
Jasse sampai di rumahnya saat hari sudah mulai sore. Sejak siang tadi Jasse dan Dewi mencari taksi dan ojek, tapi tidak ada seorangpun yang mau mengantarkan mereka. Dua wanita itu terlihat seperti pengemis dengan mengenakan pakaian lusuh, kumal dan rambut acak-acakan. Selama lima hari mereka terkurung, penampilan mereka tidak ubahnya seperti orang gila.
"Ya ampun, Jasse. Kau kenapa ?" Asila terkejut melihat penampilan putrinya yang acak-acakan.
Belum sempat Jasse menjawab pertanyaan mamanya, wanita itu langsung tersungkur di depan pintu rumahnya. Tubuhnya sangat lemah karena tidak makan selama lima hari.
Malam harinya barulah keadaan Jasse sedikit membaik, meskipun tubuhnya masih agak lemas.
"Katakan apa yang terjadi pada mu selama lima hari ini ?" Asila mengulangi pertanyaannya.
Jasse melihat kearah kedua orang tuanya secara bergantian dengan takut-takut. Ia ragu untuk menceritakan kepada mamanya apa lagi papanya.
Selama ini Jasse memang sudah terbiasa tidak pulang karena sering menginap di rumah teman-temanya sampai beberapa hari. Tapi melihat keadaan Jasse saat pulang tadi membuat mamanya curiga.
"Katakan Jasse." Asila kembali bersuara sedangkan Jonatan hanya diam memperhatikan.
"A aku di culik dan di sekap, ma." jawab Jasse terbata.
"Apa ?" Jonatan dan Asila sama-sama terkejut.
"Siapa yang telah melakukan itu ? apa kau sendirian ? apa kau diapa-apain sama mereka ?"
Jasse hanya menggeleng menjawab pertanyaan beruntun mamanya.
"Syukurlah. Sekarang kau istirahat lah." Asila dan Jonatan keluar dari kamar Jasse.
*
Keesokan harinya, Revina memutuskan untuk menerima tawaran dari Abraham. Ia akan mulai bekerja hari ini. Bukan karena jabatan yang di janjikan Abraham. Tapi karena Revina merasa bosan berada di rumah.
__ADS_1
"Aku ingin mulai bekerja hari ini." Revina keluar sarapan dengan pakaian formal.
"Nanti supir yang akan mengantarkan mu ke kantor." balas Abraham dengan wajah datar.
Setelah selesai sarapan, Abraham segera pergi bersama asistennya dengan mobilnya. Sedangkan Revina menggunakan mobil lainnya bersama seorang supir.
Abraham tidak langsung pergi ke kantornya. Ia malah mendatangi Jonatan ke Perusahaan Globe Enterprise. Jonatan terkesiap melihat kedatangan Abraham sepagi ini.
"Selamat pagi, Abraham." sapa Jonatan ramah. Tapi dalam hatinya merasa was-was.
"Aku akan mengambil kembali perusahaan ini. Jadi bersiaplah. Bereskan semua barang-barang mu." kata Abraham tanpa basa basi.
Jonatan begitu terkejut mendengar perkataan Abraham.
"Ta tapi kenapa ?"
"A aku, Revina hanya ingin menikmati waktu sendiri. Nanti dia pasti akan kembali ke rumah." Jonatan memberi alasan.
Abraham menatap tajam kearah Jonatan.
"Kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya." kata Abraham dingin.
"Memangnya kenapa dengan Revina ? apa yang terjadi padanya ?" tanya Jonatan yang memang tidak mengetahui apa-apa.
"Apa putri mu tidak mengatakannya ? dia pasti sudah kembali ke rumah sekarang." jawab Jonatan.
"Apa maksud mu ?"
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan pada mu. Sebaiknya kau tanyakan langsung pada anak mu. Dan kau harus membereskan barang-barang mu ini hari ini juga." kata Abraham kemudian berlalu pergi meninggalkan Jonatan yang tengah sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
Setelah Abraham pergi, Jonatan menyuruh sekertarisnya untuk mengemasi barang-barangnya. Kemudian Jonatan pergi meninggalkan kantor menuju ke rumah kontrakan Revina. Sayangnya setelah tiba di rumah Revina ternyata Revina tidak ada. Rumah itu terlihat kosong dan pintunya juga di kunci.
Setelah yakin Revina memang tidak ada di rumah, Jonatan pergi dan kembali ke rumahnya.
"Papa ada apa ?" tanya Asila yang merasa heran melihat suaminya pulang ke rumah sepagi ini.
"Di mana Jasse ?" tanya Jonatan tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Jasse ada di kamarnya, pa."
Jonatan langsung menuju ke kamar Jasse.
"Apa yang telah kau lakukan pada Revina ?" tanya Jonatan yang masuk ke kamar tiba-tiba.
"Pa papa." Jasse terlihat takut melihat kilatan kemarahan di wajah papanya.
"Apa yang kau lakukan padanya, hah ?" Jonatan menarik rambut Jasse. Ia benar-benar marah.
"Bu bukan aku yang melakukannya, pa." jawab Jasse sambil menahan kesakitan.
Sedangkan Asila hanya diam. Dia juga takut dengan kemarahan Jonatan.
"Kau memang tidak melakukanya. Tapi kau menyuruh orang. Itu sama saja, bodoh !" Jonatan menyentak tangannya yang memegang rambut Jasse, sehingga wanita itu ikut tersungkur dari tempat tidur.
"Kau tahu akibat ulah mu, Abraham sudah mengambil semuanya." kata Jonatan.
"Apa maksud papa ?" Asila memberanikan diri untuk bertanya.
Jonatan menghempaskan salinan surat perjanjian yang di berikan oleh Abraham tadi di depan Asila. Kemudian pria paruh baya itu terduduk memegang kepalanya. Bayangan hidup miskin kini sudah di depan matanya. Seluruh aset yang ia miliki tidak akan cukup untuknya memulai usaha baru.
__ADS_1