
Memang benar ibu ketahuan beberapa kali berpura-pura. Tidak bisa berjalan nyatanya bisa meski pelan, tidak mau makan nyatanya dimakan kok sampai habis saat malam tiba. Entah apa yang diinginkan ibu, aku pun tak mengerti, apa ibu ingin aku selalu bertengkar dengan Nita? Batin Arman.
"Saya bicara begini karena tidak terima ya anak saya kamu fitnah segala. Pakai bilang kalau kerjaan anak saya gak bener, orang-orang pada dihasut dan membuat anak saya semakin menderita. Dia itu ditinggal suaminya selingkuh makanya dia bekerja keras untuk anaknya dan kamu malah memfitnah dia," ucap Bu Fatma.
"Oh masalah itu, itu kan memang benar adanya saya gak bohong," jawab Arman.
"Kalau Rini bohong, lalu apa Nuni akan bohong juga? Kenapa kemarin dia gak sanggup kerja ngurusin ibu kamu? Yang jelas mereka semua kewalahan ngurus ibu kamu yang udah sakit, masih aja sok kaya dulu. Emang wataknya gak bisa diubah," ucap Bu Fatma.
Terlihat Bu Maryati mulai terpancing, dia mengangkat tongkatnya yang biasa dipakai untuk berjalan untuk memeluk Fatma. "Pergi!" Teriaknya.
"Ih takut," ucap Bu Fatma sambil berekspresi pura-pura takut untuk mengejek Bu Maryati.
"Liat kan, ibu kamu tuh emang pemarah. Hati-hati kalau darting bisa kena stroke berat, karena pura-pura lumpuh eh jadi lumpuh beneran lagi…," ucap Bu Fatma lalu membalikkan badannya, dia bahkan tertawa kencang yang jelas terdengar oleh Arman dan Maryati.
"Ibu bisa berdiri tanpa tongkat?" Tanya Arman.
"Oh ini, sepertinya kaki ibu semakin membaik dan sekarang bisa berjalan seperti biasanya lagi," jawab Maryati.
Dia masuk ke dalam rumah dengan perlahan tanpa bantuan Arman, karena anak lelakinya itu masih mematung tak percaya. Jadi selama ini ibu berbohong? Padahal aku dan Nita begitu kerepotan mengurus ibu, kalau begini kan ibu bisa ditinggal tanpa perlu perawat dan kami bisa bekerja dengan tenang, batin Arman.
Rasanya ingin Arman memarahi ibunya, apalagi pertengkarannya dengan Nita juga ada sangkut pautnya dengan Maryati. Tapi mulut Arman tak tega jika mengeluarkan kata-kata kasar yang tak pantas, dia takut menjadi anak durhaka.
Ya… menurutnya hanya ada anak durhaka tapi tidak ada suami durhaka. Padahal dia sudah termasuk dzolim pada istrinya Nita. Arman baru menyadarinya, itupun hanya sebagian kecil dari kesalahannya selama ini.
jauh sebelum ini Nita sudah berkali-kali tergores hatinya oleh ibu mertuanya. Tapi Arman selalu membela ibunya dan hanya berkata "sabar dek, namanya juga orang tua, kita aja yang lebih muda yang ngalah." Padahal Nabila juga terluka hatinya, membuat dia benci pada neneknya sampai sekarang dan Arman tidak tahu luka anak gadisnya itu.
Terkadang juga Arman malah memarahi Nita, jika dia mengadukan tingkah ibunya yang keterlaluan. Arman lebih percaya pada ibunya.
***
__ADS_1
Malam itu Arman menemui ibunya dikamar karena ada pembahasan penting.
"Bu, ibu kan sudah bisa berjalan lagi. Jadi Arman mohon jika ibu mau makan, ada makanan dimeja makan. Jika mau ke air, ibu bisa langsung ke kamar mandi sendiri kalau Arman masih di pabrik. Ibu bisa kan?" Tanya Arman pelan.
"Hmm… bisa, mentang-mentang ibumu ini sudah bisa berjalan, lalu kamu membiarkan ibu melakukan semuanya begitu?" Jawab Bu Maryati dengan ketus.
"Bukan begitu Bu, kan udah ada makanan. Maksudnya biar gak berantakan kalau makan dikamar, ibu juga bisa ke kamar mandi sendiri agar aku gak harus membersihkan bekas pipis ibu di kamar. Kan enak Bu, lagian ibu memang betah dikamar pada bau?" Tanya Arman.
"Ibu juga gak betah Man, emang ibu udah gak bisa mengontrol keinginan buang air. Jadi susah meski udah bisa jalan juga," jawab Maryati semakin kesal.
