
Revina terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Felix sedang berbicara dengan seseorang wanita di depan kamarnya. Revina membangunkan tubuhnya, mencari handuk kimono yang di pakainya tadi karena saat ini ia sedang tidak memakai apa pun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Revina ingin melihat Felix berbicara dengan siapa.
"Astaga, Felix. Apa yang sudah kau lakukan padanya." Revina terkejut saat suara cempreng seorang wanita memarahi Felix.
Revina langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya menampakkan mata sampai kepalanya saja ketika seorang wanita paruh baya berdiri tepat di depan tempat tidurnya. Sungguh Revina sangat malu saat ini ketika ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan sekarang.
"Sayang, apa yang anak berandalan ini lakukan pada mu ?" tanya Mery yang melihat keadaan Revina yang sangat berantakan dengan rambut acak-acakan.
Mery berjalan mendekat ke arah Revina, memeluk menantunya kemudian merapikan rambut Revina. Felix menepuk keningnya melihat kedatangan mommynya yang tiba-tiba. Sedangkan Revina merasa bingung dengan apa yang terjadi. Siapa wanita ini yang tiba-tiba saja memeluknya.
"Mom, apa yang mommy lakukan di sini ?"
Mery beralih menatap Felix "Tentu saja mommy mau menjemput menantu mommy."
"Tidak perlu, mom. Kami pasti akan datang nanti malam."
Revina menyimak pembicaraan antara Felix dan Wanita itu. Apa dia adalah ibunya Felix. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Revina mencoba mengingat-ingat.
__ADS_1
"Ini pakaian mu. Bersiaplah. Setelah itu kau tunggu di luar. Biar istri mu bersama dengan mommy." Mery menunjuk salah satu paper bag yang baru saja di bawanya.
Dengan pasrah Felix mengambil paper bag yang di maksud oleh mommynya dan langsung memakainya.
"Ayo, mommy bantu ke kamar mandi." kata Mery sambil membantu melilitkan selimut di tubuh Revina.
"Terima kasih nyonya." Dengan sangat perlahan Revina turun dari tempat tidur sambil menahan sakit di bagian inti tubuhnya.
"No. Panggil mommy !" perintah Mery.
"Astaga. Apa kalian tidak tidur semalaman." ucap Mery ketika melihat Revina berjalan tertatih.
Wajah Revina bersemu merah karena malu mendengar ucapan mommy Mery. Tentu saja Mery mengetahui apa yang telah mereka lakukan. Sedangkan Felix tersenyum mendengar perkataan mommynya.
"Kita kejar setoran mom, untuk segera memberikan mommy cucu." kata Felix sambil berjalan menuju Revina. Kemudian ia mengangkat tubuh Revina untuk mengantarkan sang istri ke kamar mandi karena Felix tidak tega melihat wanita yang dicintainya kesakitan akibat ulahnya.
Revina menyembunyikan wajah meronanya di dada Felix. Revina semakin malu kepada mommy Mery saat mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Ayo, aku bantu kau mandi." kata Felix.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri." tolak Revina yang merasa malu karena mommy Felix ada di kamar.
"Tapi aku ingin membantu mu." balas Felix kekeh tetap ingin memandikan istrinya. Ia merasa bertanggung jawab pada Revina.
"Felix, jangan membuat ku tambah malu. Aku mohon keluarlah. Aku bisa sendiri." terang Revina agar Felix mengerti.
"Baiklah kalau begitu. Panggil aku jika kau sudah selesai." Felix mencium kening Revina sebelum ia keluar dari kamar mandi.
"Astaga. Bagaimana aku akan menutupi ini semua." Revina terkejut melihat pantulan dirinya di cermin. Leher dan dadanya penuh dengan tanda percintaan yang di buat Felix.
Setelah selesai membersihkan diri, Revina keluar dari kamar mandi. Sekali lagi ia terkejut ketika mendapati dua orang wanita yang tidak di kenal sedang bersama mommy Mery.
"Sayang, kemarilah. Mereka ini dari salon yang sengaja mommy panggil untuk membantu mu bersiap." kata Mery sambil menggiring Revina untuk duduk di sofa.
Kemudian dua orang wanita itu mulai menjalankan tugasnya. Revina hanya pasrah. Ia sungguh malu saat semua orang yang ada di sana melihat tanda merah di bagian tubuhnya yang terbuka. Apalagi saat mommy Mery memberi obat yang katanya untuk menghilangkan rasa sakit.
__ADS_1