
Revina meraih ponselnya melihat siapa yang menghubunginya. Paman. Revina langsung mengangkat panggilan dari Abraham.
"Kau di mana ?" tanya Abraham di seberang sana.
"Ah, paman. Aku ada di kamar. Baru bangun tidur." jawab Revina jujur.
"Baiklah. Pesan saja makanan atau jika kau ingin keluar kabari aku." perintah Abraham.
"Iya. Baik, paman." jawab Revina kemudian Abraham mematikan sambungan teleponnya.
"Astaga. Sudah pukul sepuluh." Revina terkejut melihat jam di ponselnya.
Revina tidak tahu entah pukul berapa mereka mengakhiri percintaan panas mereka setelah Felix berkali-kali memintanya lagi dan lagi sampai sudah kehabisan tenaga dan tidak dapat menahan kantuknya lagi.
"Ada apa ?" suara serak Felix menyadarkan Revina dari lamunannya tentang kegiatan percintaan mereka tadi.
"Paman menelpon." jawab Revina yang seketika teringat apakah Abraham tahu jika saat ini ia sedang bersama Felix.
Felix menarik tubuh Revina kembali ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa kau masih lelah ? ayo kita melakukannya sekali lagi." Felix kembali bergairah karena gesekan tubuh mereka yang terjadi saat Revina kembali ke dalam pelukannya.
"Hah. Tidak. Aku masih lelah. Ingin mandi dan makan karena sejak kemarin aku belum makan." jawab Revina tegas kemudian di susul bunyi perutnya yang seakan membenarkan perkataan Revina.
"Baiklah. Aku akan memesan makanan tapi setelah ini." Felix kembali menindih tubuh Revina dan siap melakukan penyatuan lagi.
"Tapi .." Felix memotong perkataan Revina dengan sebuah ciuman.
"Aku janji akan cepat." Felix mulai mengerakkan tubuhnya di atas tubuh Revina.
Setelah mendapatkan pelepasannya, Felix meraih telpon untuk memesan makanan. Kemudian ia mengangkat tubuh Revina menuju kamar mandi dan meletakkannya di dalam bathtub. Felix membantu Revina membersihkan diri. Ia tahu saat ini Revina pasti sangat lelah akibat ulahnya.
Selesai membersihkan diri, Felix memakaikan bathrobe dan mengangkat kembali tubuh Revina mendudukkannya di sofa. Tak lama kemudian makanan datang. Mereka langsung menyantapnya dengan begitu lahap untuk mengisi tenaga sudah terkuras. Setelah makan Revina ingin berganti pakaian. Namun saat baru saja berdiri Revina meringis.
"Sayang kenapa ?" tanya Felix khawatir dengan keadaan istrinya.
Revina menatap Felix dengan kesal sambil menahan sakit. Bisa-bisa pria itu masih bertanya kenapa setelah apa yang telah ia lakukan sejak dini hari tadi sampai sekarang. Felix yang mengerti dengan maksud tatapan Revina itu kemudian tersenyum.
"Maafkan aku telah membuat mu kesakitan." Felix mengangkat tubuh Revina dan meletakkan di tempat tidur.
__ADS_1
"Istirahatlah. Nanti malam kita akan menghadiri acara pertunangan Sonia dan paman mu. Di sana aku akan mengenalkan mu dengan kedua orang tua ku." ucap Felix seraya merebahkan tubuhnya dan membawa Revina kedalam pelukannya.
Entah sudah berapa lama Revina tertidur, ia kembali tersadar karena merasakan sentuhan-sentuhan lembut di tubuhnya. Revina mengeliatkan tubuhnya merasakan geli saat ada yang menghisap dan memainkan puncak dadanya.
"Ah, kau terbangun rupanya." Felix mengangkat kepalanya melihat wajah Revina yang sudah membuka matanya.
"Apa yang kau lakukan ?" Revina mendapati tubuhnya yang tadi menggunakan bathrobe kini sudah polos.
"Aku menginginkan mu lagi." Felix merangkak naik untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Revina kemudian ia mencium bibir Revina dengan lembut dan kian menuntut sehingga mereka sama saling menginginkan lebih. Dan mereka kembali bercinta untuk yang kesekian kalinya.
Setelah selesai dengan kegiatan panasnya Felix dan Revina kembali melanjutkan tidur. Mereka harus beristirahat karena nanti malam akan menghadiri acara pertunangan Sonia dan Abraham.
Beberapa jam kemudian Felix tersadar. Perlahan ia bangun dari tempat tidur agar tidak membangunkan Revina yang sedang tidur begitu nyenyak. Felix masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mengambil ponselnya untuk mengecek pekerjaan yang dikirimkan melalui email.
Suara bel dari pintu kamar mengalihkan Felix yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang Felix membuka pintu kamar.
"Aku sudah mengatakan pada mu. Jangan mengganggu ku hari ini." ucap Felix ketika melihat asistennya yang datang.
"Maaf Tuan. Tapi ..."
__ADS_1
Belum sempat sang asisten meneruskan kalimatnya, seorang wanita yang sejak tadi berdiri di belakang asisten Felix langsung menerobos masuk kedalam kamar.
"Di mana dia ?" tanya wanita itu marah sambil menatap tajam ke arah Felix.