"Kalau begitu, pakai diapers saja ya Bu?" Tanya Arman.
"Gak, ibu bukan bayi," jawab Bu Maryati, dia kemudian memilih membaringkan badannya diranjang tanpa menoleh lagi.
Ibu kekanak-kanakkan sekali, apa ini yang namanya balik lagi ke mode anak-anak saat usia lanjut usia? Batin Arman.
Arman pun menyerah, dia kembali ke kamarnya yang tampak sepi, tidak ada istrinya disana. Maafkan Mas ya dek, pulanglah …! Batin Arman.
***
"Nita, kamu pulang saja Nak..! Kasihan Riki sama Nabila," ucap Bu Ani.
"Iya Bu, Nita pasti pulang. Nita mau hubungi anak-anak dulu ya Bu?" Ucap Nita. Ibunya mengangguk, Nita pun beranjak pergi menuju kamarnya.
Nita lupa kalau dia meninggalkan ponselnya dirumah karena panik. Saat dilihat, ternyata mati karena kehabisan batre. Dia dengan segera mengisi daya ponselnya, dia ingin menanyakan kabar sang anak. Riki yang sudah besar memang sudah diberikan fasilitas ponsel pintar.
"Aduh, daya ponselnya harus ditunggu sampai penuh lagi," gumam Nita pelan.
"Kenapa teh, mau menelpon Riki? Pake ponsel aku aja teh," ucap Liana.
__ADS_1
"Ah iya, aku baru kepikiran. Teteh pinjam sebentar ya?" Tanya Nita.
Liana mengangguk pelan, Nita langsung menelpon Riki yang kemungkinan masih belajar malam. Anak lelakinya akan belajar sebelum tidur, Riki bilang pelajaran yang dibaca sebelum tidur akan mudah diingat.
"Mah…, kapan pulang? Kenapa ponsel Mamah gak aktif?" Tanya Riki. Dia sepertinya baru menyadari juga kalau di ponselnya ada nomor Tante mudanya. Riki sudah menunggu lama agar bisa bicara dengan ibunya.
"Riki, maafin Mamah… secepatnya Mamah akan pulang, nenek disini masih sakit. Oh iya bagaimana keadaan rumah?" Tanya Nita.
Riki sebenarnya ingin menceritakan kekacauan di rumah, tapi dia mengurungkan niatnya karena takut ibunya khawatir. "Gak masalah Mah, aku dan Nabila bisa kok. Mamah jagain nenek aja dulu disana..!"
"Hmm… syukurlah, kamu gak bohong kan?" Tanya Nita. Wanita ini padahal berharap ada kekacauan di rumahnya, berharap suaminya itu sadar kalau peran dia sebagai istri itu sangat penting dan seharusnya Arman menghargainya juga.
"Beneran Mah, kami baik-baik saja kok. Titip salam buat nenek ya Mah..!" Jawab Riki.
"Iya Nak, nanti Mamah sampaikan," jawab Nita.
***
Saat pagi datang, Arman sudah memandikan ibunya, ibunya itu bisa mandi sendiri, tapi meminta Arman seperti biasa memandikannya. Arman sempat mengeluh, tapi hari ini pekerjaan Arman lebih ringan karena ibunya tak perlu digendong ke kamar mandi. Arman yang sudah tahu ibunya bisa berjalan, membuat Maryati tidak bisa berpura-pura lagi di hadapan anak lelakinya itu, meski masih saja manja.
Saat mencuci tangan di wastafel, terdengar suara-suara bising yang seperti sengaja dilakukan oleh Maryati. Ya… dia ingin menunjukan kalau dia kesal dengan sikap Arman.
"Ada apa Bu, Ibu mau ambil apa? biar aku ambilkan ya?" Tanya Arman.
"Ibu mau ambil gula, ibu mau bikin teh manis hangat," ucapnya.
"Lagi Bu? Yaudah ibu tunggu aja dimeja makan. Arman buatkan lagi sekarang," jawab Arman.
Lelaki itu memang tahu ibunya sudah lebih baik, tapi dia tetap harus bisa melayani ibunya. Rasa kesal ditepisnya, dia akan berusaha mendamaikan Nita dan ibunya. Dia tidak bisa memilih diantara keduanya, maka membuat mereka akur itu adalah hal yang wajib dilakukan.
__ADS_1
Sepertinya Nita selalu bersikap baik dan sabar, berarti aku harus memberikan pengertian pada ibu. Semoga ibu mau menerima Nita dengan baik dan memperlakukan Nita seperti anaknya sendiri, batin Arman.
Bersambung….