
Jasse sengaja menumpahkan minuman di tangan Revina ke tubuhnya sendiri saat melihat Nyonya Maxim berjalan di belakang Revina. Setelah itu ia berakting menangis pura-pura teraniaya oleh Revina dan memfitnah Revina agar semua orang yang ada di sana memandang buruk kepada Revina termasuk Nyonya Maxim.
Sementara itu Revina merasa gugup saat semua orang melihat kearahnya. Ia semakin terkejut saat melihat mommy Mery ternyata ada di belakangnya. Astaga, apa mommy mendengar apa yang di katakan oleh Jasse ? tanya Revina dalam hatinya.
"Mommy, a aku." Revina tergagap ketika mommy Mery hanya diam menatapnya.
Sedangkan Jasse tertawa dalam hati di balik wajah sedihnya. Merasa puas dengan apa yang telah terjadi. Nyonya Maxim pasti malu melihat apa yang telah di lakukan oleh Revina dan akan memarahi wanita yang sudah menjadi menantunya itu.
Revina menelan ludahnya dengan susah payah ketika menyadari kilatan kemarahan di wajah mommy Mery saat wanita paruh baya itu beralih melihat ke arah Jasse.
"Bagus, sayang. Seharusnya kau menamparnya juga seperti ini." kata Mery yang langsung melayangkan tangannya di pipi mulus Jasse.
Jasse memegang pipinya yang terasa panas. Ia merasakan sakit dua kali lipat karena tamparan dan juga karena malu. Mengapa wanita tua itu menamparnya dan malah membela Revina ? Semua orang yang ada di sana juga merasa terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Nyonya Maxim.
"Menjadi seorang Nyonya Maxim kau harus bersikap tegas dan keras. Karena ramai wanita di luar sana menginginkan posisi mu. Mereka sanggup melakukan apa saja untuk menjatuhkan mu termasuk juga memfitnah mu. Jadi kau harus kuat dan melawan untuk tetap mempertahankan posisi mu dari wanita seperti dia." Mery menunjuk ke arah Jasse
Semua orang setuju dengan apa yang di katakan oleh Nyonya Maxim dan kini semua mata menatap hina kearah wanita yang telah mempermalukan dirinya sendiri. Jasse sungguh sangat malu saat ini. Mengapa keadaan justru berbalik kepadanya. Tidak sesuai seperti apa yang ia rencanakan. Jasse segera pergi dari kerumunan orang-orang. Bahkan ia langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa memperdulikan di mana kedua orang tuanya saat ini.
"Kau tidak apa-apa, sayang ?" tanya mommy Mery lembut sambil mengengam tangan Revina.
"Aku baik-baik saja, mom. Terima kasih sudah membela ku." jawab Revina merasa lega. Ia tidak menyangka ibu mertuanya itu akan membelanya.
Sebenarnya Mery sudah mengetahui siapa sebenarnya Jasse. Sehingga dia tidak terkecoh dengan apa yang dilakukan oleh wanita jahat itu. Mery sudah lama menyelidiki orang-orang yang ada di sekeliling Revina untuk memastikan keamanan menantunya saat berada di luar sana.
Sekarang pesta sudah berjalan dengan normal kembali. Orang-orang dengan sekejap telah melupakan kejadian tadi.
Sementara itu di sebuah kamar yang tidak jauh dari tempat acara, Abraham menghentikan kegiatannya yang tengah mencium Sonia ketika ponselnya berdering berkali kali.
"Ada apa ?" tanya Abraham saat mengangkat panggilannya. Tangan sebelahnya lagi sedang mengusap bibir basah Sonia yang baru saja di lu matnya.
__ADS_1
"Terus awasi mereka. Aku akan mengurusnya setelah ini." lanjutnya lagi setelah mendengar berita dari seberang sana.
Abraham langsung menutup panggilan dan menyimpan kembali ponselnya di sakunya. Kemudian ia kembali mengecup sekilas bibir wanitanya.
