap suaminya dengan mata yang mulai berair, pandangannya kabur karena matanya kini terhalang air mata yang sebisa mungkin ditahannya.


"Aku kecewa padamu Mas," ucap Kinan, kemudian berlalu pergi.


"Kinan tunggu…!" Teriak Firman.


Namun tangan lelaki itu ditahan oleh Maryati, "biarkan saja Man..! Ibu yakin Kinan tidak akan melepaskan kamu. Dia akan berubah lebih menghormatimu agar kamu tetap bersamanya."

__ADS_1


"Tapi Bu, aku tidak mau bercerai. Kenapa ibu malah berkata seperti itu?" Tanya Firman. Rasanya dia ingin marah, tapi sebisa mungkin ditahannya.


"Ini cuma taktik Man, ibu yakin kamu akan mendapatkan keuntungan dari kejadian ini," jawab Maryati.


"Aku tidak menginginkan apapun Bu selain keluargaku yang utuh," ucap Firman. Perlahan dia melepaskan tangan ibunya dan melangkah pergi.


"Jangan jadi anak durhaka Man! Surgamu masih berada dibawah telapak kaki ibu," ancam Maryati.


Berat sekali langkah kaki Firman kali ini, tapi dia ingin mengikuti kata hatinya. Dia memilih pergi meninggalkan ibunya untuk memberikan penjelasan pada istrinya, dia berharap kesalahpahaman ini akan bisa diselesaikan secepatnya.


***


Beberapa jam kemudian, Maryati yang ditinggal sendirian di toko pun kebingungan. Dia ingin pulang dan istirahat, tapi tidak ada yang mengantarnya pulang. Dia yakin kalau saat ini Kinan sudah luluh oleh Firman, dia yakin Kinan akan meminta maaf padanya demi keutuhan keluarganya.


Wanita itu mencari keberadaan Firman, "Man… bayarin taksi Ibu! Salah kamu sendiri tadi ninggalin ibu," ucap Maryati pada anaknya yang kebetulan sedang duduk sendirian.


Lelaki itu tak menjawab, dia pergi keluar untuk membayar taksi. Firman tidak tahu harus memperlakukan ibunya seperti apa, disatu sisi ibunya seperti orang ketiga yang menjadi penghancur rumah tangganya, disisi lain dialah wanita yang telah melahirkannya dan harus dihormati.


"Ngapain ibu balik ke rumah ini? Ini rumahku, dan aku tidak mau ya ibu tinggal disini," ucap Kinan.


Apa-apaan dia? Kenapa dia masih saja sombong? Apakah dia benar-benar rela berpisah dengan Firman? Batin Maryati.

__ADS_1


"Ini kan rumah anakku juga, ada hak dia disini. Kamu gak bisa mengusirku seenaknya, apa kamu mau aku mengadukan ini pada Firman, agar dia mentalak tiga kamu sekalian?" Ancam Maryati.


"Rumah anakmu? Hahaha… rumah ini bukan dari harta gono-gini ya Bu. Ini murni hak ku karena ini pemberian orang tuaku sebelum aku menikah dengan mas Firman," jawab Kinan.


Datanglah Firman, dia kaget karena harus menghadapi dua wanita yang bertengkar lagi. Dia tidak bisa membela dan menyalahkan salah satu dari mereka.


"Mas…," ucap Kinan.


"Man…," ucap Maryati.


Mereka berbicara bersamaan seakan ingin dibela oleh Firman. Tapi lelaki itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Ibu duduklah..! Kinan juga duduk dulu ya..!" Ucap Firman.


Meski dengan sedikit penolakan dan wajah kesal, akhirnya dua wanita itu pun menuruti perintah Firman. Di depannya sudah tersedia es teh manis juga yang telah disediakan oleh Tikah.


"Minumlah…! Siapa tahu dengan begitu, ibu dan Kinan merasa lebih tenang dan bisa berpikir dengan kepala dingin," ucap Firman.


Setelah minum, Firman mulai bicara. "Ibu, aku mohon bersikaplah lebih baik, karena ini ruang Kinan, aku tidak enak. Dan untuk Kinan, berusahalah berdamai dengan ibu, bersikap baik dan anggap ibuku itu juga ibumu…! Berdamailah…!"


"Tidak…," jawaban Kinan dan Maryati bersamaan. Sepertinya sikap keras merekalah yang membuat mereka susah untuk mengalah dan saling memahami satu sama lain.

__ADS_1


"Mas, aku lelah. jika memang kamu lebih memilih ibumu, maka pergilah..!" ucap Kinan kemudian berlalu pergi. sementara Maryati kaget bukan main, dia tidak mungkin tinggal bersama Arman dan Nita dikontrakan kecil.


Bersambung …


__ADS_2