
Saat ini sedang terjadi ketegangan di ruangan Felix. Pria itu jadi begitu kacau karena Revina tidak mempercayainya.
"Sekarang kau sudah mengetahuinya. Apa kau bisa membujuk Felix untuk membantu putri ku ?" kata Mia yang di tujukan untuk Revina.
"Izinkan Felix menikah dengan ku." lanjut Mia lagi.
"Tidak !" bukan Revina yang menjawabnya, melainkan Felix.
"Aku tidak akan menikah dengan mu atau dengan siapapun. Cukup hanya satu kali aku menikah dengan istri ku." kata Felix tegas.
"Baik. Tidak apa-apa kita tidak menikah. Kita bisa melakukan itu sampai aku hamil anak mu."
"Apa yang kau katakan ? Jangan bicara omong kosong. Sudah aku katakan, aku bukan ayahnya." Felix menyanggah perkataan Mia.
Sementara Revina yang melihat pertengkaran itu tidak tau harus mempercayai siapa. Sebagai sesama wanita, Revina bisa merasakan bagaimana perasaan Mia yang harus berusaha untuk menyembuhkan penyakit putrinya.
"Silahkan selesaikan masalah kalian." kata Revina yang berjalan menuju pintu.
"Sayang jangan pergi. Aku akan menunjukkan bukti jika apa yang aku katakan itu benar." Felix mencekal tangan Revina menahan agar istrinya tidak pergi.
Felix tidak akan membiarkan Revina pergi dalam keadaan yang masih salah paham seperti ini. Sebelah tangan Felix mengambil ponsel di sakunya kemudian menghubungi seseorang.
"Bawa buktinya ke ruangan ku sekarang !" perintah Felix.
Tidak sampai dua menit, asisten Felix datang dengan membawa sebuah amplop dan menyerahkan kepada Felix.
"Ini tuan."
Felix mengambil amplop itu dan menyerahkan kepada Revina "Lihatlah ini."
Felix melepaskan tangannya dari tangan Revina agar Revina bisa membuka amplop itu. Felix lebih memilih menyerahkan hasil tes DNA yang baru saja keluar dari rumah sakit tadi pagi kepada Revina dari pada Mia. Felix ingin membuat Revina percaya kepadanya meskipun Mia tetap kekeh menuduhnya.
"Bagaimana ? kau lihat sendirikan, bukan aku." ucap Felix di samping Revina.
"Apa itu ?" Mia mendekat ingin melihat kertas di tangan Revina, yang disebut bukti oleh Felix.
Revina menyerahkan kertas itu kepada Mia agar Mia membacanya sendiri. Di kertas itu tertulis jelas jika Felix sembilan puluh sembilan koma sembilan persen bukanlah ayah dari Lily.
__ADS_1
"Tidak, Felix. Aku tidak percaya. Bisa saja kau memalsukan hasil tes ini. Atau mungkin kau menyogok dokter dan petugas rumah sakit." Mia mulai menangis histeris karena hilang sudah harapannya untuk menyembuhkan putrinya.
"Aku tidak peduli jika kau tidak percaya. Aku hanya ingin membuktikan kepada istri ku jika aku tidak berbohong." kata Felix menatap tidak peduli pada Mia.
"Sayang sekarang kau percayakan ?" Felix beralih menatap Revina.
Sejenak Revina terdiam menatap dalam mata Felix untuk mencari kebenaran. Tapi entahlah, dia ingin percaya kepada Felix namun hatinya masih ragu. Akhirnya Revina memilih menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, sayang." Felix membawa Revina kedalam pelukannya. Kini Felix bisa bernapas lega karena Revina percaya padanya.
Mia keluar dari ruangan Felix dengan hati yang hancur. Bagaimana lagi ia harus membuktikan jika Felix adalah ayah dari anaknya.
Beberapa hari berlalu, meskipun Revina sudah mengatakan ia percaya tapi Felix seperti dapat merasakan jika sikap Revina berubah kepadanya. Apa mungkin dalam hati Revina masih meragukannya.
