
Akhirnya hari yang di nanti-natikan sudah tiba. Malam ini pesta pernikahan Tuan muda Maxim akan di gelar di Pure Paradise Hotel. Sonia selaku manager hotel begitu sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahan yang spektakuler ini sehingga sudah satu minggu ia mengabaikan panggilan dan pesan masuk dari tunangannya, Abraham. Ponsel milik Sonia kembali berdering.
"Ah, dia lagi." Sonia memutar matanya malas melihat nama Abraham di layar ponselnya.
Sonia mengabaikan panggilan itu dengan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Wanita itu lalu berjalan menuju kamar khusus untuknya sebagai manajer karena hari sudah mulai gelap dan ia harus bersiap siap untuk pesta pernikahan sepupunya malam ini.
Sonia masuk ke kamarnya, meletakkan tas di nakas lalu ia membuka blazer dan meninggalkan tanktop yang membalut tubuh indahnya.
"Beraninya kau mengabaikan panggilan dari ku."
Sonia terlonjak kaget ketika mendengar suara dingin yang tidak asing di telinganya. Dengan cepat ia meraih blazer yang baru saja diletakkan di nakas untuk menutupi kembali tubuhnya.
"Mengapa kau ada di sini ?" tanya Sonia karena lagi-lagi Abraham tiba-tiba ada di kamarnya.
"Aku hanya ingin menemui mu karena kau terus mengabaikan panggilan dari ku." jawab Abraham yang sedang duduk santai di sofa.
"Untuk apa kau ingin menemui ku ?" tanya Sonia ketus.
"Aku hanya ingin memberikan ini. Karena kau tidak menjawab panggilan ku jadi aku datang sendiri mengantarkannya pada mu." Abraham menunjuk dengan matanya sebuah box yang terletak di atas meja di depannya.
"Apa itu ?" tanya Sonia penasaran.
Abraham menaikkan kedua bahunya "Buka saja sendiri."
Dengan ragu Sonia berjalan mendekat ke arah box yang di maksud oleh pria yang sudah menjadi tunangannya itu. Tangannya terulur untuk membuka box tersebut. Tapi tiba-tiba saja Abraham menariknya dengan kuat sehingga tubuh Sonia jatuh di pangkuan Abraham.
"Apa yang kau lakukan ?" teriak Sonia karena terkejut dengan gerakan Abraham yang tiba-tiba.
__ADS_1
Wanita itu memberontak ingin melepaskan diri. Tapi sayangnya kedua tangan Abraham telah mengunci tubuhnya sehingga Sonia tidak bisa bergerak.
"Tenanglah. Aku hanya ingin menunjukkan ini." kata Abraham sambil tangannya membuka box yang ada di depannya. Sedangkan tangan satunya lagi menahan tubuh Sonia agar tidak melarikan diri dari pelukannya.
Kini Sonia bisa melihat isi dari box yang di bawa oleh Abraham. Sebuah gaun berwarna biru navy di taburi permata berkilauan sangat serasi dengan warna baju jas yang dikenakan oleh Abraham sekarang.
"Kau suka ?" tanya Abraham berbisik di telinga Sonia.
"Tapi aku sudah punya gaun sendiri." balas Sonia masih dengan nada ketus.
"Aku tau dan aku sudah menyuruh orang untuk membuang gaun mu itu." kata Abraham yang membuat Sonia membelalakkan matanya.
"Mengapa kau semena-mena melakukan itu ?" tanya Sonia dengan nada marah dan ia berhasil melepaskan diri saat Abraham lengah.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan mu memakai pakaian terbuka seperti itu. Kau tidak boleh memperlihatkan bagian tubuh mu itu kepada orang lain. Apa lagi kepada laki-laki. Karena kau adalah milik ku dan hanya aku yang boleh melihatnya." jelas Abraham panjang lebar.
"Sekarang keluarlah. Aku ingin mandi dan bersiap." kata Sonia yang sudah malas berdebat dengan tunangannya.
"Lakukanlah. Aku akan tetap di sini menunggu mu hingga selesai." balas Abraham santai sambil memainkan ponselnya.
Aahhhh
Jerit Sonia karena kesal. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu menutupnya. Abraham sedikit tersenyum melihat tingkah kesal Sonia. Beberapa saat kemudian Sonia kembali membuka pintu dan berjalan dengan cepat mengambil box yang berisi gaun yang diberikan oleh Abraham dan membawanya ke dalam kamar mandi.
*
Sementara itu di dalam kamar lainnya, Felix sedang gelisah menunggu pukul tujuh malam saat akan di mulainya acara. Pria itu sudah tidak sabar ingin menemui istrinya karena sejak tadi pagi mommy Mery telah membawa kabur Revina.
__ADS_1
Felix yang sejak tadi berjalan mondar mandir di dalam kamar langsung menghentikan langkahnya ketika seseorang membuka pintu dari luar.
"Hey, apa yang sedang kau lakukan ?" Tama tertawa melihat Felix berdiri di tengah-tengah ruangan kamar dengan wajah yang terlihat cemas.
"Ayolah, bro. Ini hanya sebuah pesta biasa. Bukan acara pernikahan." kata Tama sambil terkekeh melihat sepupunya yang sedang gugup.
"Jika bukan acara pernikahan lalu acara apa ?" kata Felix kesal karena Tama menertawakannya.
"Oh, iya ya. Ini pesta pernikahan mu." kata Tama baru ingat.
"Dasar ba*ci bodoh." umpat Felix.
"Jadi kapan aku bisa menemui istri ku ?" tanya Felix tidak sabar.
"Sebentar lagi. Sekarang kau bisa keluar karena acara akan segera di mulai." kata Tama menyampaikan maksud kedatangannya menemui Felix untuk menjemput mempelai pria.
*
Di luar pintu masuk hotel, para undangan harus melakukan pemeriksaan keamanan dengan sangat ketat untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Begitu juga dengan Jonatan dan keluarganya yang ikut berbaris untuk di periksa.
"Hey. Kami ini orang tua mempelai wanita. Kenapa harus di periksa." kata Asila tidak terima.
"Maaf, nyonya. Ini sudah sesuai prosedur. Jika anda tidak mau di periksa, silahkan tinggalkan tempat ini." kata petugas keamanan.
"Sudahlah, ma. Ikut saja aturannya. Jangan membuat keributan. Ingat apa yang dikatakan oleh Abraham." Jonatan berbisik pada istrinya yang terlihat sangat kesal. Begitu juga dengan Jasee.
Sebenarnya Jasse begitu malas untuk datang dan melihat kebahagiaan Revina. Tapi rasa penasarannya lebih besar untuk membuktikan sendiri jika pria gelandangan itu adalah tuan muda Maxim.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam ballroom hotel mata Jasse tidak sengaja melihat mantan suaminya di antara tamu-tamu undangan yang lainnya. Sean. Dan sialnya pria itu juga melihat ke arah Jasse.