Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Abraham dan Wanita Lain


__ADS_3

Hari ini Sonia pulang kerja lebih awal. Ia sudah berjanji akan menemani Revina berenang di kolam renang belakang.


"Kau menyukai kegiatan berenang ?" Sonia berjalan di samping Revina menuju halaman belakang.


"Tidak juga. Dokter menyarankan berenang untuk kesehatan ibu hamil." Sonia mengangguk mendengar jawaban Revina.


Saat melewati ruang tengah mereka bertemu dengan Abraham yang baru saja pulang bersama seorang wanita cantik dan yang pastinya seksi.


"Paman sudah pulang ?" sapa Revina. Sedangkan Sonia hanya diam melihat suaminya pulang bersama wanita lain.


"Iya." jawab Abraham singkat.


"Kau mau berenang ?" Abraham melihat penampilan istri dan keponakannya memakai bathrobe.


Revina mengangguk mengiyakan. Kemudian Abraham melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerja. Wanita itu menunduk hormat kepada Sonia dan Revina sebelum pergi mengikuti Abraham.


Sonia menatap nanar punggung Abraham yang semakin menjauh. Perasaan Sonia menjadi tidak menentu melihat Abraham bersama wanita itu masuk ke ruang kerja.


"Sonia, ayo." Revina menyentuh tangan Sonia karena wanita melamun dan tidak bergerak.


"Ah. Iya." Sonia melanjutkan langkahnya berjalan bersama Revina.


Sonia hanya berendam di dalam kolom menemani Revina yang berenang ke sana kemari sambil bercerita. Hanya sesekali Sonia menanggapi perkataan Revina karena pikirannya saat ini sedang melayang memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh Abraham dan wanita itu.


"Sonia, kau kenapa ?" Revina merasa aneh melihat Sonia yang hanya diam sejak tadi seperti ada yang sedang ia pikirkan.


"Tidak apa-apa." Sonia menjawab seadanya.


"Kau sudah lama berenang. Sebaiknya kau istirahat sekarang. Ingat pesan dokter, jangan terlalu lelah." Sonia membantu Revina keluar dari kolam renang.


Abraham membuka dasi dan kancing kemejanya, tiba-tiba saja dia merasa gerah di dalam ruangan ber-AC.


"Sudah selesai, tuan."


Abraham menutup kembali tirai jendela yang menghadap ke arah kolam renang. Ya, sejak tadi Abraham terus memperhatikan Sonia yang sedang berenang bersama Revina. Meskipun Sonia lebih banyak termenung.


"Kau boleh pergi." perintah Abraham kepada staf sekretaris di kantornya.


Wanita itu langsung keluar dari ruangan Abraham setelah mendengar perintah dari bos-nya bersama berkas yang di carinya. Sonia menghentikan langkahnya saat ia melihat wanita itu keluar dari ruangan kerja Abraham. Tak lama kemudian di susul oleh Abraham yang juga keluar dari ruangan itu dengan kemeja yang dua kancing bagian atas sudah terbuka. Abraham yang tidak menyadari keberadaan Sonia langsung berjalan menuju kamarnya.


Sonia terlonjak kaget saat seseorang menepuk pundaknya.


"Ah, Revina. Kau mengagetkan ku." Sonia memegang dadanya yang berdebar kuat karena terkejut.


"Apa yang kau lihat ?" tanya Revina.

__ADS_1


"Tidak ada." Sonia ingin melangkah menuju ke kamarnya. Tapi Revina menahan lengannya.


"Aku ingin bicara dengan mu." kata Revina menatap serius isteri dari Pamannya.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Sonia datang ke kamar Revina seperti yang di minta oleh wanita yang sedang hamil itu.


"Apa yang kau ingin bicarakan ?" Sonia mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam kamar Revina.


Revina berjalan menuju ke arah pintu dan menguncinya. Sonia merasa bingung, mengapa Revina harus mengunci pintu. Apa sesuatu yang sangat penting ?


"Bagai mana hubungan kau dan paman ?" tanya Revina setelah mendudukkan tubuhnya di samping Sonia.


"Hu hubungan kami baik-baik saja." Sonia tersenyum tipis menjawab pertanyaan Revina.


"Jangan bohong. Aku tau kau pasti menyembunyikan sesuatu." tebak Revina.


Selama kurang lebih dua minggu tinggal bersama, Revina melihat interaksi antara Sonia dan pamannya terlihat dingin dan kaku.


"Kau bisa menceritakan pada ku. Jangan di pendam sendiri." Revina memegang tangan Sonia melihat perubahan di wajah wanita yang sudah di anggap sebagai temannya.


