
Dua minggu berlalu, Abraham dan Sonia pulang dari Paris dan langsung menuju ke London untuk mengunjungi kedua orang tua Sonia dan juga Revina. Kedatangan Abraham dan Sonia yang tiba-tiba membuat Yuli terkejut.
"Sonia mengapa tidak memberi kabar jika ingin datang kemari ?" Yuli memeluk putrinya erat. Ini kali pertama pertemuan mereka setelah Sonia menikah tiga bulan yang lalu.
"Aku juga tidak tahu dia akan membawa ku ke sini, ma." Sonia melirik Abraham yang berdiri di sampingnya.
"Sonia apa kau sakit ? mengapa wajah mu lesu sekali ?" Yuli mengamati wajah putrinya yang terlihat agak pucat dan layu.
Eehhmm
Abraham berdehem, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Abraham merasa tidak enak karena ia tahu dialah yang telah membuat Sonia jadi seperti itu akibat kurang tidur dan banyak olah raga di dalam kamar.
"Oh, ya. Sonia ambilkan air untuk suami mu dan antar ke kamar. Abraham pasti capek setelah naik pesawat." perintah Yuli agar Sonia melayani pria yang sudah menjadi suaminya.
"Ayo, aku antar ke kamar." Sonia menarik tangan Abraham.
Abraham mengganguk memberi hormat kepada ibu mertuanya "Kami permisi ke kamar dulu, ma." kata Abraham dengan canggung sebelum berjalan meninggalkan ibu mertuanya sendirian di ruang tengah.
Setibanya di kamar, Sonia melihat tampilan wajahnya di cermin. Ia mengamati setiap inci wajahnya. Tidak ada yang berubah tapi mengapa mamanya mengatakan ia seperti orang sakit.
Abraham berjalan menghampiri Sonia dan memeluk wanita itu dari belakang sebelum ia memutar tubuh Sonia untuk menghadap ke arahnya.
"Maafkan aku yang sudah membuat mu kelelahan dan kurang tidur." Abraham mengelus wajah Sonia dengan punggung tangannya.
"Sekarang kau istirahatlah. Aku janji tidak akan mengganggu tidur siang mu kali ini." Abraham mengecup kening Sonia dan menuntun istrinya ke tempat tidur.
Abraham benar-benar menepati janjinya, ia tidak mengganggu tidur Sonia. Sehingga sore hari wanita itu baru terbangun. Sonia mendapati Abraham tidak ada di kamar. Ia melihat waktu sekarang sudah hampir pukul enam sore. Itu artinya sudah enam jam ia tidur. Sonia meregangkan otot-ototnya. Inilah tidur ternyamannya selama dua minggu terakhir. Sonia lantas menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah mandi dan berganti pakaian, Sonia terlihat lebih cantik dan segar. Ia pun keluar kamar untuk mencari Abraham. Setelah bertanya pada pelayan, Sonia berjalan menuju taman belakang untuk melihat Abraham yang sedang duduk bersama kedua orang tuanya.
Dari jauh Sonia melihat keakraban Abraham dan papanya. Sonia pikir Abraham tidak akan bisa bergaul dengan keluarganya. Mengingat sikap dingin dan arogan yang selalu di perlihatkan oleh pria itu.
Sementara itu Yuli sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri setelah mendengar cerita dari menantunya itu yang ternyata baru saja pulang dari Paris setelah dua minggu berada di negeri yang terkenal dengan menara Eiffel tersebut. Pantas saja putrinya itu terlihat sangat lesu dan lelah ternyata mereka habis berbulan madu.
"Ma, pa." Sonia menyapa kedua orang tuanya.
Abraham segera menoleh melihat kedatangan wanita yang ia cintai. Pria itu selalu berdesir ketika melihat istrinya, apa lagi melihat Sonia yang baru saja selesai mandi dengan rambut yang setengah basah.
Keesokkan harinya, Abraham dan Sonia berniat untuk mengunjungi Revina. Sayangnya Revina tidak ada di rumah. Hari ini Felix sengaja mengajak istrinya untuk datang ke perusahaan agar Revina tidak merasa bosan tinggal di rumah.
Revina yang sedang asik memainkan ponselnya sembari menemani Felix bekerja begitu bahagia dengan kedatangan Abraham dan Sonia. Felix pun menghentikan sejenak pekerjaannya untuk melayani tamunya dari jauh. Revina dan Sonia sedang sibuk bercerita tentang kisah Sonia di Paris. Sedangkan Abraham dan Felix hanya mendengarkan. Hubungan kedua pria itu masih terlihat dingin.
Tak ingin membuat suasana terasa canggung di antara mereka berdua, Felix mencoba untuk menggoda Paman dari istrinya sekaligus adik iparnya.
"Bagaimana rasanya setelah berbulan madu ?" tanya Felix tiba-tiba yang membuat Abraham mendelik.
"Aku rasa kau juga begitu." balas Abraham datar.
Felix terkekeh "Karena itu aku hampir gila saat kau dan mommy membawa Revina pergi dari ku."
"Oh, Sebaiknya kau harus lebih banyak lagi melakukannya supaya lebih cepat jadi." lanjut Felix menggurui Abraham.
Meskipun Abraham lebih tua darinya tapi untuk hal yang satu ini Felix bisa membanggakan dirinya karena ia lebih berpengalaman.
"Bagaimana rasanya ?" Revina berbisik kepada Sonia. Wajah Sonia bersemu merah karena mengerti apa yang dimaksud oleh Revina.
__ADS_1
Abraham dan Sonia mengakhiri kunjungannya setelah selesai makan siang bersama Felix dan Revina.
Sementara itu jauh di belahan bumi lainnya, saat ini Mery sedang memujuk Eric yang baru saja pulang dari kantor.
"Eric, kau mengertikan maksud ku ?" Mery terus mengikuti langkah suaminya.
"Jadi, aku harus bagaimana ?" tanya Eric pasrah karena wanita yang sudah hampir tiga puluh tahun menjadi istrinya itu tidak akan berhenti sampai keinginannya tidak di penuhi.
"Aku ingin tinggal bersama dengan cucu kita." Mery mengutarakan keinginannya.
"Sayang, kau tidak bisa memisahkan seorang anak dari ibunya."
"Astaga, Eric. Bukan itu maksud ku. Aku ingin agar Revina dan bayinya tinggal bersama kita." terang Mery.
"Tidak bisa juga, sayang. Felix bagai mana jika kau membawa istri dan anaknya."
"Ya, sudah. Kalau begitu aku akan ikut mereka tinggal di sana."
Eric langsung menghentikan langkahnya mendengar perkataan Mery.
"Lalu bagai mana dengan ku ? apa kau tega meninggalkan aku sendirian di sini ?" Eric menggenggam tangan istrinya.
"Aku tidak peduli !" Mery berusaha menarik tangannya dari genggaman Eric karena kesal.
"Baiklah. Begini saja." kata Eric untuk membujuk istrinya.
Mery memasang telinga dan begitu antusias untuk mendengarkan solusi yang akan di sampaikan oleh suaminya.
__ADS_1
"Bagai mana jika kita membuat baby lagi agar kau bisa mengasuhnya." lanjut Eric dengan wajah tanpa dosa.
"ERIC !"