
Nita memilih pergi meninggalkan suaminya, kalau dia terus membalas perkataan Arman… itu hanya akan membuatnya semakin emosi dan bisa saja dia mengatakan hal yang tak perlu diucapkan. Nita kembali ke kamar, membereskan makanan yang berserakan di lantai kamar Maryati.
"Bu… ganti dulu bajunya ya? Kalau gak diganti nanti masuk angin..!" Bujuk Nita pelan pada ibu mertuanya yang kini masih diam seribu bahasa.
Nita berusaha menahan rasa marahnya pada Maryati, karena selalu saja ibunya itu sekaan tidak tahu terimakasih.
Karena tidak ada jawaban, Nita mulai berbicara lagi. "Bu kedepannya jangan buat aku dan mas Arman salah paham lagi. Aku sudah cukup bersabar menghadapi ibu, merawat ibu dengan semampuku. Aku tak pernah melukai ibu meski aku bisa, meski didalam hati ini masih tertoreh luka lama. Apakah ibu tidak ingat perlakuan ibu pada aku dan juga anak-anakku dulu saat ibu masih sehat? Seharusnya ibu bersyukur karena aku mau merawat ibu yang sakit, hanya aku Bu. Kemana anak-anak ibu yang selalu Ibu banggakan? Tidak ada kan? Mereka sama sekali tidak peduli sama ibu. Jadi tolong bersikaplah lebih baik jika masih ingin aku rawat..!"
Bu Maryati tetap diam, tapi dia bisa mendengar semua yang dikatakan Nita. Dia memang mempunyai darah tinggi sehingga mudah marah, dan salahnya lagi, dia malah melampiaskannya pada sang menantu. Bukan pada anaknya yang menjadi biang kemarahannya. Bu Maryati sedang emosi mengingat terakhir kali Dela membawanya pulang secara paksa dari Rumah sakit.
Meski tak ada jawaban, Nita berharap ibu mertuanya itu mengerti. Dengan patuh Bu Maryati melakukan apa yang diperintahkan Nita, membuat proses mengganti baju di malam itu pun cepat selesai. Biasanya akan ada drama merayu terlebih dahulu.
***
Keesokan harinya Arman seperti melupakan kejadian kemarin malam. Dia bersikap biasa saja pada Nita. Sungguh menyebalkan memang, tapi Nita selalu berusaha sabar menghadapi semua orang.
Tok
Tok
Tok
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Coba buka Mah!" Ucap Arman pad Nita.
Saat ini mereka sedang sarapan pagi, Riki dan Nabila pun menghentikan acara makannya, mereka juga ingin tahu siapa yang datang. Terlihat Tante mereka dan sepupunya yang datang, mereka datang dengan membawa koper besar.
"Loh mbak Dela, ada apa pake bawa koper segala?" Tanya Arman.
__ADS_1
"Hiks… hiks… , mas Azis ditahan Man," jawab Dela sambil menangis. Itu membuat Nita dan semua orang yang mendengar merasa kaget bukan main.
"Kok bisa?" Tanya Arman. Pertanyaan itu mewakili pertanyaan semua orang yang sedang penasaran.
Namun Dela malah semakin keras menangis sampai membuat Bu Maryati keluar dari kamarnya dengan susah payah. Bu Maryati berjalan dengan perlahan, Arman melihat sang ibu yang ternyata bisa berjalan dia diam fokus memperhatikan sang ibu.
Nita yang melihat itu, disatu sisi dia bersyukur karena suaminya bisa percaya kata-katanya dulu dengan keadaan ini. Nita berlari menghampiri ibu mertuanya dan membantunya berjalan mendekat pada Dela anak perempuannya, meski ibu mertuanya sering melukai hatinya, tapi dia tidak tega melihat ibu mertuanya berjalan kesusahan disaat sedih seperti ini.
