
Saat Revina selesai sarapan, Mery tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawat Revina dengan wajah cemas.
"Sayang, apa yang terjadi ? bagai mana keadaan mu dan cucu mommy ?" Mery memeluk Revina dan mengusap perut menantunya.
Mery langsung terbang ke London setelah mendapat kabar jika Revina pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa, mom. Begitu juga dengan bayi ku." jawab Revina dengan senyum penuh haru melihat ibu mertuanya yang begitu perhatian kepadanya.
"Ah, syukurlah jika kalian baik-baik saja." Mery merasa lega setelah mendengar kata Revina dan melihatnya langsung.
"Revina pingsan, tubuhnya lemah karena kurang asupan makanan." terang Felix.
"Astaga, mengapa sampai begini ? Felix, kau pasti tidak memberi perhatian kepada istri mu. Atau kau sudah berbuat sesuatu sehingga membuatnya tertekan dan jadi banyak pikiran." Mery memarahi putranya.
"Bukan begitu, mom." bukan Felix yang menjawab melainkan Revina.
"Akhir-akhir ini aku sedang tidak berselera makan jadi aku makannya sedikit." lanjut Revina yang berusaha melindungi suaminya dan juga ingin menyembunyikan masalah yang terjadi dari Mery.
"Apa kau mengalami mual dan muntah ? atau ada yang kau inginkan ? katakan saja kepada Felix, biar dia membelikan untuk mu." Mery mengusap lembut kepala Revina. Sebagai seorang ibu, Mery sudah merasakan bagaimana rasanya hamil dengan segala bawaan anehnya.
Mery terus saja berbicara, memberikan nasehat untuk Felix sampai Felix pusing mendengarnya. Sore harinya Felix menitipkan Revina kepada ibunya karena ia harus pergi untuk menghadiri rapat yang tidak bisa di wakilkan. Setelah Felix pergi dan Revina tertidur, Mery menghubungi seseorang.
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, Revina sudah diperbolehkan untuk pulang dan selama dua hari juga Felix tidak bekerja karena menjaga Revina di rumah sakit. Meskipun Mery juga ada di sana.
"Kau tidak pergi bekerja ?" tanya Revina yang melihat Felix mengenakan pakaian santai setelah mandi pagi.
"Tidak. Aku akan menemani mu sampai kau benar-benar pulih." Felix membantu Revina bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Ayo, sekalian aku mandikan." kata Felix yang ingin ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kau pergilah ke kantor. Ada mommy yang akan menemani ku di rumah."
Tak ingin berdebat panjang, Felix akhirnya menuruti perintah Revina. Hari ini ia akan kembali bekerja seperti biasa karena mommy Mery berjanji akan menjaga Revina.
Hari ini sudah lima hari sejak Revina keluar dari rumah sakit dan Mery yang menjaganya ketika Felix sedang bekerja.
"Kapan mommy pulang ke Indonesia ?" tanya Felix saat mereka sedang makan malam.
__ADS_1
"Mommy pulang setelah memastikan jika keadaan Revina sudah pulih. Dua hari lagi jadwal Revina ke rumah sakit untuk check up kehamilan, benarkan sayang ?" tanya Mery kepada Revina.
"Benar, mom." Revina mengangguk.
"Mommy akan mengantarkan mu." kata Mery lagi tersenyum kepada menantunya.
"Terima kasih, mom."
Dua hari berlalu. Sebelum jam makan siang Felix sudah pulang ke rumah untuk mengantarkan Revina dan Mommy Merry ke rumah sakit sekalian makan siang bersama di rumah.
"Syukurlah, kau dan bayi dalam kandungan mu sehat. Jadi mommy bisa meninggalkan mu dengan tenang." kata Mery merasa lega karena saat ini Revina sudah baik-baik saja.
"Sore ini mommy akan pulang." Mery beralih menatap Felix yang duduk di kursi depan mobil.
"Tapi bisakah mommy menunggu setelah aku pulang. Karena setelah mengantar kalian aku harus kembali ke perusahaan. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." pinta Felix.
