Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Bukan Aku


__ADS_3

Abraham menjauhkan tubuhnya dari Sonia setelah mendengar pengakuan dari wanita itu. Pria itu mengambil pakaian dan memakainya dengan cepat. Setelah itu Abraham keluar dari kamar tanpa sepatah kata meninggalkan Sonia. Sementara Sonia terdiam di tempat tidur melihat Abraham pergi.


Apa aku salah bicara ? apa kata-kata ku melukainya ? batin Sonia. Padahal aku hanya mengatakan jika aku belum siap untuk menjadi istri sepenuhnya. Aku belum siap melakukan itu.


Tak ingin berpikiran yang tidak-tidak, Sonia membaringkan tubuhnya dengan nyaman meskipun jauh di dalam hatinya merasa cemas jika sampai Abraham marah kepadanya.


Pagi harinya Sonia terbangun tidak mendapati Abraham di sampingnya. Apa dia tidak pulang ke kamar tadi malam ? dia tidur di mana ? Sonia melihat tempat tidur di sampingnya masih rapi.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Sonia turun ke restoran hotel untuk sarapan. Sonia terkesiap melihat Abraham sudah berkumpul bersama keluarganya. Felix dan Revina juga ada di sana.


"Sayang, bagaimana tidur mu tadi malam ?" tanya mamanya menggoda Sonia.


"Biasa saja, ma." jawab Sonia datar sambil mengambil makanannya ke piring.


"Sonia mengapa kau tidak mengambilkan makanan untuk suami mu ?" Yuli menegur putrinya.


Sonia melihat ke arah Abraham, memang belum ada piring di depannya hanya ada segelas kopi yang masih utuh. Dengan senyum terpaksa Sonia mulai mengambilkan sarapan untuk Abraham yang duduk di sampingnya. Saat Sonia tiba di restoran, Abraham juga baru saja tiba beberapa saat lebih dulu dari Sonia.


Setelah selesai sarapan, semua orang pergi kembali melakukan aktivitas masing-masing. Sekarang hanya tinggal Abraham dan Sonia yang saling berdiam diri dalam suasana yang canggung.


Sonia tidak tahu harus bagaimana untuk memulai pembicaraan dengan Abraham. Apakah dia harus bertanya kepada pria itu pergi ke mana tadi malam. Tidak, tidak, aku tidak akan melakukannya.


Sedang Sonia berperang dengan batinnya, tiba-tiba Abraham bangun dari duduknya.


"Aku akan pergi ke kantor. Sore nanti asisten ku akan mengantarkan mu pulang ke rumah." Abraham berkata dengan dingin.


Setelah mengatakan itu pria itu langsung pergi tanpa menoleh ke belakang.


Saat ini Sonia sedang duduk di ruangannya. Sejak tadi ia melihat rekaman cctv di hotel. Seperti yang ia duga, Abraham tidak kembali lagi setelah pergi dari kamar tadi malam. Baru tadi pagi Abraham datang ke hotel dan langsung menuju restoran untuk sarapan bersama keluarganya.

__ADS_1


Lamunan Sonia buyar ketika seorang staf hotel datang.


"Ada apa ?" Sonia mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Asisten suami anda sedang menunggu di luar." kata wanita yang memakai seragam khas Pure Paradise Hotel.


"Oh, suruh dia menunggu sebentar." Sonia segera mengemas barang-barangnya untuk di bawa pulang ke rumah suaminya.


Lebih kurang tiga puluh menit Sonia sudah tiba di rumah Abraham. Seorang pelayan mengantarkannya ke kamar. Abraham masih belum pulang dari kantornya. Sonia kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sonia melihat jam di tangannya, masih sore. Biasanya Abraham akan pulang pukul enam. Sonia lantas membaringkan tubuhnya di tempat tidur sehingga ia tertidur.


Ketukan pintu kamar menyadarkan Sonia. Seorang pelayan memberi tahu jika sudah waktunya untuk makan malam. Sonia melihatnya ternyata hari sudah malam. Ia bergegas bangun untuk melihat apakah Abraham sudah pulang atau belum. Saat Sonia tiba meja makan, Abraham sudah ada di sana.


Sejak kapan dia pulang ? bahkan pria itu sudah berganti pakaian. Apa tadi ia tidur begitu nyenyak sehingga tidak sadar saat Abraham pulang dan masuk ke kamar.