"Sekarang kau bisa pergi." kata Abraham datar yang membuat Sonia membelalakkan mata, melotot kearahnya.
"Apa maksud mu ?" tanya Sonia marah.
Beberapa menit yang lalu Abraham tiba-tiba saja membawanya keluar dari ruangan tempat pesta menuju sebuah kamar. Pria yang sudah menjadi tunangannya itu langsung melahap bibirnya tanpa ampun sebelum suara ponselnya berbunyi. Dan setelah itu seenaknya saja Abraham menyuruhnya pergi.
Abraham membalikkan tubuhnya kembali menghadap Sonia saat mendengar pertanyaan dari wanita itu. Padahal Abraham sudah mau mencapai pintu keluar untuk keluar dari kamar itu.
"Kau tidak ingin pergi ? Baiklah, kita bisa melanjutkannya lagi jika kau masih mau." kata Abraham disertai seringan licik di wajahnya.
"Dasar gila." umpat Sonia yang berjalan cepat melewati Abraham begitu saja keluar kamar terlebih dahulu.
Abraham segera keluar sesaat setelah Sonia meninggalkannya. Baru saja ia mendapatkan kabar dari orang suruhannya jika Jasse telah mengganggu Revina dan membuat kekacauan di dalam pesta. Sekarang Abraham tidak akan mentolerir lagi perbuatan Jasse dan Jonatan harus menanggung akibatnya.
Abraham menghampiri Revina dan Felix beserta keluarganya untuk berpamitan.
"Tuan Maxim saya permisi dulu. Terima kasih telah mengadakan acara yang mewah ini untuk Revina." ucap Abraham kepada Eric.
"Sama-sama Tuan Wiliam. Jangan sungkan. Kita sudah menjadi keluarga sekarang." balas Eric.
Setelah Abraham pergi, Mery mendekat kepada Felix dan Revina.
"Felix bawalah istri mu kembali ke kamar. Sepertinya Revina sudah mengantuk." kata Mery kepada putranya.
"Ya, mom." jawab Felix singkat.
__ADS_1
"Ayo, sayang. Aku sudah tidak sabar." Felix berbisik perlahan di telinga istrinya.
"Kita permisi dulu, mom. Selamat malam." ucap Revina kepada mommy Mery.
"Malam juga, sayang." balas Mery menatap sayang pada Revina.
"Jangan membuatnya terlalu lelah, Felix. Mommy tau apa yang kau bisikkan pada Revina." Mery mengingatkan putranya.
Felix hanya melambaikan tangan kepada mommynya tampa menoleh ke belakang. Sungguh sejak tadi Felix sudah tidak sabar ingin membawa istrinya kembali ke kamar untuk melepaskan kerinduannya pada Revina yang terlihat begitu cantik malam ini. Sehingga Felix ingin segera memakannya.
*
Sementara itu saat Jonatan sampai di rumah, ia terkejut melihat barang-barangnya di depan pintu rumah. Begitu juga dengan Jasse dan Asila.
"Apa-apaan ini ?" Asila memeriksa beberapa koper yang berisi pakaian milik mereka.
"Tuan Abraham sudah mengambil rumah ini dan anda harus pergi malam ini juga." kata salah seorang pria yang sedang berjaga di depan rumahnya.
"Ini semua gara-gara kamu, Jasse !" bentak Jonatan menatap tajam ke pada putrinya.
"Jika saja kau tidak membuat kekacauan tadi, Abraham pasti masih akan membiarkan kita untuk tetap tinggal di sini." lanjut Jonatan lagi memarahi Jasse.
"Huh. Jadi kita akan tidur di mana malam ini ?" tanya Asila yang ikut merasa kesal kepada Jasse.
"Tuan Abraham sudah menyiapkan semuanya untuk anda." pria yang tadi menyerahkan sebuah berkas kepada Jonatan.
"Apa ini ?" tanya Jonatan penasaran.
"Anda bisa melihatnya sendiri."
__ADS_1
Jonatan membelalakkan matanya melihat isi dari berkas tersebut.
"APA ?"