"Baiklah." Mery melihat punggung Felix dengan senyum menyeringai.
Felix pulang ke rumah saat hari sudah sore tapi ia tidak mendapati Revina dan mommynya. Felix memanggil pelayan untuk menanyakan istri dan ibunya.
"Pergi ke mana ?"
"Saya tidak tahu tuan."
Setelah mendengar jawaban dari pelayan, Felix segera menghubungi mery tapi tidak tersambung.
"Pasti mommy yang membawa Revina." Felix menggenggam ponselnya dengan kuat.
Felix kemudian menyuruh orang untuk mencari tahu di mana istri dan ibunya saat ini. Tidak sampai satu jam Felix sudah mendapatkan informasi jika saat ini Revina dan Mommynya sudah berangkat menggunakan pesawat pribadi. Dengan tidak menunggu lama Felix segera menyusul istri dan ibunya.
Selama belasan jam di perjalanan, Felix begitu gelisah memikirkan Revina. Pasalnya istrinya itu baru satu minggu keluar dari rumah sakit tapi mengapa tiba-tiba mommynya membawa Revina pergi tanpa memberitahukan kepadanya terlebih dahulu.
Felix langsung menuju ke rumah orang tuanya begitu tiba di Jakarta.
"Mom, mommy." Felix masuk begitu saja sambil menjerit memanggil ibunya.
Mery yang beberapa jam tiba lebih awal kini sedang beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
"Di mana mommy ?" tanya Felix kepada pelayan yang ada di sana.
"Kau sudah tiba rupanya." Mery tersenyum melihat putranya yang ternyata tiba lebih cepat dari yang ia perkirakan.
"Di mana Revina, mom ?" Felix bertanya tanpa basa basi.
"Istri mu tidak ada di sini." jawab Mery santai sementara Felix sedang mengepalkan tangannya kuat menahan amarahnya.
"Lalu di mana dia ? mengapa mommy membawanya ?" arah pandang Felix mengikuti langkah Mery duduk di sofa.
"Bukan mommy yang membawanya tapi orang suruhan Abraham. Mommy hanya mendampingi Revina untuk memastikan keselamatannya."
"Tapi mengapa mommy tidak mengabari ku ?" kesal Felix.
Mery duduk bersedekap tangan menatap tajam putranya. "Bukankan Abraham sudah mengatakan kepada mu sebelumnya. Dia akan membawa Revina jika sekali saja kau menyakitinya."
"Oh, astaga, mom. Aku tidak pernah menyakiti istri ku." Felix menyugar rambutnya kasar. Ia sungguh tak habis pikir mengapa Abraham menganggapnya telah menyakiti Revina.
"Kau pikir mommy tidak tahu apa yang terjadi kepada Revina sampai ia drop dan masuk rumah sakit."
Felix mengerti apa yang di maksud oleh mommynya. Karena ibunya itu selalu mengawasinya.
"Tapi aku tidak melakukannya, mom. Sumpah." Felix mengangkat tangan kanannya ke depan.
"Kau bisa saja tidak melakukan itu. Tapi kau telah membuat Revina jadi kepikiran sampai dia jatuh sakit."
"Aku sudah menjelaskan kepada Revina dan menunjukkan bukti hasil tes DNA .."
"Tapi kau tidak cukup meyakinkannya untuk mempercayai mu." Mery dengan cepat memotong perkataan Felix.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Felix terduduk berlutut di tengah ruangan. Pikirannya begitu kacau saat ini karena tidak bisa bertemu dengan istri tercinta.
"Kau sudah dewasa, Felix. Kau pasti bisa menyelesaikan masalah mu. Pikirkanlah bagaimana caranya agar Revina bisa percaya dengan mu." Mery pergi meninggalkan Felix setelah memberikan nasehat kepada putranya.
Setelah Mery pergi Felix langsung bergegas menuju Perusahaan Black Diamond. Tempatnya bekerja dulu. Tujuannya adalah untuk menemui Abraham.
"Di mana istri ku ?" Felix masuk begitu saja ke ruangan mantan bosnya dulu.
__ADS_1