Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

London, Inggris.


Felix baru saja menjejakkan kakinya di kota yang sudah satu tahun di tinggalkannya. Hal yang pertama di lakukannya adalah menghubungi Sonia. Ternyata Sonia bekerja sama dengan daddy-nya untuk menculik dan membawanya ke sini.


Felix langsung memarahi Sonia saat panggilannya terhubung. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Sonia mengatakan jika saat ini ia sedang bersama istrinya. Seketika kemarahan Felix menguap begitu saja saat mendengar nama Revina. Felix langsung mengubah ke panggilan video.


Setelah melihat dan berbicara dengan Revina, perasaan Felix menjadi sedikit lebih tenang. Sekarang tujuannya adalah bertemu dengan ayahnya, Eric. Felix ingin menyelesaikan urusannya dengan orang tua itu agar ia bisa segera pulang menemui istrinya.


*


Eric menatap datar wajah putranya yang menatapnya dengan tajam. Felix duduk di depannya. Eric menghela napasnya sebelum memulai bicara.


"Mereka ingin kau kembali memimpin perusahaan." kata Eric yang akhirnya menurunkan egonya untuk meminta Felix kembali.


Jika Eric terus mempertahankan keegoisannya maka sudah dapat di pastikan ia akan mengalami kerugian yang sangat besar.


Felix mengangkat sudut bibirnya, tersenyum mengejek mendengar perkataan ayahnya.


"Aku tidak ada urusan apa pun lagi dengan perusahaan Boison Grup." kata Felix datar.


Ia sungguh tidak peduli dengan permasalahan yang sedang di hadapi oleh daddy nya saat ini. Felix langsung berdiri ingin pergi meninggalkan ruangan yang dulu menjadi tempat kerjanya dulu sebagai CEO.


"Apa yang kau inginkan ?" Eric mencoba untuk memberi penawaran kepada putranya.


"Tidak ada. Tidak perlu bersusah payah menawarkan apa pun pada ku. Karena aku tidak butuh nama dan harta keluarga Maxim. Tanpanya juga aku masih bisa hidup dengan baik."

__ADS_1


Kata-kata yang di ucapkan oleh Felix seolah-olah membuktikan jika apa yang di katakan oleh Eric satu tahun yang lalu itu salah. Felix berhasil membuktikan dirinya masih bisa berdiri dengan kakinya sendiri tanpa embel-embel dari keluarganya yang kaya raya dan berkuasa.


"Tapi bagaimana dengan istri mu ? apa kau tidak ingin membahagiakannya. Membawanya keliling dunia dan menjadikan dia ratu dengan memberikan apapun yang ia mau." Eric mencoba menggunakan Revina untuk membujuk Felix.


Eric tahu jika saat ini putra semata wayangnya itu sangat mencintai istrinya. Pasalnya Felix begitu menurut dan sabar kepada wanita itu. Karena Felix tidak mungkin akan melakukan dua hal itu kepada siapapun termasuk padanya sebagai ayah.


"Istri ku bukanlah seperti wanita lainnya yang hanya bisa di bahagiakan dengan materi." jawab Felix sambil berlalu pergi meninggalkan daddy-nya sendiri.


Eric hanya mampu menghela napasnya, memandang punggung Felix yang kian menjauh sehingga hilang di balik pintu. Ia sudah menduga jika ini pasti tidak akan mudah. Bahkan Eric sudah membawa nama Revina.Tetap tidak mempengaruhi pendirian Felix. Eric kemudian mengambil ponsel untuk menjalankan rencana selanjutnya.


*


Sonia kembali datang ke rumah Abraham untuk menemui Revina. Hari sudah mulai sore, sebentar lagi Abraham akan pulang. Sonia bergegas untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Eric agar tidak terserempak dengan Abraham.


"Revina, aku harus segera pergi. Ini sudah sore." ucap Sonia sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah, Sonia. Hati hati di jalan." ucap Revina dan Sonia segera keluar dari kamar Revina.


"Sial. Aku terlambat !" Sonia melajukan langkahnya ketika melihat mobil Abraham masuk perkarangan rumahnya.


Sepertinya dewi keberuntungan tidak berpihak pada Sonia sore ini. Abraham sudah dulu mencekal tangannya sebelum Sonia sempat masuk ke dalam mobil.


"Kau pikir bisa pergi begitu saja dari rumah ku." kata Abraham menatap Sonia dengan tatapan penuh arti.


"Urusan ku sudah selesai dan aku ingin pulang sekarang." balas Sonia sambil berusaha menarik tangannya.

__ADS_1


"Tidak semudah itu nona. Kau menemui Revina tanpa izin dari ku. Jadi kau harus di hukum."


"Hukuman apa ? Aku tidak mau ! Lepaskan tangan ku." Sonia semakin memberontak.


"Aku tidak terima penolakan." Abraham langsung mengangkat tubuh Sonia ke atas bahunya seperti memikul karung beras. Kemudian Abraham membawa Sonia kedalam kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Abraham mengunci pintu kamar dan menyembunyikan kuncinya, baru kemudian ia menurunkan Sonia.


Oh God. Mengapa dia membawa ku ke kamarnya. Sonia terkejut dan juga merasa takut. Takut jika Abraham melakukan sesuatu yang mesum kepadanya.


"Mengapa kau membawa ku kamar mu ? kau jangan macam-macam pada ku." Sonia berdiri tegak di tempatnya, di depan pintu kamar. Ia mencoba membuka pintu, tapi tidak bisa.


"Sial. Mengapa mengunci pintunya ?" Sonia melihat ke arah Abraham.


Pria itu membuka jam tangan dan meletakkannya di nakas. Kemudian ia melepaskan jas dan menyampirkan di sandaran kursi. Abraham lalu membuka kancing kemeja satu persatu.


"Hei, mau apa kau membuka baju mu ?" Sonia bertanya sambil mengalihkan pandangannya ke samping. Tidak ingin mengotori mata perawan nya melihat tubuh te***jang Abraham.


Abraham hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan dari Sonia. Ia malah fokus dengan apa yang dilakukannya. Melepas satu persatu kain yang menempel di tubuhnya, sehingga menyisakan celana boxer untuk menutupi aset pribadinya.


Dasar tidak tau malu. Apa dia tidak punya urat malu, memperlihatkan tubuhnya pada ku. Batin Sonia dalam hati. Sonia menelan ludahnya, ketika menangkap siluet tubuh te***jang pria itu dari sudut ekor matanya.


Sonia semakin waspada ketika melihat Abraham berjalan mendekat.


"Hey. Mau apa kau ? Jangan mendekat !" Sonia memundurkan langkahnya saat Abraham semakin mendekat.

__ADS_1


__ADS_2