
Pov Maryati
Aku seorang ibu dengan empat anak. Tentu saja aku ingin mereka bahagia, kalau bisa mereka harus menjadi orang sukses agar bisa membahagiakan aku dihari tua.
Ketiga anakku menikah dengan pilihanku, aku menjodohkan Dela dengan lelaki yang sudah mapan. Aku menjodohkannya dengan anak teman sekolahku dulu, aku bangga dan aku mendukung pernikahan itu.
Anakku yang kedua dan ketiga pun sama, aku mencoba mengenalkan mereka pada wanita dari keturunan orang kaya. Itu aku lakukan agar mereka nanti hidup nyaman, anak lelakiku tidak perlu bekerja terlalu keras karena ada bantuan dari keluarga menantuku yang kaya. Aku selalu membanggakan kedua menantu perempuanku saat datang berkunjung.
Namun saat Arman anak sulungku membawa calon istri pilihannya. Disitu aku kecewa, padahal aku sudah menyiapkan calon untuknya. Rasa cinta Arman ternyata cukup besar sampai dia menolak keinginan ibunya ini.
"Aku sudah punya calon Bu, dia wanita baik dan lemah lembut. Aku ingin hidup dengannya, rumah tangga tanpa cinta tidak akan membuat Arman bahagia," jawab Arman kala itu.
"Benarkah? Lihatlah kakak-kakakmu! Mereka bahagia dengan pilihan ibu. Nita itu gak selevel sama Nara, jauh berbeda. Nara lebih segala-galanya, warisannya juga banyak," ucapku.
"Bu, tapi aku tidak suka dengan Nara. Menurutku dia terlalu tua untuk aku, harta bisa dicari Bu… asal kita mau bekerja keras," jawab Arman.
"Kamu gak mau nurut sama ibumu ini? Yasudah terserah… ibu tidak akan mempedulikan calon istrimu itu. Ibu tidak mau menganggapnya keluarga," ucapku kesal, padahal aku sudah memberinya jalan kesuksesan yang cepat, tapi dia malah menolak.
Karena hal itulah aku tidak terlalu memperhatikan keluarga kecil Arman, dia hanya menikahi gadis dari kampung yang masih menjadi guru honorer.
__ADS_1
Aku yang bosan dengan Arman yang selalu protes, akupun berpura-pura baik pada Nita. Padahal dibelakang Arman aku selalu kesal dan rasanya gatal kalau tidak mengganggu atau mengerjai menantuku itu.
Aku akui menantuku itu cukup sabar, tak pernah melawanku. Tak pernah terdengar suara bentakan darinya. Arman juga tidak pernah menginterogasi ku, aku pikir Nita cukup baik merahasiakan kelakuanku ini, dia mungkin takut dengan ancamanku.
Dari sekian banyak anak yang kupunya, hanya Arman yang hidupnya begitu-gitu aja. Dan hanya dia yang tinggal dikota ini, membuatku hanya bisa meminta tolong padanya saat kekurangan uang, suamiku sakit lambung kronis dan sudah tak mampu bekerja. Hingga beliau meninggal membuat status janda melekat pada diriku.
***
Aku senang saat lebaran tiba, karena anak-anakku yang sukses akan datang berkunjung. Mereka datang bersama cucu-cucuku yang cantik dan tampan. Mereka datang dengan mobil mewah, ada kebanggaan yang aku rasakan saat melihat ini semua, ada sesuatu yang bisa aku pamerkan pada para tetangga. Dipuji dan disanjung itu sesuatu yang membuatku bahagia.
Pernah aku mengatakan untuk ikut bersama anak-anakku yang berada diluar kota ini. Tapi mereka selalu mengatakan sayang jika rumah peninggalan bapak mereka tak terurus, dijual apalagi. dilu aku pun membenarkan ucapan mereka.
Hingga aku jatuh sakit dan Arman pun pindah ke rumah ini. Arman dan Nita berpatungan membeli rumah ini, dan uangnya aku belikan sawah agar bisa mendapatkan keuntungan dan tidak perlu membeli beras.
Seperti kali ini, aku menguping dan mengintip mereka yang sedang bertengkar.
"Dek, ini itu pahala. Kamu yang ikhlas dong kalau ngerawat ibu, bukannya malah seperti ini! Ibu sakit tapi malah kamu kasarin begini. Yang sabar Dek! namanya juga orang tua yang balik lagi sifatnya kayak anak kecil," ucap Arman.
"Aku ikhlas Mas, tapi aku gak pernah dihargai sama kamu. Untuk masalah ini, tidak seperti yang kamu pikirkan Mas! kamu selalu menyalahkan aku, ibumu itu jago akting Mas," jawab Nita penuh emosi. Dia menangis sejadi-jadinya, terlebih saat tamparan keras mendarat dipipi menantuku itu.
__ADS_1
Aku tentu senang, aku berharap Arman menceraikan wanita itu. Aku juga tidak menyukai kedua cucuku yang lahir dari rahimnya, mereka semua mirip ibunya. Kalau saja mereka wajahnya mirip anakku Arman, aku pasti menyayangi mereka seperti pada cucuku yang lain.
Aku selalu merasa tak ada yang bisa dibanggakan dari cucuku yang berasal dari rahim Nita. Meski wanita itu mau merawatku, tapi aku yakin kalau dia tidak tulus, pasti dia ada maunya.
Hingga suatu hari Nita menggertakku, dia begitu menyebalkan. Seharusnya sebagai menantu itu selalu menghormati ibu mertuanya, nurut, dan jangan neko-neko. Berapa sih gajinya itu sampai mengabaikan aku dirumah sendirian, seharusnya kan wanita diam dirumah. Kasihan Arman, dia tidak punya banyak waktu berkumpul jika wanitanya itu bersikap acuh tak acuh dan lebih mementingkan pekerjaannya.
Aku yakin Arman pun sudah tidak nyaman dengan istrinya itu, aku hanya memberi jalan pada anakku agar sadar kalau istrinya itu hanyalah beban dan tidak mementingkan keluarga.
Aku harus bisa memisahkan mereka berdua, tak apa jika Arman menduda. Aku akan mengelola gajinya itu, tentu lebih bermanfaat ditanganku sebagai ibu yang melahirkannya. Dia anakku, dia milikku dan uangnya tentu uangku, ada hakku disana.
***
Pov. Author
Pagi ini Nita mencoba berbicara dengan adik dan ibunya. Wanita itu menceritakan keluh kesahnya dan meminta saran. Liana merasa tak pantas menggurui kakaknya, dia bahkan masih remaja dan belum berpengalaman berumah tangga.
"Menurut ibu bagaimana? Kalau aku sih belum bisa memberi pendapat untuk masalah teh Nita. Aku takut salah memberikan jawaban. Tapi untuk saat ini Teteh gak usah mengkhawatirkan kami, uang teteh buat keluarga teteh saja yang lebih membutuhkan..!" ucap Liana.
"Liana benar, kamu tidak perlu mengirimkan uang pada ibu lagi, kamu bisa fokus pada keluargamu dan tak perlu mengkhawatirkan ibu dan Liana disini. uangmu bisa digunakan untuk menyewa pembantu sekaligus perawat Bu Maryati saat kamu dan Arman kerja. Kamu juga enak kalau pulang rumah sudah dalam keadaan bersih," jawab Bu Ani.
__ADS_1
Ibu benar, semoga saja ini awal yang baik. Semoga Mas Arman juga berubah dan lebih mengerti posisiku saat ini, batin Nita.
Bersambung …