
Abraham menghentikan pekerjaannya melihat kedatangan Felix. Ia sudah menduga jika suami dari keponakannya itu pasti akan datang.
"Aku tidak akan mengizinkan mu untuk bertemu dengannya selagi kau belum menyelesaikan masalah mu." Abraham menatap pria yang sedang berdiri di depannya.
"Revina sedang hamil, dia pasti membutuhkan aku." Felix memberikan alasan agar Abraham mengizinkannya untuk bertemu Revina.
"Tidak. Saat ini yang dia butuhkan hanyalah ketenangan. Kehadiran mu hanya membuatnya bersedih dan tertekan." balas Abraham.
"Kau tidak perlu mencemaskan keadaan Revina. Aku akan menjamin keselamatannya dan juga bayinya." lanjut Abraham lagi.
"Tapi aku ingin menemui istri ku." Felix bersikeras.
"Kau lupa apa yang aku katakan ?" Abraham tersenyum menyeringai.
"Sekali saja kau menyakitinya, aku akan mengambilnya dari mu." Abraham mengingatkan.
Felix menghela napasnya karena sadar akan kesalahannya.
"Baiklah. Aku akan buktikan jika aku tidak melakukannya dan setelah itu kau harus berjanji akan mengizinkan aku berbicara dengan Revina untuk meyakinkannya." pinta Felix.
Memaksa Abraham untuk mempertemukannya dengan Revina bukan jalan yang tepat karena Felix sangat memahami karakter orang seperti Abraham yang tidak bisa di paksa.
"Itu lebih baik dari pada kau terus menunggu di sini. Karena aku tidak akan mengizinkan mu bertemu Revina lagi jika kau tidak bisa membuktikan kata-kata mu." balas Abraham.
Felix langsung keluar dari ruangan Abraham tanpa permisi. Saat ini yang jadi tujuannya adalah Sonia. Sepupu perempuannya yang selalu bisa dia andalkan.
Tak sampai setengah jam, Felix sudah tiba di Pure Paradise Hotel. Sonia yang sudah bersiap-siap untuk pulang, terkejut melihat kedatangan Felix yang tiba-tiba dan terlihat sangat kacau.
"Ada apa dengan mu ? kapan kau kembali ke sini ?" tanya Sonia yang melihat Felix merebahkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya.
"Aku baru saja tiba dua jam yang lalu ke sini." Felix menghembuskan napas dengan mata yang masih terpejam. Tubuhnya terasa sangat lelah tapi itu tidak bisa di bandingkan dengan rasa kehilangan Revina.
"Kau terlihat sangat berantakan." Sonia menggelengkan kepalanya melihat penampilan Felix saat ini.
"Di mana Revina ? apa kau sendirian ?" tanya Sonia lagi.
__ADS_1
Felix terkesiap mendengar Sonia menanyakan tentang Revina. Apa mungkin wanita ini tidak mengetahui jika Abraham telah membawa Revina ? batin Felix.
Felix kembali membuang napasnya "Suami mu telah membawa Revina."
"Apa !" Sonia terkejut mendengar penuturan Felix.
"Tapi kenapa ?" lanjut Sonia yang memang
tidak tahu apa-apa.
"Jadi kau tidak tahu ?" tanya Felix yang di jawab dengan gelengan oleh Sonia.
Felix pun menceritakan semuanya kepada Sonia dan meminta Sonia untuk membantunya mencari tahu dimana keberadaan Revina yang di sembunyikan oleh Abraham.
Hari ini Sonia pulang terlambat karena bertemu dengan Felix dan membicarakan tentang masalah yang sedang dihadapi oleh sepupunya itu.
Saat Sonia baru tiba di rumah, ia terkejut melihat seorang wanita cantik dan seksi keluar dari ruangan kerja Abraham. Wanita itu lalu pergi menuju pintu keluar tanpa menyadari keberadaan Sonia yang sedang berdiri di depan tangga.
Belum habis keterkejutan Sonia, kini wanita itu kembali terkejut melihat suaminya juga baru keluar dari ruangan yang sama dengan bertelanjang dada serta tubuhnya di penuhi keringat. Abraham juga tidak melihat Sonia karena pria itu berjalan menuju dapur.
Perasaan Sonia bercampur aduk saat ini. Otaknya juga jadi memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Abraham dan wanita seksi itu. Sonia meletakkan tasnya di nakas begitu sampai di dalam kamar. Ia kemudian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan juga pikirannya dari memikirkan hal yang kotor yang mungkin saja terjadi antara suaminya dan juga wanita itu.
"Oh, astaga. Pantas saja Revina sampai masuk rumah sakit." Sonia memegang dadanya yang terasa sesak dan membuatnya susah bernapas.
