
Pagi itu Nita bekerja seperti biasanya. Saat sedang makan siang disekolah, dia tak berniat untuk pulang melihat keadaan ibu mertuanya. "Sekarang kan udah ada mbak Dela di rumah, tentu ada yang nemenin ibu. Aku sepertinya gak perlu mengecek lagi," gumam Nita.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel miliknya, ternyata adiknya (Liana) yang menelpon. Dia berpikir itu telepon dari kakak iparnya yang kerepotan mengurus ibu mertua.
"Assalamu'alaikum, ada apa Dek?" Tanya Nita.
"Ini Teh, ada hal penting yang perlu dibicarakan. Ibu dan aku menunggu Teteh datang ke rumah, karena ini harus dibicarakan serius dan secara langsung," jawab Liana.
"Oh begitu, iya nanti Teteh usahain pulang dan gak bisa nentuin dengan pasti juga kapan bisanya," jawab Nita.
"Iya Teh gapapa," jawab Liana.
Panggilan itu berakhir, tapi Nita malah dibuat penasaran dengan apa yang terjadi. Dia khawatir jika kondisi ibunya semakin parah, tapi Liana enggan mengatakan apapun dan hanya ingin berbicara langsung.
Nita sepertinya akan izin pergi pada suaminya, meski pasti sulit karena baru saja awal bulan dia pergi ke kampung halamannya. Tapi karena ini begitu penting, maka Nita akan mengusahakannya.
***
Karena banyak pekerjaan dan Nita mengambil jadwal mengajar tambahan hari ini. Membuatnya kini pulang terlambat, hari bahkan sudah sore.
Saat Nita pulang, di depan sudah ada Arman yang menunggunya. Tapi wajahnya tidak tersenyum menyambut kedatangan sang istri, melainkan ada tatapan yang membuat Nita tak enak hati sekarang.
"Baru pulang Dek?" Tanya Arman.
"Iya Mas, kan hari ini ada les tambahan buat anak-anak," jawab Nita.
"Apa kamu tadi gak nengokin ibu juga pas istirahat siang?" Tanya Arman lagi.
"Gak Mas, disini kan udah ada mbak Dela, aku gak perlu khawatir," jawab Nita.
"Mbak Dela bilang ibu itu mau masakan kamu, ibu gak mau makan sama sekali. Lihatlah ibu sampai lemas begitu, cepat buat makanan kasihan ibu!" Ucap Arman.
__ADS_1
"Kasihan? Kamu merasa kasihan sama ibu dan mbak mu. Sementara aku yang lelah bekerja kamu langsung suruh masak hah? Aku juga sama lelah, bukannya mas juga kerja dan tahu bagaimana rasanya lelah ini? Harusnya kamu bisa memposisikan aku sebagai kamu. Kamu juga gak pernah bantuin pekerjaan rumah, memangnya aku robot apa? Mbak Dela yang jelas-jelas numpang dan gak punya kerjaan malah kamu manjain," jawab Nita emosi. Bukannya disuruh minum dulu, ini malah langsung dimarahi, tentu saja Nita emosi.
"Jadi kamu gak mau Dek? Itu kan tugas kamu bukan tugas aku," jawab Arman.
"Lalu mencari nafkah itu tugas siapa, kamu kan? Jadi kamu mau hitung-hitungan begitu?," jawab Nita gak mau kalah.
"Itu kan kamu yang mau buat biayain ibu kamu di kampung," jawab Arman.
"Tapi tetap saja uangku dipakai untuk nombokin uang nafkah dari kamu yang kurang. Harusnya kamu bersyukur Mas, bukan menuntut aku terus menerus!" Jawab Nita.
Nita pergi ke kamarnya, membereskan baju-bajunya ke dalam tas besar. Nita tak bisa menahan tangisannya lagi, kali ini dia benar-benar lelah menghadapi manusia egois berbentuk suaminya itu.
Nita menghampiri anak-anaknya dulu untuk berpamitan. "Riki, Nabila … maafin Mamah ya, Mamah cuma mau menenangkan diri sebentar. Mau ke rumah nenek kalian. Jaga diri baik-baik ya, sekolah yang rajin..!" Ucap Nita.
"Nabila mau ikut Mah, hiks ... " jawab Nabila sambil menangis.
