Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Pernikahan Abraham dan Sonia


__ADS_3

Malam ini merupakan malam pernikahan Abraham dan Sonia yang kembali di adakan di Pure Paradise Hotel. Kedua pasangan pengantin itu terlihat sangat serasi. Tampan dan cantik. Usia keduanya terpaut sangat jauh, belasan tahun. Tapi penampilan Abraham masih terlihat seperti baru berusia tiga puluh tahun meskipun saat ini pria itu sudah berusia empat puluh dua tahun.


"Selamat paman, Sonia. Semoga kalian selalu bahagia." Revina memeluk Sonia yang semula menjadi adik ipar sekarang berubah jadi bibinya.


"Terima kasih, Revina. Aku juga mengucapkan selamat buat kalian karena sebentar lagi akan menjadi orang tua." balas Sonia dengan senyum penuh kebahagiaan di hari pernikahannya. Tapi siapa yang tahu di dalam hati wanita itu saat ini.


"Sebentar lagi aku juga bisa membuat mu jadi seperti Revina jika kau mau." bisik Abraham membuat Sonia membelalakkan matanya karena mengerti apa yang dimaksud oleh pria yang kini sudah menjadi suaminya.


"Sayang, ayo kita kembali ke kamar. Ingat pesan dokter, kau tidak boleh kelelahan." ajak Felix karena sudah lebih dari satu jam mereka di sana.


"Tapi aku ..."


"Benar sayang, kau harus banyak istirahat dan tidak boleh tidur terlalu larut. Tidak baik untuk kandungan mu." Mary membenarkan kata-kata Felix.


"Abraham dan Sonia pasti mengerti dengan keadaan mu." tambah Mery yang mengerti perasaan tidak enak Revina jika harus pergi lebih awal.


Astaga. Mommy tidak tahu jika aku kembali ke kamar, aku tidak akan bisa langsung tidur dan istirahat karena Felix pasti akan mengajak ku berolahraga dulu. Kata Revina dalam hati. Tapi mulutnya malah tersenyum dan mengangguk menurut apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya.


"Kau dengar ? mommy juga mengkhawatirkan kesehatan mu dan bayi kita." kata Felix yang merasa senang karena Mery mendukungnya.


Revina tidak punya pilihan lain selain mengikuti Felix kembali ke kamar dan benar saja apa yang di pikirkan oleh Revina tadi. Ia tidak bisa langsung istirahat begitu masuk di dalam kamar karena Felix akan meminta haknya lebih dulu meskipun hanya satu kali. Mengingat istrinya sekarang sedang hamil dan tidak boleh terlalu lelah dan banyak beraktivitas.


Berbeda dengan Felix dan Revina yang tengah memadu kasih, pasangan pengantin yang sedang melangsungkan pesta pernikahan saat ini sedang berbisik. Terlihat sangat romantis siapa pun yang melihatnya. Tapi kenyataannya mereka justru sedang berdebat.


"Aku tidak mau. Kau lihat tamu undangan masih ada. Tidak sopan meninggalkan mereka." bisik Sonia yang menolak ajakan Abraham untuk segera masuk ke kamar.


Benar yang di katakan oleh Sonia, beberapa tamu undangan masih duduk menikmati acaranya. Abraham hanya mampu menggeram kesal karena belum bisa membawa Sonia masuk ke dalam kamar. Jika saja Heru dan Eric tidak ada di sana, pasti sejak tadi ia sudah membawa istrinya itu pergi. Ah, sepertinya pria itu memang sudah tidak sabar.

__ADS_1


Satu jam kemudian seluruh tamu undangan sudah pulang dan sekarang yang tinggal hanyalah keluarga Sonia. Karena Abraham memang tidak memiliki siapapun lagi selain keponakannya, Revina.


"Tuan, eh papa." Abraham merasa canggung memanggil Heru dengan sebutan papa karena saat ini Heru sudah menjadi ayah mertuanya.


"Kita, aku dan Sonia permisi." Abraham berpamitan dengan kaku di hadapan kedua orang tua istrinya.


"Iya, silahkan." balas Heru sedangkan istrinya menahan tawa melihat wajah Abraham yang tengah gugup.


