
Setelah mendatangi Jonatan ke perusahaanya, Abraham kembali ke kantor karena sebentar lagi akan ada pertemuan dengan Tuan Eric Maxim.
Tepat pukul sepuluh Eric sudah sampai di perusahaan Black Diamond bersama asisten dan sekretarisnya. Mereka sudah menunggu di ruang rapat. Abraham memperkenalkan Revina sebagai manajer pemasaran yang baru. Pengganti Felix.
"Senang bertemu dengan anda, Tuan Maxim. Saya Revina." wanita itu memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Eric.
Tatapan Eric lekat memperhatikan wajah cantik Revina. Wajah yang pernah ia lihat hanya di dalam foto kini berada tepat di depannya. Ternyata aslinya Revina lebih cantik di bandingkan di foto. Pantas saja Felix sampai jatuh cinta kepadanya. Revina memiliki wajah cantik alami, meskipun tidak di poles dengan make up. Dia juga terlihat seperti wanita yang sederhana. Eric baru mengetahui jika Felix menyukai tipe wanita seperti ini. Mungkin karena itu putranya selalu menolak saat Eric menjodohkan dengan putri dari teman-teman bisnisnya yang notabenenya bersikap manja dan berlebihan.
Ehmmm
Suara Abraham menyadarkan Eric dari pikirannya. Revina segera menarik tangannya dari tangan Eric.
"Senang berkenalan dengan wanita cantik seperti mu." balas Eric.
Rapat berlangsung selama dua jam. Kini sudah masuk waktu makan siang.
__ADS_1
"Tuan Abraham, sekarang sudah saatnya jam makan siang. Saya ingin mengajak anda dan nona Revina untuk makan siang bersama. Bagaimana ?" pinta Eric.
"Ide yang bagus, tuan. Mari, silahkan." Abraham mempersilakan Eric berjalan terlebih dahulu.
Abraham tidak mungkin untuk menolak tawaran dari Eric. Selain tidak ingin membuat Eric tersinggung, Abraham juga harus membangun hubungan yang baik dengan keluarga Maxim. Karena Eric merupakan adik ipar dari Heru, ayahnya Sonia.
Saat ini Abraham, Revina dan Eric sedang menikmati makan siang di ruang VIP di sebuah restoran mewah. Sejak tadi Abraham diam-diam memperhatikan gelagat Eric yang terus menerus memandang ke arah Revina. Apa mungkin CEO Boison Grup menyukai keponakannya. Wanita yang lebih pantas untuk menjadi menantunya. Pikir Abraham dalam hatinya.
Setelah selesai makan, Abraham dan Eric masih berbincang-bincang tentang banyak hal. Suara dering ponsel milik Revina tiba-tiba mengalihkan perhatian kedua pria itu. Revina segera mengambil ponselnya dari dalam tas untuk melihat siapa yang menghubunginya. Felix.
Revina tersenyum melihat nama Felix di layar ponselnya.
Abraham dan Eric sama-sama mengangguk. Dan Eric membalas senyum Revina. Pria itu terus memperhatikan Revina yang berjalan menjauh sampai hilang di balik pintu.
"Ehm, Tuan sampai di mana tadi pembicaraan kita ?" suara Abraham kembali mengalihkan perhatian Eric. Dan mereka pun melanjutkan pembicaraannya sampai keduanya pulang ke kantor masing-masing.
__ADS_1
*
Jonatan terlihat tidak berselera menikmati makan malam di rumahnya. Bahkan ia juga melewati makan siangnya tadi. Saat ini pikirannya sedang kacau memikirkan hidupnya ke depan.
Jonatan langsung menghentikan makannya ketika mendengar suara ponsel yang ada di depannya. Sejak tadi ia menunggu telepon dari seseorang.
"Bagaimana ? apa kau sudah mendapatkannya ?" tanya Jonatan penuh harap.
"Bagus." Jonatan langsung mematikan panggilannya setelah mendengar jawaban dari seberang sana.
Jonatan segera meninggalkan meja makan dengan tergesa-gesa. Asila yang memperlihatkan hal itu tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya.
"Papa mau ke mana ?" tanya Asila yang sedikit pun tidak di gubris oleh Jonatan. Pria itu terus melangkahkan kakinya pergi.
"Ma, papa kenapa ?" tanya Jasse yang mendapat tatapan tajam dari mamanya.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu." kata Asila sinis kepada putrinya. Asila juga menyudahi makannya dan pergi meninggalkan Jasse sendirian di meja makan.
Jonatan melajukan mobilnya menuju ke rumah Abraham setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Revina saat ini. Jonatan tidak peduli meskipun saat ini Revina berada di rumah Abraham. Ia harus segera menemui Revina dan membujuknya untuk kembali apa pun caranya. Meskipun itu kedengarannya tidak mungkin. Karena Abraham pasti tidak akan membiarkan itu terjadi. Jonatan seperti sudah kehilangan akal sehatnya karena Abraham telah mengambil semuanya.