Sonia menghela napas panjang. Wajahnya terlihat bersedih.


"Aku rasa dia marah pada ku." kata Sonia sambil mengingat saat Abraham meninggalkannya di malam pengantin mereka.


"Sebenarnya malam itu .." Sonia mulai menceritakan kisah hari pertama mereka jadi suami istri. Abraham berubah menjadi dingin dan seperti menghindar dari bertemu dengannya.


Meskipun mereka tinggal di kamar yang sama, Abraham belum kembali ke kamar saat Sonia tidur dan Abraham sudah pergi bekerja saat Sonia bangun. Sonia juga sudah beberapa kali melihat Abraham pulang bersama wanita cantik dan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Hati wanita mana yang tidak sakit melihat suaminya hanya berdua dengan wanita lain di dalam satu ruangan. Meskipun Sonia tidak mencintai Abraham tapi tetap saja Abraham adalah suaminya dan Sonia tidak ingin berbagi dengan wanita lain.


Sonia mengusap air mata yang mengalir di pipinya setelah menceritakan bagaimana perasaannya selama dua bulan ini menikah dengan Abraham.


"Mungkin memang aku yang salah. Sehingga ia berbuat begitu." Sonia terisak menyadari kesalahannya.


"Apa kau pernah membicarakan tentang ini dengan paman ?"


Sonia menggeleng menjawab pertanyaan Revina. Mereka memang tidak pernah membicarakan tentang itu lagi setelah malam itu.


"Kau mencintai paman ?" tanya Revina lagi.


"Aku tidak tahu." Sonia mengangkat kedua bahunya. Ia sendiri bingung dengan perasaannya kepada Abraham.


"Tapi kau cemburukan melihat paman bersama wanita tadi ?" goda Revina sambil menaik turunkan alisnya.


"Siapa yang tidak cemburu ketika melihat suaminya bersama dengan wanita lain masuk berdua di dalam sebuah ruangan. Apa lagi wanita itu cantik dan seksi. Aku rasa kau juga pasti cemburu." Sonia yang sempat bersedih tadi kini dengan semangat meluapkan perasaan cemburunya.


Revina terkekeh melihat wajah cemburu Sonia. Sudah Revina duga istri Pamannya itu memang cemburu saat melihat Abraham dan wanita tadi.

__ADS_1


"Jika kau cemburu itu artinya kau mencintai paman." Revina menjelaskan.


"Ah, begitu saja tidak tahu." lanjut Revina lagi.


"Tapi aku .."


"Sudah. Kau tidak perlu mengakuinya di depan ku. Aku sudah tahu." potong Revina.


"Aku rasa dia tidak mencintai ku." kata Sonia sedih.


"Dari mana kau tau ? jika dia tidak mencintai mu, untuk apa dia menikahi mu ?" tanya Revina berturut-turut.


"Kau saja tidak tau. Paman mu itu hanya ingin balas dendam pada ku." jawab Sonia.


"Balas dendam ?" Revina terkejut. Ia baru mengetahui jika Sonia dan Abraham punya masa lalu.


"Memangnya kau pernah berbuat salah padanya ?" tanya Revina ingin tahu.


Sonia pun menceritakan tentang bagaimana awal pertemuan dia dengan Abraham dan perbuatan nekatnya yang membuat Abraham tidak akan melepaskannya.


Revina tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Sonia.


"Astaga. Aku tidak menyangka kau bisa berbuat nekat seperti itu." Revina menatap Sonia tidak percaya.


"Huh, namanya juga nekat jadi orang bisa melakukan apa saja." kata Sonia kesal karena Revina terus menertawakannya.


"Jadi gara-gara itu kau mengatakan jika paman menikahi mu karena ingin balas dendam ?" Sonia mengangguk menjawab pertanyaan Revina.


"Tidak. Kau salah besar." Revina menyangkal pemikiran Sonia.


"Aku akan memberi tahu mu tentang rahasia paman." kata Revina lagi.


"Rahasia apa ?" Sonia mengkerutkan keningnya tidak mengerti.


"Sebuah rahasia yang akan mengubah pemikiran mu menilai paman ku."


"Apa ?" tanya Sonia tidak sabar.


"Sebenarnya paman itu ..."


Kalimat Revina terhenti saat mendengar suara ketukan dari pintu kamar. Sonia segera beranjak untuk membuka pintu kamar melihat siapa yang mencari Revina.


"Maaf nona. Tuan sudah menunggu untuk makan malam." beritahu pelayan.


"Ayo, kita keluar sekarang." ajak Sonia kepada Revina yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2