
Namun betapa kagetnya Arman saat sampai di rumah. Lelaki itu melihat sang ibu yang terduduk lemas di sofa. Wajahnya juga sedikit pucat, wanita itu memanggil nama anaknya dengan suara sangat pelan.
"Man..."
"Ibu, ibu kenapa?" Tanya Arman.
"Ibu sakit perut Man, bolak-balik kamar mandi terus," keluh Maryati.
"Apa ibu salah makan? Kita periksa ke klinik ya?" Tanya Arman.
"Ibu juga gak tahu, ibu mau dibelikan obat aja. Ibu gak sanggup ke klinik, lah baru 10 menit saja ibu pengen ke kamar mandi," jawab Maryati.
"Yaudah, Arman coba ke apotek aja ya Bu. Ibu tunggu di rumah dulu sama Nita..!" Ucap Arman.
Malam kemarin memang Maryati hampir menghabiskan semua makanan yang dibawa Nita dari pesta Liana. Ketika pagi datang, wanita itu menghabiskan sisanya lagi, sementara Arman dan Nita yang terburu-buru ke klinik, mereka hanya makan roti dan teh manis hangat.
"Mas…," panggil Nita pelan.
Arman pun menoleh, "iya Dek, ada apa?" Tanya Arman.
"Emm…, gak jadi Mas," jawab Nita. Padahal dia ingin minta diantar ke rumah ibunya saja agar lebih nyaman, tapi dia berubah pikiran dan akan menunggu sampai Arman kembali dari apotek.
Setelah kepergian Arman, Maryati yang lemas masih saja bisa ngomel gak jelas pada menantunya yang lagi sakit itu. "Ibu cuma makan makanan dari kamu semalam, paginya pun sama. Apa kamu menaruh sesuatu di makanan ibu Nita?" Tanya Maryati.
"Gak Bu. Aku hanya menghangatkannya saja. Mungkin karena terlalu banyak Bu, atau karena masakkannya yang pedas," jawab Nita.
Maryati tampak berpikir sejenak, dia mengakui jika makanan yang dimakannya semalam sedikit pedas. Tak berselang lama Arman pun datang karena apotek memang tidak terlalu jauh dari kontrakannya. Nita pun bergegas mengatakan jika dia ingin tinggal sementara di rumah ibunya saat mereka sedang berada di kamar.
"Kamu yakin Dek?" Tanya Arman.
__ADS_1
"Iya Mas, lagian kasihan kamu pasti capek dan kewalahan kalau mengurus aku dan ibu yang sakit bersamaan," jawab Nita.
"Kamu bener Dek, tapi apa kamu gak keberatan kalau Mas malah tidak bisa menjaga kamu saat sakit?" Tanya Arman sambil menatap ke arah istrinya.
"Gapapa Mas. Aku mengerti kok," jawab Nita sambil tersenyum.
Nita pun diantar oleh suaminya menuju rumah Bu Ani yang tak jauh. Setelah kembali Maryati mengomel lagi. "istri kamu itu manaja benget sih Man, sakit begitu aja pengen ke rumah ibunya. Dia gak menghargai keberadaan kamu disini, sepertinya istrimu memang ingin hidup enak di rumah ibunya yang tak seberapa itu," ucap Maryati.
"Bukan begitu Bu, justru aku yang kerepotan jika menjaga ibu dan Nita sekaligus. Nita benar-benar sakit, emm... ibu udah minum obatnya?" Arman mencoba mengalihkan pembicaraan ibunya yang pasti tidak akan ada habisnya itu.
***
Akhirnya Nita senang saat di rumah ibunya semua orang begitu peduli. Nabila dan Riki pun memanjakan ibunya. Bu Ani tersenyum senang melihat cucu-cucunya yang begitu menyayangi sang ibu.
"Iya sayang," jawab Nita.
"Aku juga mau mikirin kaki Mamah," ucap Riki.
"Yaudah Riki yang kanan, dan Nabila kaki ibu yang kiri. Kalian kan baru pulang sekolah, pasti capek. Makan dan istirahat dulu, nanti baru pijitin ibu lagi..!" jawab Nita.
Meski mereka sudah besar tapi tetap saja selalu ada pertengkaran kecil. Masalah sepele pun bisa membuat mereka berdebat, tapi Nita tahu kalau mereka saling menyayangi satu sama lain. Mereka bertengkar hanya seperti ingin meramaikan suasana saja.
Titin datang dengan bubur panas yang baru dia buat.
"Ini buburnya, masih panas jadi ditunggu sebentar lagi aja Neng!" Ucap Titin.
Titin memang lebih tua tiga tahun dari Nita, apalagi Titin yang hidup di kampung dan suka bertani membuat wajahnya terlihat lebih tua.
__ADS_1
"Makasih Bi," ucap Nita.
Titin mengangguk pelan, ada rasa penasaran yang amat besar membuat Titin berani bertanya pada Nita sekarang, "Neng, bagaimana kabar ibu Maryati? Sehat?"
Dahi Nita sedikit berkerut, merasa sedikit aneh dengan pertanyaan Titin. "Beliau sakit diare Bi, makanya aku menginap disini karena kasihan Mas Arman jika harus mengurus dua orang yang sakit bersamaan," jawab Nita.
Diare? Mau makanan gratisan sih, batin Titin.
"Oh, mending disini Neng. Emang Neng betah tinggal sama Bu Maryati yang begitu?" Tanya Titin
"Mau bagaimanapun beliau tetap ibu mertuaku yang harus aku anggap ibu sendiri Bi," jawab Nita.
"Iya Neng," jawab Titin. Maka dari itu, biar aku aja yang membuat pembalasan pada ibu tua yang sombong itu, aku tidak mau tinggal diam saat majikanku diperlakukan seenaknya, batin Titin.
Titin bersiul dan bernyanyi sepanjang pekerjaannya, sepertinya hari ini dia senang sekali.
***
Sementara di kontrakan, Arman sedikit kewalahan merawat ibunya yang masih bolak-balik ke kamar mandi. Belum lagi saat ibunya itu tidak tahan dan akan mengotori celananya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ada tamu yang mengetuk pintu, Arman bergegas menuju pintu depan. Saat membuka pintu, dia kaget saat melihat tamu yang datang.
Bersambung….
__ADS_1