
Revina baru saja ingin pergi bekerja, ia bertemu Abraham yang baru saja tiba di halaman.
"Paman sudah pulang ?" tanya Revina. Abraham memang sering pergi ke luar negeri dengan tiba-tiba. Begitu juga ia akan pulang dengan waktu yang tidak bisa di tentukan.
"Hem." jawab Abraham singkat. Begitulah sikap pamannya yang sudah diketahui Revina. Irit bicara.
Malam harinya Revina menemui Abraham di ruang kerjanya.
"Ada apa ?" tanya Abraham yang masih fokus pada kerjaannya tanpa menoleh ke arah Revina.
"Paman, bisakah aku menemui papa. Em, maksud ku papa Jonatan." tanya Revina ragu-ragu.
"Kapan kau ingin menemuinya ?"
"Besok. Pulang dari kerja." jawab Revina yakin.
Abraham hanya mengangguk menanggapi perkataan Revina. Membuat wanita itu ingin keluar dari sana karena tidak ada yang ingin ia bicarakan lagi.
"Tunggu." suara Abraham menghentikan langkah Revina dan memutar badannya kembali menghadap pamannya.
"Duduklah. Ada yang ingin aku tanyakan." ucap Abraham sambil menutup berkas di depannya.
__ADS_1
"Paman ingin menanyakan apa ?" Revina sudah duduk di depan Abraham.
"Sejauh mana kau mengenal suami mu ?" tanya Abraham yang membuat Revina tercengang sejenak sebelum menjawab.
"Felix. Hubungan kami baru membaik beberapa bulan ini. Aku berusaha untuk menerimanya dan baru mengenalnya." jawab Revina jujur.
"Apa dia pernah menceritakan tentang keluarganya ?" tanya Abraham ingin tahu.
Revina mengangguk. "Pernah. Hubungan Felix dan ayahnya sedikit bermasalah. Tapi sekarang sepertinya sudah membaik karena Felix bersedia membantu usaha ayahnya dan ayahnya juga sudah meminta maaf."
Abraham diam mencerna perkataan Revina. Mungkin benar kata Felix. Dia tidak menyembunyikan apapun dari Revina selain dari nama belakangnya, Maxim.
"Bulan depan aku akan bertunangan. Acaranya akan diadakan di London. Kau mau ikut ? sekalian bisa bertemu dengan suami mu."
"Aku mau ikut." jawab Revina antusias.
"Selamat buat paman atas pertunangannya." ucap Revina bahagia meskipun ia belum tau siapa calon tunangan Abraham.
*
Keesokan harinya seperti yang telah di rencanakan oleh Revina, ia ingin pergi menemui Jonatan. Di depan perusahaan Revina tidak mendapati supir pribadi yang biasa mengantarkannya pergi dan pulang kerja. Baru saja ia akan menelpon, sebuah mobil yang sangat dikenalnya berhenti tepat didepannya.
__ADS_1
"Masuklah. Aku akan mengantar mu." perintah Abraham yang sudah duduk dalam mobil.
Mau tidak mau Revina mengikuti perintah pamannya dan masuk ke dalam mobil. Revina kini kembali menginjakkan kakinya di rumah yang sudah hampir tiga bulan ia tinggalkan. Ia mendapati keadaan rumah yang begitu sepi. Revina membuka pintu langsung di sambut suara sinis Asila.
"Masih ingat kau jalan pulang ke rumah ini ?"
"Aku ingin bertemu dengan papa." kata Revina tanpa menggubris pertanyaan Asila.
"Revina, kau pulang nak." Jonatan tiba keluar dari kamar langsung menuju ke arah Revina ingin memeluk keponakannya yang sejak kecil ia jaga. Belum sempat Jonatan meraih tubuh Revina, Abraham tiba-tiba saja menghalangi pria itu.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak mendekati Revina lagi." Abraham menatap tajam ke arah Jonatan.
"Mengapa papa menyembunyikan ini semua ?" Revina menatap nanar wajah Jonatan yang terlihat sangat kusut.
"Papa bukan mau menyembunyikan dari mu, Revina. Hanya saja papa menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan pada mu. Papa tidak tega karena kau sudah papa anggap seperti putri papa sendiri. Papa tidak ingin membuat mu bersedih, Revina." kata Jonatan menjelaskan.
Cih
Abraham muak mendengar alasan Jonatan. Jonatan memang menyayangi Revina. Tapi sifat tamaknya membuat Jonatan lupa dengan janjinya kepada Abraham untuk menyerahkan kembali perusahaan kepada Revina setelah Revina dewasa.
"Tapi aku berhak mengetahui tentang diri ku yang sebenarnya, pa. Selama ini mama dan papa pilih kasih dan lebih menyayangi Jasse. Jika dari awal aku tahu aku bukan anak kandung kalian, aku tidak akan kecewa." kata Revina dengan nada kecewa mengingat bagaimana ia di perlakukan tidak adil selama ini.
__ADS_1
"Maafkan papa, Revina. Papa akui memang salah papa telah menyembunyikan kenyataan yang sebenar dari mu." ada rasa penyesalan di hari Jonatan setelah semua ini terjadi.
Jika saja Jonatan jujur dan amanah dalam menjalankan janjinya, mungkin saja Abraham tidak akan sekejam ini terhadap Jonatan.