Abraham dan Sonia menikmati makan dalam diam. Sesekali wanita itu melirik ke arah suaminya. Namun Abraham terlihat begitu acuh seolah-olah tidak menyadari jika Sonia meliriknya.


Sementara di dalam kamar, Sonia masih belum bisa memejamkan matanya. Sudah hampir pukul sebelas malam tapi Abraham belum juga masuk ke kamar. Apa mungkin pria itu tidur di kamar yang lain. Sonia menghela napasnya memikirkan apakah ia telah berbuat salah kepada Abraham atau mungkin ada kata-katanya yang menyingung pria itu. Ingin bertanya, tapi Sonia tidak memiliki keberanian untuk itu. Sonia akhirnya tertidur karena sudah mengantuk.


Saat pagi hari Sonia terbangun, ia juga tidak melihat keberadaan Abraham dan ketika wanita itu menanyakan kepada pelayan, Abraham sudah berangkat pagi-pagi sekali.


Sonia menghela napasnya melihat sikap Abraham. Jika dulu sebelum menikah, pria itu sangat cerewet dan pemaksa. Bahkan suka sekali menciumnya tanpa permisi. Tapi sekarang setelah menikah Abraham menjadi dingin dan acuh.


*


Felix dan Revina baru saja tiba di London saat hari menjelang malam. Setelah makan malam dan mengantarkan Revina beristirahat di kamar, Felix masuk ke ruangan kerjanya. Ia harus mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk karena di tinggal beberapa hari sebelum semakin bertambah.


Setelah melewati tengah malam Felix baru kembali ke kamar. Ia melihat Revina sudah tertidur pulas. Felix pun ikut merebahkan diri di samping istrinya dan tidur sambil memeluk tubuh wanita yang sedang mengandung anaknya. Semakin hari semakin bertambah besar rasa cinta yang ia rasakan kepada wanita yang sudah hampir satu tahun menjadi istrinya. Rasanya ia tidak sanggup untuk berpisah dengan Revina.

__ADS_1


Keesokan harinya, Felix bekerja seperti biasa. Menjelang tengah hari, Mia kembali datang untuk menemui Felix. Mia tersenyum melihat Felix. Akhirnya ia bisa bertemu dengan pria yang sudah berjanji akan membantunya.


"Felix kau sudah kembali ? kemarin aku datang ke sini tapi kau tidak ada." kata Mia sambil berjalan mendekat ke meja kerja Felix.


"Mengapa kau datang lagi ke mari ?"


Mia terkesiap mendengar pertanyaan Felix. Bukankah pria itu sudah mengatakan akan membantunya beberapa hari yang lalu.


"Apa maksud mu menanyakan itu ? bukankah kau sudah berjanji akan membantu ku. Apa kau lupa ?" Mia mengingatkan.


"Aku tidak lupa. Saat ini aku masih berusaha untuk mencari ayah dari anak mu."


"Apa maksud mu mencari ayah dari anak ku. Bukannya kau sendiri adalah ayahnya ?" tanya Mia dengan suara bergetar menahan marah.


"APA ?"


Felix dan Mia menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari pintu masuk.


"Revina !"


Felix terkejut melihat Revina yang tiba-tiba saja masuk ke ruangannya. Revina memang sengaja tidak memberi tahukan kedatangannya kepada Felix. Ia ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Tapi malah ia yang terkejut.


"Ternyata benar apa yang aku pikirkan ? kau adalah ayah dari anak itu." kata Revina sambil menahan sesak di dadanya mendengar perkataan Mia.


"Tidak. Itu tidak benar, sayang. Bukan aku Ayahnya." Felix berjalan menuju Revina.


Felix ingin memeluk Revina untuk menenangkan tapi dengan cepat Revina menepis tangan Felix dan menjauh dari jangkauan pria itu.


"Jangan menyentuh ku. Kau telah membohongi ku." kata Revina marah.

__ADS_1


"Aku tidak bohong. Aku bisa menjelaskannya pada mu. Percayalah !" Felix berusaha membujuk Revina.


Felix begitu takut Revina akan meninggalkannya. Sebisa mungkin Felix ingin menyembunyikan hal itu dari Revina. Tapi sayangnya Revina malah mendengar langsung dari mulut Mia.


__ADS_2