Sonia terkesiap melihat Abraham di depannya ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi. Beruntung saat ini Sonia sudah memakai pakaian lengkap. Tapi sialnya ia kembali harus melihat tubuh Abraham. Tubuh yang terlihat seksi karena di hiasi oleh otot-otot six pack yang liat.
Sonia menelan ludahnya dengan susah payah melihat pemandangan di depannya. Seketika pikirannya buyar saat Abraham masuk ke dalam kamar mandi dengan melewatinya begitu saja. Bahkan pria itu sedikitpun tidak melihat kearahnya apalagi menyapanya.
Sonia sengaja menunggu Abraham keluar dari kamar mandi untuk menanyakan sesuatu yang sejak tadi menganggu pikirannya. Ia langsung berdiri saat Abraham baru saja membuka pintu kamar mandi.
"Di mana Revina ?" Sonia bertanya tanpa memperdulikan penampilan Abraham yang hanya menggunakan handuk di pinggannya dan bertelanjang dada.
Abraham menatap istrinya sejenak sebelum ia mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
"Mengapa kau membawanya pergi ?" tanya Sonia lagi karena Abraham tidak menjawab pertanyaannya yang pertama. Pria itu malah dengan santainya memakai pakaian di depannya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusannya, Abraham berjalan mendekat ke arah Sonia.
"Aku rasa kau sudah tahu mengapa aku membawanya. Sepupu mu itu pasti sudah menceritakan semuanya kepada mu." jawab Abraham berdiri tepat di hadapan istrinya.
"Tapi mengapa kau membawanya ? seharusnya kau membiarkan mereka bicara dan menyelesaikan masalah rumah tangga mereka." balas Sonia yang merasa tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh Abraham.
"Kau benar. Seharusnya mereka menyelesaikan masalah rumah tangga mereka dan kita menyelesaikan masalah rumah tangga kita."
"A apa maksud mu ?" Sonia tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Abraham.
Abraham melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Sonia. Meninggalkan wanita itu dengan segala pemikirannya.
Sementara itu di rumah mewah milik keluarga Maxim. Mery baru saja menerima laporan jika saat ini Felix sudah berangkat kembali ke London dengan menggunakan pesawat komersial. Mery begitu salut melihat kegigihan putranya. Sejak dulu Felix selalu berusaha dengan keras jika ia menginginkan sesuatu. Ia akan berusaha sampai apa yang diinginkannya itu tercapai.
"Ini yang anda minta, nyonya." seorang pelayan menyerahkan sebuah napan yang berisi berbagai macam buah-buahan yang sudah di potong dan juga segelas susu.
"Terima kasih." Mery segera mengambil napan itu dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar.
"Sayang, sedang apa ?" Mery tersenyum melihat seorang wanita yang sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca sebuah buku.
"Aku sedang membaca ini, mom." Revina menunjukkan buku di tangannya kepada Mery yang berjalan menghampirinya.
"Mommy membawakan buah-buahan untuk mu." Mery meletakkan napan yang di bawanya di meja samping tempat tidur.
"Terima kasih, mom. Aku baru saja selesai makan dan masih kenyang." ucap Revina jujur.
"Makan semampunya saja. Ibu hamil biasanya mudah lapar dan harus selalu memakan cemilan." ucap Mery lembut penuh perhatian terhadap Revina.
Ya, saat ini Revina sedang berada di rumah keluarga suaminya. Abraham memang menyuruh orang untuk mengambil Revina dari Felix dan ia bekerja sama dengan Mery untuk menyembunyikan Revina. Mery meminta kepada Abraham untuk menjaga menantunya agar ia bisa memastikan kesehatan Revina dan bayi yang sedang di dalam kandungannya.
"Maafkan mommy, sayang. Bukan maksud mommy ingin memisahkan kalian. Tapi mommy tidak ingin kau jatuh sakit lagi memikirkan tentang Felix. Mommy kasihan melihat mu di sana sendirian. Dan juga mommy ingin memberikan sedikit pelajaran kepada anak itu supaya ia tidak lagi menyembunyikan apapun dari mu." kata Mery panjang lebar.
"Terima kasih, mom sudah mengkhawatirkan ku." balas Revina terharu.
"Mommy begitu sayang pada mu. Mommy sudah mengagap mu seperti anak sendiri." Mery memeluk Revina.
__ADS_1
"Kau jangan terlalu banyak pikiran. Mommy yakin Felix tidak seperti yang dituduhkan wanita itu. Mommy sangat mengenal Felix. Ia tidak akan menyentuh sesuatu yang bukan miliknya." kata Mery lagi.
"Ma maksud mommy ?" Revina jadi gelagapan mendengar perkataan ibu mertuanya.