Nita menunduk, dia tidak bisa membuat Nabila bolos sekolah berhari-hari. Keputusan ini memang sulit, tapi dia benar-benar ingin membuat suaminya mengerti arti dirinya. Tidak meremehkannya dan menghargai setiap kerja kerasnya.
"Iya, Mamah gak lama kok," jawab Nita. Aku yakin mas Arman gak akan kuat berlama-lama mengurus semuanya sendirian, batin Nita.
Nabila akhirnya bisa dibujuk, meski dia masih saja menangis. Nita pergi, Arman yang dengan jelas melihat istrinya pergi pun membiarkan wanita itu.
"Man, kenapa dibiarkan pergi. Lalu siapa yang mengurus ibu?" Tanya Dela.
"Kan ada Mbak disini. Hausnya mbak bisa merawat ibu lebih baik, aku lebih percaya sama Mbak," jawab Arman.
Menyebalkan, cuma numpang tapi dikasih kerjaan yang banyak, batin Dela.
***
Selama perjalanan menuju kampung halaman, Nita memikirkan kedua anak-anaknya. Meski mereka sudah besar, tetap saja tidak tega membiarkan mereka tinggal bersama keluarga yang toxic. Tapi Nita merasa kalau Arman tidak akan memaksa kedua anaknya bekerja keras dirumah selama mereka masih pelajar.
__ADS_1
Belum lagi dia akan meninggalkan anak-anak didiknya selama waktu yang tidak bisa ditentukan. Nita mengambil cuti tahunan kali ini, dia akan menghabiskannya untuk masalah ini karena dia ingin benar-benar menjernihkan pikirannya.
Nita tiba saat pagi datang, membuat adiknya curiga.
"Loh Teh, apa teteh pergi saat malam hari dari kota?" Tanya Liana.
"Hmm… iya, kebetulan Teteh ambil cuti dan penasaran sama apa yang ingin dibicarakan, hehe…," jawab Nita.
"Sepertinya ada yang disembunyikan," ucap Liana.
"Gak ada Dek, ibu mana?" Tanya Nita.
Wanita itu pun masuk dan melihat sang ibu yang sedang sarapan dengan sayur sop tanpa daging atau bakso. Nita mendadak merasa sedih, menu makan yang sederhana sekali.
Bu Ani begitu senang dan menyambut Nita dengan wajah berseri. Meski Bu Ani juga melemparkan pertanyaan sama seperti Liana, tapi ibu itu merasa tak enak hati dan ada masalah besar dengan putri sulungnya.
"Gapapa kalau kamu belum ingin cerita, ibu berharap rumah tangga kamu baik-baik saja," ucap Bu Ani.
"Iya Bu. Oh iya… kemarin Liana menelpon aku. Ada pembahasan serius apa?" Tanya Nita.
"Oh itu, iya … beberapa hari yang lalu ada yang datang kesini. Ternyata paman dan bibimu meninggal dunia dalam kecelakaan. Karena mereka tidak memiliki anak kandung, pamanmu ternyata membuat wasiat tentang harta warisannya. Yang menjadi pertimbangan adalah, disana juga tertulis wasiat perjodohan," ucap Bu Ani.
"Perjodohan, maksudnya bagaimana Bu?" Tanya Ani tidak mengerti.
"Iya, adikmu akan dijodohkan dengan anak angkat pamanmu, bisa saja Liana menolak. Tapi sepertinya Liana juga butuh biaya untuk kuliahnya, dan bisa mengambil uang warisan itu beserta syarat-syaratnya," jawab Bu Ani.
Nita sontak memalingkan wajahnya untuk melihat kearah adik satu-satunya itu. Entah ini kabar baik atau buruk, tapi Nita hanya berharap adiknya itu tidak salah membuat keputusan. Dia mau adiknya bahagia, perjodohan tentu akan menyatukan dua insan yang sama sekali tidak saling mengenal. Mengingat rumah tangganya saja yang didasari cinta sebelumnya tapi kini buktinya Nita tetap saja merasa tidak bahagia.
Terlihat wajah gadis itu tersenyum, senyum kecil yang dipaksakan. Liana kemudian duduk bergabung bersama mereka karena keputusan ini akan diambil oleh Liana.
Bersambung …
__ADS_1