Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)

Mengurus Mertua Yang Pandai Berakting (Berusaha Ikhlas)
Maryati Cemas


__ADS_3

Nisa datang dengan semua jus yang dipesan teman-temannya. Ada banyak jenis jus, ada rasa jambu, alpukat, sirsak, mangga, strawbery dan jeruk.


"Ini Bu jusnya…," ucap Nisa sambil memberikan jus jeruk itu dengan hati-hati. Memang hanya ada satu rasa jeruk dan itu jelas punya Maryati.


"Hmm, iya. Harusnya kamu bersyukur, karena gara-gara saya jadi kan kamu dapet jus gratisan dari anak saya," sindir Maryati.


"Iya Bu," jawab Nisa dengan malas.


Bukannya bilang makasih, eh malah nyindir gitu. Emang gak salah aku tadi pesen jus jeruknya yang asem, hehe … batin Nisa.


Maryati menyemburkan jus itu, sementara Nisa dan Tifa mencoba menahan tawa mereka. Kedua gadis itu pun membalikan badan dan berpura-pura tidak menyaksikan kejadian lucu itu.


Brak!


"Eh copot, eh copot…," ucap Nisa. Gadis itu benar-benar kaget saat mendengar meja kasir digebrak oleh seseorang.


"Copot, copot. Ini kenapa jusnya asem banget. Kamu sengaja ya? Apa sudah bosan kerja disini?" Teriak Maryati.


Nisa menoleh dengan perlahan, dia sudah tahu siapa yang marah dengan mendengar suaranya saja. Apalagi yang dibahas adalah jus asem, eh jus jeruk.


"Maaf Bu, saya kan gak bikin. Saya cuma beliin aja, lagian jeruk kan gak semuanya manis. Pasti ada yang asem juga kan Bu?" Jawab Nisa.


"Kamu beliin saya jus lagi, tapi harus jeruk yang manis!" Ucap Maryati.


"Maaf Bu, saya harus mengerjakan pekerjaan saya menghitung stok bahan yang baru datang itu," ucap Nisa sambil menunjuk ke arah depan.


Maryati menatap Tifa, gadis itu pun langsung berbicara tanpa ditanya. "Saya harus selalu ada dimeja kasir Bu. Memangnya ibu bisa menggunakan komputer ini dan menggantikan saya?"


"Kalian ini sama aja, besok akan aku buat kalian berdua dipecat," ancam Maryati berlalu pergi.

__ADS_1


Pada akhirnya, Firman lah yang membeli jus lagi sekalian dengan makanannya. Lelaki itu juga heran dengan ibunya yang hobi makan-makanan yang baru dan nge-hits. Hingga akhirnya dia paham kalau ibunya itu bisa memainkan ponsel pintarnya.


"Nenek-neenk sekarang memang gaul, bahkan lebih gaul dariku. Aku saja baru tahu ada makanan begini," gumam Firman.


***


Sementara itu di kontrakan sederhana, Nita sedang memasak dengan dibantu Arman. Sesekali suaminya itu akan memeluk Nita dari arah belakang.


"Mas, ini deket kompor loh. Bahaya kalau tahan kamu kena wajan," keluh Nita. Wanita itu tidak nyaman dipeluk saat memasak.


Sejak tidak ada Maryati, mereka seperti mempunyai kebebasan untuk mengekspresikan rasa sayang. Tidak malu, karena hanya ada mereka berdua didalam. Anak-anak mereka lebih sering diruang Bu Ani sang nenek.


"Ih, aku mau romantis-romantisan gitu Dek," jawab Arman.


"Itu kan ditelevisi, aslinya ya bahaya Mas. Oh iya gimana kabar ibu?" Tanya Nita.


"Syukurlah," jawab Nita.


Karena libur, mereka begitu menikmati waktu dihari Minggu. Setelah selesai memasak, Arman dan Nita membawa sebagian maskaan itu ke rumah Bu Ani. Suasana semakin hangat, Arman nyaman dengan keluarga mertuanya yang selalu baik dan pengertian.


Bu Ani tidak mempermasalahkan dirinya yang belum mapan saat melamar Nita. Tidak keberatan saat tahu Nita mengurus ibunya yang sempat sakit lama. Menghormati Arman dan menganggapnya anak kandung saat berkunjung ke rumah. Arman akui sifat ibunya berbanding terbalik dengan mertuanya.


"Ibu terlihat lebih bahagia setelah nenek pindah ke luar kota bersama om Firman," celetuk Nabila.


Nita yang tidak enak pada suaminya pun menyuruh Nabila untuk tidak berbicara mengenai neneknya lagi, dengan gerakan jari telunjuknya yang ditempelkan didepan bibirnya.


Saat itu juga kebahagian Nabila bertambah karena ayahnya baru saja mengumumkan kehamilan Nita yang sudah menginjak dua bulan.


"Alhamdulillah, mudah-mudahan adeknya cewek ya mah. Biar Nabila ada temennya, hehe…," ucap Nabila kegirangan.

__ADS_1


"Ish, cowok lah. Biar bisa aku ajak berantem Mah," ucap Riki.


Nita hanya tersenyu dan menggelengkan kepalanya. Tingkah anak-anaknya yang selalu saja membuat suasana rumah rame, itu justru menambah kebahagiaannya. Dia juga senang kehamilannya diterima dengan baik oleh semua keluarganya. Meski dia sudah tidak muda lagi, tapi dia yakin bisa melalui masa kehamilannya yang ke tiga ini.


***


Pagi-pagi sekali Maryati sudah membicarakan masalah pemecatan karyawan pada Kinan. Padahal wanita itu masih menikmati sarapannya, ada rasa jengkel dihati Kinan, tapi dia mencoba mengabaikan mertuanya.


"Ibu pecat aja ya Kinan? Boleh kan?" Tanya Maryati untuk yang kesekian kalinya.


"Gak Bu. Memang mereka melakukan kesalahan fatal, enggak kan?" Jawab Kinan.


"Ibu lihat kerja mereka itu gak bener. Terlalu santai dan ingin makan gaji buta saja. Harusnya kamu cari pengganti lain, yang rajin dan menguntungkan toko..!" Ucap Maryati.


"Bu, disana ada CCTV. Ibu gak perlu melaporkan apapun padaku, aku sudah tahu semuanya," jawab Kinan dengan santai.


Deg!


Apa iya? Aku kemarin sempat mengambil beberapa lembar uang dimeja kasir untuk membayar makanan online yang aku pesan. Bagaimana ini? Tapi gak apalah, aku kan ibunya Kinan juga, pemilik toko juga, Batin Maryati.


"Hmm, tapi ibu bisa menilai kalau Nisa dan Tifa kerjanya gak beres Kinan, kamu dikasih tahu bukannya bilang terimakasih. Eh malah gak percaya, ngeyel kamu," ucap Maryati.


"Mereka memang tidak ditugaskan mengangkat bahan makanan yang berat Bu. Jadi itu bukan karena mereka malas, aku sudah mendengarkan penjelasan mereka Bu. Kalau mereka ketahuan mencuri dan merugikan toko, baru Kinan pecat," jawab Kinan.


Deg!


Apa Kinan akan marah saat aku mengambil uang toko? Apa aku akan diusir dan diulangkan ke kontrakan Arman yang kecil itu? Batin Maryati.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2