
Sore itu Arman pulang, dia membawa martabak manis untuk dimakan bersama. Tanpa diminta, Arman sengaja membawakan oleh-oleh untuk sang istri, apalagi sekarang ada ibunya yang memang suka ngemil bahkan di malam hari.
"Mas… makasih ya martabaknya. Tau aja kalau calon dedek bayi mau ini, apa kamu dibisikin calon anak kita?" Ucap Nita.
"Sama-sama Dek, kamu ini ada-ada aja. Mas pengen beli aja pas lihat ada tukang martabak uang baru buka, kecium wanginya Dek, hehe…," jawab Arman sambil tersenyum.
Nita merasa ada ikatan batin diantara mereka, setelah perubahan Arman. Lelaki itu lebih peka padanya, teringat dulu saat Nita protes karena hanya ibunya saja yang dibelikan makanan. Tapi kini wanita itu tidak lagi merasakan cemburu, dia pun lebih menikmati hari-harinya.
Alhamdulillah, terimakasih atas rezeki di hari ini ya Rabb… batin Nita.
"Habisin dong Dek..!" Ucap Arman.
"Kenyang Mas, buat besok pagi aja. Kan enak kalau sambil ngopi, hehe…" Nita bergegas menyimpan martabak itu ke dalam lemari es, berniat akan menghangatkannya besok pagi.
Sementara satu kotak lagi, dia letakkan di kamar ibunya, tak lupa dia menaruhnya dalam kotak makan agar tidak ada semut yang mengerumuni. Itu akan memudahkan ibu mertuanya saat lapar ditengah malam, minuman pun sudah disediakan di dekat ranjang agar tidak perlu meminta bantuan.
Alarm terdengar begitu nyaring, Nita membuka matanya perlahan. Terdengar suara adzan berkumandang, dia bergegas mandi dan berwudhu.
"Aduh, aku lupa membangunkan Mas Arman," ucap Nita saat melihat suaminya masih berselimut tebal.
__ADS_1
"Mas, bangun…!" Ucap Nita sambil memeluk suaminya itu, dia malah ikut masuk ke dalam selimut tebal. Tapi rasa hangat pelukan sang istri membuat Arman semakin enggan untuk beranjak. Dia malah berbalik dan memeluk erat tubuh istrinya dari arah depan.
Nita yang tak kehabisan akal, dia berbisik di telinga sang suami, "Mas, sebentar lagi duha loh… matahari sudah mau keluar. Nanti kesiangan lagi kerjanya."
Lelaki itu langsung duduk, melihat sekitar kamar yang masih diterangi lampu. Gorden yang masih tertutup rapat, dia bangkit dan mulai membuka kain itu agar ada sedikit celah untuk melihat suasana diluar sana.
Dia berjalan mendekati meja rias istrinya, diambil lah benda pipih itu. Melihat jika alarm nya saja belum berbunyi, lalu dia menatap ke arah Nita yang kini sedang bersenandung sambil menahan tawa.
Arman berjalan cepat lalu memeluk istrinya yang sedang berdiri karena berniat membereskan tempat tidur. "Kamu ngerjain Mas ya? Ini masih jam setengah 5 Dek," protes Arman. Dia mengecup kening istrinya itu sebagai tanda terimakasih karena telah membangunkannya.
"Mas belum gosok gigi ih," protes Nita. Dia seolah membersihkan jidatnya itu dengan mengusapnya berkali-kali.
"Dek, ciuman suami itu berpahala loh. Sentuhan kecil saja bisa berpahala. Jangan dihapus Dek, nanti pahalanya hilang loh..!" Lelaki itu berlalu pergi menuju kamar mandi dengan tawa yang tertahan.
Pagi ini Maryati masih tertidur lelap, Nita sudah mencoba membangunkan mertuanya untuk shalat subuh tapi sepertinya Maryati tertidur lagi. Shalat itu kewajiban seorang muslim, bahkan saat seseorang dalam keadaan sakit. shalat itu bisa dilakukan hanya dengan mengedipkan mata jika memang keadaan tidak memungkinkan saking wajibnya.
"Dek, ini kopi buat Mas?" Tanya Arman.
"Iya Mas, kalau aku sih teh manis saja. Biar tambah manis," celetuk Nita.
__ADS_1
"Hem, iya nanti Mas jilatin kalau Adek sudah semanis gulali, hehe…," jawab Arman.
Seketika Nita menoleh, dia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Pagi itu penuh canda dan tawa, membuat Arman rasanya masih betah ada di dalam rumah. Dia bergegas pergi saat istrinya sudah menyiapkan semua keperluannya diatas sofa.
"Hati-hati ya Mas kerjanya. Bawa motor jangan ngebut-ngebut, Adek belum siap jadi janda jadi jangan aneh-aneh..!," celetuk Nita.
Arman menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa selera humor istrinya meningkat setiap harinya. Sudah tidak ada keluhan lagi yang dibicarakan istrinya itu.
Kenapa tidak dari dulu aku begini? Aku senang jika istriku bahagia setiap hari, itu menjadi penyemangatku untuk bekerja dan kembali pulang, batin Arman.
Karena Maryati ketiduran saat subuh, membuat Nita kini hanya bisa membersihkan tubuh mertuanya dengan lap basah. Dia tidak mungkin bisa membawa ibunya sampai ke kamar mandi dalam keadaan berbadan dua.
"Nit, Ibu gak bisa pakai pampers. Gak betah," protes Maryati.
"Tapi Bu, Nita gak bisa membawa Ibu bolak-balik ke kamar mandi. Ibu sabar dulu ya..! Dibiasain dulu Bu..! Kalau memang tetap tidak bisa… sebaiknya Nita mempekerjakan perawat lagi Bu," jawab Nita.
"Sebaiknya begitu, dan pakai uang kamu. Uang kiriman dari Kinan yang 3 juta kamu kasih ke ibu secepatnya!" Ucap Maryati.
"Baik Bu, nanti sore akan Nita beritahu Mas Arman supaya mampir dulu ke ATM," jawab Nita.
__ADS_1
"Oh iya, Ibu juga mau terapi. Ibu mau segera sembuh," ucap Maryati.
Bersambung …