Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Aku Sangat Mencintaimu


__ADS_3

Berbanding terbalik dengan keadaan kamar Felix yang begitu sepi, keadaan di ruang bawah terlihat begitu sibuk. Pelayan senior mengumpulkan semua pelayan yang ada di kediaman ini untuk memberikan instruksi sebelum mereka masuk menghadap nona muda baru mereka.


Mery yang saat itu belum tidur, keluar dari kamarnya yang berada di lantai bawah.


"Ada apa ini ?" tanya Mery kepada pelayan senior yang baru saja memberikan pengarahan kepada pelayan yang lain.


"Tuan muda memanggil semua pelayan datang ke kamarnya, nyonya." jawab pelayan senior.


"Untuk apa ?" tanya Mery penasaran.


"Saya juga kurang tahu, nyonya."


Mery hanya mengangguk meskipun dalam hatinya bertanya-tanya mengapa putranya memanggil seluruh pelayan.


"Pergilah." kata Mery yang tidak ingin menganggu pelayan itu.


Lima belas menit kemudian seorang pelayan pria turun tergesa-gesa menuju ke ruang kerja Felix.


"Apa yang terjadi ?" tanya Mery.


"Tuan muda minta rekaman cctv dua tahun yang lalu, nyonya." jawab pria itu.


Mery mengikuti pelayan itu masuk ke ruang kerja Felix dan melihat apa yang ingin di cari oleh putranya itu malam-malam begini.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, pelayan itu sudah menemukan apa yang ia cari karena. Ia hanya perlu mencari rekaman cctv pada hari terakhir tuan mudanya tinggal di rumah ini dua tahun lalu.

__ADS_1


Mery yang melihat itu sedikit mengerti dengan situasi yang terjadi dan ia pun mengululum senyuman mengingat putranya.


"Apa nona muda kalian marah-marah ?" tanya Mery kepada pelayan yang sedang mengcopy file video tersebut ke dalam laptop.


"Tidak, nyonya. Nona muda hanya menanyakan beberapa pertanyaan saja." jawab pelayan itu jujur.


"Maaf,nyonya. Apa ada yang anda tanyakan lagi ?" tanya pelayan itu sopan.


"Tidak. Pergilah." perintah Mery dan pelayan itu segera pergi kembali ke kamar Felix untuk memberikan rekaman video tersebut.


Setelah Felix dan Revina sama-sama melihat rekaman video itu Felix bertanya kepada istrinya.


"Bagaimana ? apa kau sudah percaya ?"


"Bagaimana bisa aku mempercayai mu karena kau telah berbohong kepada ku." jawab Revina ketus.


"Mengapa kau melakukan itu ?" Revina masih dalam mode marah.


"Aku ingin tahu setulus apa hati mu menerima ku yang apa adanya dan tidak memandang latar belakang keluarga dan harta." jawab Felix jujur.


Sebenarnya bisa saja Felix langsung pergi setelah mengetahui jika Jasse hanya menggunakannya untuk menjebak Revina. Tapi entah mengapa Felix enggan untuk meninggalkan Revina dan timbul rasa untuk melindungi wanita yang sudah menjadi istrinya. Revina masih diam dan menatap Felix dengan tatapan yang entahlah.


"Mungkin saat itu aku sudah jatuh cinta kepada mu tapi aku belum menyadarinya."


Felix mengambil kedua tangan Revina dan menggenggamnya erat. Ia lalu mencium tangan itu dengan penuh perasaan sayang dan cinta. Melihat tidak ada penolakan dari Revina, Felix kemudian memeluk tubuh wanita yang begitu ia cintai dengan sangat erat seperti tidak ingin Revina pergi.

__ADS_1


"Kau membuat ku tidak bisa bernapas." kata Revina yang membuat Felix segera mengendurkan belitan tangannya. Tapi tetap tidak melepas pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan pergi dari ku." kata Felix terdengar seperti nada memohon.


Revina yang mendengar suara lirih Felix merasa bersalah dalam hatinya. Apa ia sudah begitu keterlaluan menuduh Felix. Revina tersenyum saat teringat bagaimana Felix berusaha untuk menyenangkannya sehingga membuat Revina salah paham.


*


Sementara itu di hotel tempat acara pertunangan Sonia, sebagian besar keluarga Cullen juga menginap di hotel tersebut. Begitu juga dengan Sonia. Wanita itu terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Mulutnya sejak tadi terus saja mengumpat kesal kepada pria yang baru saja menjadi tunangannya.


"Dasar beruang kutub tua. Seenaknya saja ingin menikah dengan ku yang masih muda. Dasar tidak tau diri."


"Siapa yang tidak tau diri ?" tiba-tiba suara bariton mengejutkan Sonia.


"A apa yang kau lakukan di sini ?" Sonia gelagapan melihat Abraham yang tengah berbaring dengan santainya di tempat tidur.


Sementara Sonia merasa agak ketakutan berdua bersama Abraham di dalam kamar hotel. Takut jika pria yang cukup dewasa itu berbuat sesuatu kepadanya dan juga takut jika ada orang yang datang dan melihat mereka sedang berdua di kamar. Apa lagi jika sampai kedua orang tuanya tau.


Abraham kemudian bangun dan berjalan menuju Sonia yang masih mematung di tempatnya. Melihat Abraham yang semakin mendekat, Sonia berjalan mundur sehingga ia sampai bersandar di dinding dan tidak bisa bergerak lagi.


"Mengapa ? kau takut ?" Abraham berjalan semakin mendekat sambil menatap tajam wanita yang sudah menjadi tunangannya.


"Bukannya kau tadi begitu berani mengumpat dan mengatai ku dengan mulut mu ini, emm." Abraham mengusap bibir Sonia dengan ibu jarinya.


"A aku tidak mengatai mu. Mungkin kau salah dengar." Sonia memalingkan wajahnya ke samping, menjauhkannya dari wajah Abraham yang hanya berjarak beberapa centi saja.

__ADS_1


"Benarkah ? apa kau pikir aku tuli ? ck, sepertinya aku harus menghukum mu." Abraham mencengkeram dagu Sonia agar menghadap ke arahnya.


"Hu hukuman a apa ?" tanya Sonia yang mulai merasa hawa menakutkan melihat Abraham yang tersenyum menyeringai.


__ADS_2