Abraham mengandeng tangan Sonia membawa istrinya masuk ke dalam lift menuju kamar pengantin mereka di lantai atas. Abraham langsung menyambar bibir Sonia begitu masuk ke dalam lift. Ia baru melepas tautan bibirnya ketika pintu lift terbuka saat sudah tiba di lantai yang di tuju.


Dengan tidak sabar Abraham mengangkat tubuh istrinya berjalan menuju kamar meskipun wanita itu memberontak.


"Turunkan aku. Aku masih bisa berjalan sendiri." kata Sonia kesal.


"Menurut atau aku akan melakukan yang lebih lagi di sini. Biar cctv itu merekamnya." ancam Abraham yang membuat Sonia tidak berkutik.


Abraham menurunkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dan langsung mengukug tubuh wanita itu.


"Tunggu ! aku ingin ke kamar mandi sebentar." Sonia beralasan karena sebenarnya ia sungguh belum siap untuk melakukan malam pertamanya dengan pria yang sudah menjadi suaminya sekarang.


"Itu pasti hanya alasan mu saja." Abraham ingin melanjutkan keinginannya tapi lagi-lagi Sonia menahannya.


"Tidak. Aku benar-benar ingin buang air dan juga harus membersihkan diri. Saat ini sangat tidak nyaman." kata Sonia lagi dan sepertinya berhasil.


Abraham mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Sonia dan membiarkan wanita itu pergi ke kamar mandi. Sementara Abraham harus menahan hasratnya yang sudah sampai di ubun-ubun. Tapi ia juga tidak mau memaksa istrinya.


Hampir satu jam Sonia mengurung dirinya di kamar mandi. Ia sengaja berlama-lama karena untuk menghindari Abraham.

__ADS_1


Saat Sonia keluar dari kamar mandi, ia merasa lega ketika mendapati Abraham tidak ada di dalam kamar. Sonia segera membuka lemari untuk mengambil pakaian yang sudah di siapkannya.


"Di mana pakaian ku ?" Sonia terkejut ketika tidak melihat baju-baju yang ia bawa tadi pagi tapi malah melihat beberapa potong linggere ****.


"Astaga. Baju apa ini ?" Sonia bergidik negeri melihat tampilan potongan baju yang begitu menantang. Ia meletakan kembali linggere itu di tempatnya semula.


Sonia kini beralih ke sebuah koper yang ia yakini milik suaminya. Tanpa berpikir panjang ia mengambil sebuah kemeja milik Abraham dan memakannya untuk menutupi tubuhnya.


"Ini lebih baik dari baju kurang bahan itu." Sonia menatap pantulan dirinya di cermin. Setidaknya kemeja itu menutup tubu bagian atasnya dengan sempurna. Meskipun hanya sebatas pahanya.


Sonia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Saat mendengar suara pintu terbuka, Sonia segera membungkus tubuhnya dengan selimut sampai ujung kepalanya.


Abraham masuk dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sonia menajamkan telinganya untuk mendengar apa yang dilakukan oleh Abraham. Sonia memejamkan mata seolah-olah ia sudah tertidur pulas saat mendengar suaminya keluar dari kamar mandi.


Tanpa Sonia duga Abraham menarik selimut dengan kuat sehingga menampakkan tubuh Sonia yang tadi bersembunyi di bawah kain tebal itu.


"Mengapa kau memakai itu ?" Abraham terkejut melihat Sonia memakai kemeja miliknya.


"A aku tidak punya baju. Jadi aku pinjam kemeja milik mu." jawab Sonia takut.


"Lebih bagus jika kau tidak pakai baju." Abraham tersenyum menyeringai.


Abraham hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Lalu ia berjalan mendekat sambil menatap Sonia penuh arti.


"Aku menginginkan mu malam ini." bisik Abraham memegang dagu Sonia kemudian mencium mesra bibir wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Ciuman itu kemudian turun ke leher jenjang Sonia. Tangan Abraham mulai membuka kancing kemeja yang dipakai oleh wanita itu satu persatu.

__ADS_1


Abraham menghentikan ciumannya saat Sonia menahan tangannya.


"Ada apa ?"


__ADS_2