"Sayang, mengapa tidak menghabiskan susunya ?" tanya Felix yang melihat susu khusus ibu hamil masih setengah di gelas Revina.
"Aku sudah kenyang."
Felix hanya mengangguk mendengar jawaban Revina.
"Tidak. Aku mau tinggal di rumah saja." balas Revina seadanya.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi. Hati-hati di rumah. Jika ada apa-apa, hubungi aku." Felix mengecup kening Revina sebelum ia meninggalkan rumah.
Menjelang makan siang. Felix mencoba menghubungi Revina. Seperti biasanya Felix ingin mengingatkan istrinya untuk makan siang. Tapi sudah tiga kali panggilan Revina tidak menjawabnya.
Beberapa saat kemudian asisten Felix masuk dengan tergesa-gesa ke ruangan tuannya.
"Maaf tuan. Nona pingsan di rumah dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit."
"Apa !" Felix terkejut mendengar berita yang baru di sampaikan oleh asistennya.
Felix langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan istri ku ?" tanya Felix kepada dokter yang sedang memeriksa Revina.
"Kondisinya tubuhnya saat ini sangat lemah. Tapi beruntung bayi dalam kandungannya tidak apa-apa." terang dokter kandungan yang biasa memeriksa Revina.
__ADS_1
Felix mengusap wajahnya kasar karena merasa telah lalai menjaga istrinya. Ternyata bukan hanya sekedar perasaan Felix yang merasakan perubahan pada Revina. Felix menghela napasnya merasa menyesal. Menyesal karena tidak jujur dari awal kepada Revina sehingga Revina harus mendengar dari Mia.
Felix mengengam erat tangan Revina yang masih belum sadar "Maafkan aku." Felix mencium tangan Revina yang ada di genggamannya.
Felix tersenyum melihat Revina yang baru saja membuka matanya.
"Selamat pagi, sayang." Felix mengecup kening Revina.
Sore kemarin Revina memang sudah sadar dari pingsannya. Tapi dokter menyarankan agar Revina dirawat di rumah sakit satu atau dua hari lagi sampai kondisi tubuh Revina benar-benar pulih.
"Mau sarapan bubur atau minum susunya dulu ?" tanya Felix sambil membantu Revina duduk.
"Aku mau makan jeruk." pinta Revina yang melihat ada jeruk di napan. Rasanya pasti akan sangat menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Revina menelan ludahnya melihat buah yang berwarna oranye tersebut.
Felix mengambil buah jeruk dan mengupasnya terlebih dahulu sebelum memberikan kepada Revina.
"Kau tidak pergi bekerja ?" tanya Revina yang baru menyadari jika Felix memakai pakaian santai.
"Tidak. Aku ingin menjaga mu saja."
"Tapi aku sudah tidak apa-apa." balas Revina.
"Kemarin-kemarin juga kau mengatakan tidak apa-apa. Tapi lihat sekarang kau terbaring di rumah sakit."
Revina menunduk mendengar perkataan Felix.
"Maafkan, aku yang sudah membuat mu seperti ini. Meskipun kau tidak mengatakannya tapi aku tahu kau masih meragukan aku." Felix berucap dengan nada menyesal.
"Aku masih berusaha menyuruh orang untuk menyelidiki dan mencari ayah anak itu. Supaya kau dan wanita itu benar-benar yakin kalau bukan aku ayahnya." Felix sengaja memberitahukan kepada Revina agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi yang bisa membuat Revina sakit.
"Dan juga untuk dapat menyembuhkan penyakit anak itu." lanjut Felix.
Revina hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Felix sambil memakan buah jeruk yang kini terasa hambar.
"Ayo, sekarang makan bubur. Aku suapkan." Felix mengambil sendok bubur sekaligus mengalihkan pembicaraan saat melihat perubahan pada air muka Revina.
"Kau harus makan yang banyak sayang agar tubuh mu kembali sehat. Aku sangat khawatir saat dokter mengatakan tubuh mu sangat lemah kemarin."
__ADS_1