Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Revina Sadar


__ADS_3

Saat Felix kembali ke rumah sakit, Revina masih belum sadar. Sedangkan ke dua orang tuanya sudah pulang begitu Felix sampai. Felix terus menggenggam tangan Revina, berharap Revina segera sadar.


Felix membuka ponselnya saat ada pesan masuk. Ternyata Sonia yang memberitahukan tentang kematian Jasse. Felix begitu terkejut mendengar berita itu. Tapi bagaimana bisa. Baru setengah jam yang lalu ia menemui wanita itu. Sonia mengatakan jika Abraham akan mengurus jenazah Jasse. Jadi Felix tidak perlu memikirkannya lagi.


Felix tersadar saat hari sudah mulai gelap. Entah sejak kapan ia terlelap di samping Revina. Di lihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Felix menghela napasnya melihat Revina yang masih tidur. Lalu Felix beranjak ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Saat Felix kembali ke kamar. Ia melihat dokter dan dua seorang perawat datang memeriksa Revina.


"Mengapa istri ku belum sadar juga ?" tanya Felix.


"Itu adalah hal yang wajar. Pasien membutuhkan waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi tubuhnya." dokter melihat jam di tangannya.


"Mungkin sebentar lagi istri anda akan segera sadar." kata dokter sebelum meninggalkan ruang rawat Revina.


Tak lama setelah itu dua orang perawat masuk mengantarkan makanan untuk Revina. Setelah meletakkan di meja samping tempat tidur pasien, kedua perawat itu pergi. Namun baru beberapa langkah Felix memanggil mereka.


"Kalian berdua cicipi makanan ini terlebih dahulu." perintah Felix yang membuat kedua perawat itu bingung.


"Ma maksud tuan ?" tanya salah seorang perawat tidak mengerti.

__ADS_1


"Kalian cicipi makanan ini agar aku yakin tidak ada racun di dalamnya." terang Felix.


Kedua perawat itu saling berpandangan. Karena baru kali ini mereka menemukan orang seperti Felix yang terlalu mencurigai. Bahkan pria itu mencurigai makanan yang disediakan oleh rumah sakit. Rumah sakit ini merupakan sebuah rumah sakit swasta yang berstandar internasional. Seluruh manajemennya selalu di awasi. Begitu juga dengan keamanan dan kebersihannya.


Tak ingin membuat keributan di ruang pasien, apalagi pasien di ruangan VIP yang pastinya bukanlah orang sembarangan, kedua perawat itu memilih mengikuti perintah Felix. Mereka secara bergantian mencicip satu persatu makanan dan minuman yang mereka bawa. Beberapa saat kemudian mereka tidak merasakan apa-apa seperti yang dicurigai oleh pria itu


"Sudah, tuan. Kami sudah mencoba semuanya dan menjamin makanan ini bersih. Tidak ada racunnya." kata salah seorang perawat.


Felix melihat reaksi kedua orang di depannya. Setelah meyakini kedua perawat itu tidak berbohong dan baik-baik saja, Felix segera menyuruh mereka pergi.


"Kalian boleh pergi." perintah Felix.


Felix kembali duduk di samping Revina yang masih terlelap. Ia kembali menggenggam tangan itu dan menciumnya.


Felix kembali menghela napasnya, melihat Revina yang masih terpejam. Tiba-tiba ia merasakan tangan Revina bergerak menggenggam tangannya.


"Sayang. Revina." Felix mengusap pipi mulus Revina untuk menyadarkan wanita itu.


Perlahan Revina mulai membuka matanya. "Felix." panggil Revina ketika ia mendengar suara suaminya itu.

__ADS_1


"Iya, sayang. Aku di sini." jawab Felix semakin menggenggam erat tangan Revina. Sedangkan tangan satunya lagi mengelus kepala Revina.


Revina membuka matanya dengan sempurna. Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Felix yang sedang tersenyum kearahnya.


"Sayang, bagai mana keadaan mu sekarang ? apa kau merasa sudah lebih baik ?" tanya Felix khawatir. Padahal dokter sudah mengatakan jika Revina sudah tidak apa-apa sekarang dan hanya menunggu masa pemulihan saja.


Revina mengganguk "Ya, aku sudah lebih baik."


"Maaf. Aku sudah lalai menjaga mu." lirih Felix sambil memeluk tubuh Revina.


*


Setelah dua hari di rawat di Rumah Sakit, hari ini Revina sudah di perbolehkan pulang. Revina sangat terkejut mengetahui jika Jasse lah yang telah meracuninya dan Jasse yang telah meninggal dunia karena jatuh dari lantai atas hotel saat mencoba melarikan diri. Revina sungguh tidak menyangka jika nasip sepupu yang di anggapnya sebagai kakak selama ini berakhir tragis.


"Sayang sebaiknya kau istirahat saja, ini sudah malam. Biar mommy yang menunggu daddy dan Felix." kata Mery kepada menantunya.


"Tapi, mom. Kasihan mommy menunggu sendirian." balas Revina yang tidak tega meninggalkan ibu mertuanya sendiri.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi mereka pasti akan pulang. Kau harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh mu. Minggu depankan acara kalian di London." Mery mengingatkan.

__ADS_1


"Baik, mom. Aku permisi ke kamar dulu." pamit Revina yang diangguki oleh Mery.


Saat ini Mery sedang menunggu suami dan putranya pulang dari menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh rekan bisnis Eric. Dan tak lama setelah Revina balik ke kamar, Eric dan Felix pun tiba di rumah.


__ADS_2