
Saat ini sudah mulai menjelang siang. Sebelum Revina keluar ke untuk makan siang, ia terlebih dahulu menghubungi Felix Karena saat ini hari sudah pagi di London. Pria itu baru saja selesai mandi ketika suara ponselnya berdering. Felix tersenyum melihat nama Revina di layar ponsel.
"Kau merindukan ku ?" tanya Felix ketika mengakat telpon dari Revina.
"Tidak. Bukan karena itu." jawab Revina yang membuat Felix sedikit kecewa karena mendengar jawaban jujur Revina.
"Lalu ?"
Felix meletakkan ponsel di atas meja dan men-loudspiker nya.
"Aku sudah mengatakan kepada tuan Abraham. Kau akan mengundurkan diri dan dia menawarkan aku untuk menggantikan posisi mu. Bagaimana menurut mu ?"
Felix mendengarkan kata-kata Revina sambil ia mengenakan pakaian.
"Lakukanlah apa pun yang membuatmu senang. Aku tidak akan melarangnya."
"Entahlah. Aku belum memberikan keputusan."
Revina sebenarnya ingin sekali kembali bekerja. Karena ia merasa bosan tinggal di sini tanpa melakukan apa-apa. Berbeda halnya saat ia masih tinggal di rumah kontrakan bersama Felix dulu. Revina bisa melakukan pekerjaan rumah dan memasak sambil menunggu suaminya pulang kerja.
"Aku bosan tinggal sini." lanjut Revina lagi.
"Jika kau merasa bosan, pergilah jalan-jalan. Nanti aku akan minta Sonia untuk menemani mu."
"Felix. Kapan kau akan menjemput ku ? " suara Revina terdengar memelas mengatakannya.
__ADS_1
Felix langsung menghentikan kegiatannya. Jantungnya seakan terenyuh mendengar Revina seperti sedang sedih.
"Sayang. Jika kau meminta aku untuk pulang sekarang aku akan melakukannya." Felix serius dengan kata-katanya.
"Ti, tidak. Bukan itu maksudku." Revina baru tersadar. Mungkin Felix salah paham dengan kata-kata yang ia ucapkannya barusan.
"Maksud ku, aku ingin kembali ke rumah kontrakan. Tapi tuan Abraham tidak mengizinkan aku pergi jika bukan kau yang menjemput ku." Revina menjelaskan.
Apa Abraham se posesif itu dengan keponakannya. Tanya Felix dalam hatinya.
"Dia melakukan itu karena mengkhawatirkan keselamatan mu. Sama seperti aku yang juga selalu mengkhawatirkan dirimu." Felix mencoba menenangkan Revina.
"Aku janji akan segera menjemput dan membawa mu bersama ku begitu keadaan di sini sudah stabil." lanjut Felix lagi.
Felix juga merasa kasian kepada Revina saat ini. Tapi saat ini istrinya sekarang sedang berada bersama Abraham. Meskipun keselamatannya terjamin, tapi pasti tidak akan mudah untuk Felix mengambil Revina dari Abraham, pamannya.
Sementara itu, Abraham sudah memerintahkan orang kepercayaannya untuk memeriksa data penerbangan ke London atas nama Felix. Sungguh, jika bukan karena Revina mengatakan tentang Felix yang saat ini berada di luar negeri mungkin sampai sekarang Abraham tidak mengetahuinya. Terakhir ia mendapatkan laporan jika mobil Revina yang biasa digunakan Felix berada di Pure Paradise Hotel dua hari yang lalu.
"Tidak ada penumpang dengan nama Felix yang melakukan penerbangan ke luar negeri juga dalam negeri selama dua hari ini." Yosi membacakan hasil laporan dari orang suruhannya.
"Dan hanya pesawat pribadi keluarga Maxim yang berangkat ke London membawa salah satu keluarganya." lanjut Yosi lagi.
Abraham mencoba menghubungkan informasi yang baru saja ia dapatkan. Felix, Sonia dan Keluarga Maxim. Setahu Abraham, Eric Maxim mempunyai seorang putra yang sudah lama tinggal di luar negeri, tepatnya di London.Tidak pernah terdengar tuan muda Maxim pulang ke sini dalam beberapa tahun terakhir. Sonia adalah keponakan dari Nyonya Maxim. Apa mungkin Sonia menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Maxim untuk mengantarkan Felix ke London ?
Abraham menghela napasnya mengingat nama Sonia. Satu-satunya wanita yang dapat membuatnya tertarik. Abraham ingin menjadikan Sonia sebagai miliknya. Abraham sudah memutuskan untuk segera melamar wanita itu. Wanita yang umurnya belasan tahun lebih muda darinya. Apa mungkin orang tua Sonia mau menerimanya sebagai menantu.
__ADS_1
Abraham sedikit tidak percaya diri dengan hal yang satu ini. Tapi bagaimanapun ia akan mencobanya. Abraham sudah merencanakan untuk pergi ke London menemui Heru Cullen, ayah Sonia.
*
Tiga hari sudah berlalu. Jasse merasakan panas terik matahari di tubuhnya. Perlahan ia mengerjabkan mata. Menyesuaikan dengan cahaya yang terang benderang. Jasse membangun kan tubuhnya yang terasa sakit. Melihat dengan jelas sekelilingnya dengan suara hingar-bingar kendaraan.
"Dewi bangun, bangun !" Jasse menggoyangkan tubuh Dewi di sampingnya yang masih belum sadarkan diri.
Jasse merasa lega karena akhirnya mereka di bebaskan.
"Aduh." Dewi memegang kepalanya yang terasa sakit. Masih belum menyadari jika saat ini mereka sudah keluar dari gudang.
"Dewi, lihat. Kita sudah bebas."
Wanita itu melihat ke sekeliling mendengar perkataan Jasse.
"Iya. Kita bebas." ucap Dewi sambil tertawa mendudukkan tubuhnya.
Seketika suara sorakan anak-anak mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Orang gila. Orang gila. Orang gila." beberapa orang anak-anak pemulung bersorak sambil bertepuk tangan di dekat Jasse dan Dewi.
"Hey, aku tidak gila. Kalian yang gila. Dasar orang miskin. Pengemis." Jasse berteriak kepada anak-anak tersebut.
"Pergi sana. Hus hus." timpal Dewi, mengusir pergi anak-anak yang memikul karung lusuh di punggungnya.
__ADS_1
Anak-anak itu masih menyoraki mereka sambil berjalan meninggalkan dua orang wanita yang berpenampilan kumal tak jauh seperti mereka.