Ya… hati seorang ibu pasti tidak akan rela melihat anaknya sedih. Pasti ikut menangis disaat anaknya menangis, Bu Maryati berjalan begitu cepat saat dipegang Nita, mungkin jika sehat dia sudah berlari kencang memeluk anaknya.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bu Maryati dengan suara pelan, tapi masih bisa terdengar.
Terlihat Bu Maryati mengelus rambut anak perempuannya. Nita begitu sedih melihat pemandangan ini, disaat anaknya butuh maka ibunya akan selalu ada. Tapi disaat ibunya butuh, anaknya acuh tak peduli.
Dela memeluk ibunya erat, perasaan Bu Maryati kini bercampur aduk. Adanya musibah ini memang membuat Dela sedih, tapi mengantarkan anak perempuannya itu lebih dekat dengannya, bahkan bisa memeluk erat seperti itu.
***
Ternyata suami Dela ditangkap atas kasus penyelewengan dana. Membuat semua harta benda juga terseret dan disita pihak bank.
Dela menangis tidak berhenti, tentu dia tidak mau hidup serba kekurangan karena selama ini dia hidup cukup nyaman dengan semua fasilitas yang ada. Sementara anak lelakinya yang bernama Fadli hanya duduk sambil melamun. Lelaki itu memikirkan pekerjaannya di luar kota, dia tidak bisa keluar bekerja disaat seperti ini.
Untuk sementara, Arman mengizinkan Dela dan Fadli tinggal dirumahnya. Tentu Arman merasa kasihan dengan kakaknya itu, dia akan berusaha melindungi keluarganya.
Saat Nita pulang, dia sangat terkejut dengan keputusan Arman itu. Bukan apa-apa, dia tidak mau jika ini akan lebih membuatnya tertekan.
"Gapapa kan Dek kalau Mbak Dela tinggal disini untu sementara waktu? Mbak Dela bisa bantuin jaga ibu juga. Kamu jadi bisa lebih tenang bekerja," bujuk Arman.
__ADS_1
Memangnya mbak Dela mau? Aku tidak yakin. Pasti pada akhirnya akulah yang melakukan semuanya, batin Nita.
"Apa kamu yakin Mas kalau Mbak Dela mau? Selama ini kan…," jawab Nita.
"Iya aku tahu, tapi berilah kesempatan untuk mbak Dela..! Ibu juga pasti senang kalau dekat dengan anaknya. Bukannya selama ini kamu tahu kalau ibu merindukan anak-anaknya yang diluar kota dan tak kunjung pulang atau menjenguk beliau?" Ucap Arman.
Nita mengangguk setuju, dia tidak bisa mengabaikan rasa iba didalam hatinya. Jika dia di posisi Bu Maryati, dia pun akan senang saat anak kandungnya datang dan mengurusnya.
"Lalu Fadli?" Tanya Nita.
"Dia akan kembali besok, dia bilang sayang pekerjaan disana sudah nyaman. Dia akan mengirim uang setiap gajian untuk mbak Dela," jawab Arman.
"Oh, ya udah kalau gitu. Gapapa kok kak Dela tinggal disini," jawab Nita.
"Makasih Dek," ucap Arman sambil tersenyum.
Ya, mau gimana lagi. Aku tidak punya pilihan. Semoga saja kedepannya tidak akan ada masalah, batin Nita.
Dua hari berlalu sikap Dela baik, tidak ada yang aneh. Itu membuat Nita merasa lega dan menyingkirkan pikiran negatifnya. Hingga dimana Arman izin lembur dan pulang malam, Nita dibuat terkejut saat pulang kerja.
Hatinya benar-benar tak bisa menerima ini. Dia emosi, tapi berusaha ditahannya. "Sabar Nita, sabar!" Gumamnya pelan sambil mengelus dada.
Tapi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, bisa-bisa malah keenakan, batin Nita.
Dia bergegas mencari Dela yang ada di kamar tamu. Tentu saja Dela tidak mau jika sekamar dengan ibunya, untung saja masih ada satu kamar kosong. Nita berjalan dengan nafas yang memburu.
Bersambung…
__ADS_1