
Beberapa hari telah berlalu. Saat ini sudah waktunya pulang bekerja. Felix sudah mau masuk ke dalam mobil saat Dewi memanggilnya.
"Felix bolehkah aku menumpang mobil mu ? aku tidak membawa mobil hari ini." ucap Dewi memasang wajah memelas.
"Bukannya jalan rumah kita tidak searah." kata Felix yang enggan untuk memberi tumpangan kepada wanita itu.
"Iya. Aku mau menemui teman ku di cafe yang ada di jalan depan sana. Nanti dia yang akan mengantarkan aku pulang." jawab Dewi lagi.
Mendengar hal itu, Felix hanya mengangguk. Tak masalah rasanya karena sambil jalan pulang.
"Di cafe yang mana ?" tanya Felix membuyarkan lamunan Dewi.
Saat ini mereka sudah sampai di jalan yang di katakan oleh Dewi tadi.
"Hah. Sebentar aku akan menghubungi teman ku dulu." Dewi pura-pura sibuk dengan ponselnya sedangkan Felix memelankan laju kendaraannya.
"Maaf Felix, bisakah kau mengantarkan aku ke mall yang ada di jalan sebelah sana. Katanya dia sedang di sana." kata Dewi lagi.
Felix yang ingin cepat-cepat pulang, langsung saja menyetujui permintaan Dewi tanpa banyak tanya. Felix kembali memutar mobilnya ke jalan yang di sebutkan oleh wanita itu. Padahal jalannya berlawanan dengan arah rumah Felix.
"Sudah sampai. Turunlah. Aku ingin pulang." kata Felix dengan suara dingin.
"Ta-tapi teman ku baru saja mengirim pesan kata ..."
__ADS_1
"**** !" potong Felix saat ia teringat sesuatu.
"Cepat turun !" suara Felix mulai meninggi yang membuat Dewi terkejut.
"CEPAT !" bentak Felix lagi.
Dewi yang ketakutan melihat kemarahan Felix segera membuka pintu mobil. Wanita itu hampir saja tersungkur saat keluar dari dalam mobil karena kakinya yang gemetaran.
Felix segera memutar kembali mobilnya menuju ke arah jalan rumahnya. Ia melajukan kendaraannya dengan cepat. Saat ini Felix sedang mencemaskan keadaan Revina. Melihat gelagat Dewi yang mencurigakan, Felix jadi teringat dengan perkataan Revina yang mengatakan jika Dewi adalah temannya Jasse. Mungkin saja Dewi bersekongkol dengan Jasse untuk mencelakakan Revina.
Jantung Felix semakin berdegup kencang ketika sampai di rumah. Felix segera membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Rumah terlihat sepi.
"Revina." Felix memanggil istrinya.
Felix kemudian membuka pintu kamar. Kosong. Tidak Revina tidak ada di sana. Felix semakin cemas, berjalan menuju dapur. Sama saja Revina tidak ada di sana. Felix terkesiap ketika mendengar suara pintu terbuka, bersamaan dengan seseorang memanggil namanya.
"Felix." Revina tersenyum melihat Felix sudah pulang.
"Revina." Felix merasa lega saat melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Felix segera memeluk erat tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Ada apa ?" tanya Revina ketika mendengar Felix menghembuskan napas lega.
__ADS_1
Revina melepaskan pelukan Felix. Ingin melihat wajah suaminya.
"Aku hanya merindukanmu." jawab Felix bohong.
"Kau dari mana ?" tanya Felix yang melihat Revina datang dari luar rumah.
"Aku dari warung di depan sana." Revina menyembunyikan kantung plastik yang ia bawa di belakang tubuhnya.
"Apa itu ?" Felix penasaran.
"Ti tidak apa-apa." jawab Revina sedikit gugup. Kemudian Revina segera berjalan masuk kedalam kamar dengan masih menyembunyikan sesuatu di tangannya.
Beberapa saat kemudian Revina keluar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Felix masuk kedalam kamarnya, mengambil handuk untuk segera membersihkan diri. Setelah keluar dari kamar mandi Felix kembali ke kamar. Melihat Revina yang masih sibuk di dapur, Felix memberanikan diri untuk mencari apa yang tadi di beli oleh istrinya. Felix membuka lemari pakaian di bagian Revina. Mencari kantong berwarna biru. Dengan cepat Felix menemukan apa yang ia cari karena lemari pakaian yang tidak begitu besar.
"Astaga. Ternya ini." Felix tidak menyangka dengan apa yang di beli oleh istrinya tadi.
Tak ingin ketahuan oleh Revina, Felix segera menyimpan benda tersebut ke tempat semula. Ternyata Revina hanya membeli sesuatu yang hanya boleh di pakai oleh perempuan setiap satu bulan sekali. Dengan durasi pemakaian lima sampai tujuh hari. Memang sebagian besar wanita sangat malu menunjukkan benda tersebut kepada laki-laki. Termasuk Revina yang ingin menyembunyikan itu dari Felix.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Jasse sedang merasa gelisah menunggu kabar dari Dewi. Jasse langsung mengangkat teleponnya yang berdering, yang sejak tadi ia genggam.
"Bagaimana ? berhasil ?" tanya Jasse antusias.
"Tidak berhasil. Felix tidak mempercayai ku dan ia segera pulang sebelum sempat orang suruhan ku melakukannya." jawab Dewi yang merasa kesal karena rencananya tidak berhasil. Dewi juga masih ketakutan dengan kemarahan Felix yang baru hari ini ia melihatnya.
__ADS_1
Seperti dugaan Felix. Dewi dan Jasee memang merencanakan untuk mencelakakan Revina hari ini Tapi, rencana tersebut gagal karena Felix segera pulang. Padahal Dewi ingin mengulur waktu Felix dengan meminta Felix untuk mengantarnya ke sana ke mari. Felix mungkin memang sudah mencurigainya.