Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Membawa Revina


__ADS_3

Sudah empat hari sejak Eric pergi ke London. Pertemuan dengan para investor dan pemegang saham berlangsung alot. Mereka tetap ingin meminta Felix kembali untuk memimpin perusahaan. Jika tidak, mereka akan menarik saham dan investasi mereka.


Eric menghela napas untuk membuat pikirannya kembali jernih. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini. Satu-satunya jalan adalah membawa Felix kembali. Tapi, Merry telah menemui putranya dan Felix yang keras kepala itu tetap menolak permintaan mommynya. Hanya ada satu cara yang bisa di lakukan oleh Eric saat ini adalah dengan memaksa Felix dan itu pasti tidak akan mudah. Ia kemudian menghubungi seseorang dan memberi perintah.


"Semoga saja berhasil." Eric mengantongi kembali ponsel di sakunya.


*


Waktu sudah sekarang sudah menunjukkan pukul empat sore. Felix segera membereskan pekerjaannya. Merapikan kembali meja kerja. Ia begitu senang hari ini. Felix tidak sabar ingin segera kembali ke rumah bertemu dengan Revina. Dalam perjalanan pulang, Felix kembali teringat akan mimpinya beberapa hari yang lalu. Tapi, saat ini ia tidak perlu mencemaskan hal itu karena orang-orang Abraham selalu menjaga Revina. Di tambah lagi oleh orang suruhan Sonia.


Sesampainya di rumah, Felix langsung membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Namun seketika raut wajahnya berubah melihat kondisi dalam rumahnya yang berantakan. Felix solah merasakan dejavu. Felix segera menuju ke kamarnya, berharap Revina tidak ada di sana seperti yang terjadi dalam mimpinya. Dan ternyata benar. Revina memang tidak ada di kamar. Namun Felix masih merasa cemas dengan keadaan istrinya.


Ditengah kecemasan yang sedang menyelimuti Felix, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Sonia. Felix segera menjawab panggilan dari sepupunya itu.


"Felix, kau sudah sampai di rumah ?" tanya Sonia terdengar cemas.


"Iya. Apa yang terjadi pada Revina ? di mana dia sekarang ?" Felix terdengar frustasi.


"Ada orang yang datang ingin mencelakai Revina .."


"Lalu bagaimana keadaan istriku ? apa yang terjadi ?" potong Felix sebelum Sonia menyelesaikan kalimatnya.


"Orang suruhan Abraham langsung datang menyelamatkannya dan saat ini istri mu baik-baik saja." terang Sonia yang membuat Felix sedikit lebih tenang.


"Syukurlah." Felix menghela napas lega.


"Tapi di mana dia sekarang ?"

__ADS_1


"Datanglah kemari. Ada hal penting yang harus aku katakan pada mu." balas Sonia.


Dengan tidak menunggu lama, Felix melajukan mobilnya menuju ke Pure Paradise Hotel untuk menemui Sonia. Meskipun saat ini ia sangat ingin menemui wanita yang begitu ia cintai.


"Sonia, di mana Revina ?" Felix langsung menanyakan istrinya ketika bertemu sepupunya.


"Revina saat ini sedang di bawa ke rumah Abraham." jawab Sonia jujur.


"Kau tidak perlu cemas karena mereka tidak sempat menyentuh Revina sehelai rambut pun. Dan rumah mu yang berantakan itu karena perlawanan antara mereka dengan anak buah Abraham."


"Baiklah. Terima kasih." Felix langsung menuju pintu keluar setelah mengatakan itu.


"Felix, tunggu. Kau mau kemana ?"


"Aku ingin menemui istriku."


"Tunggu. Ada yang ingin aku bicarakan pada mu."


"Paman meminta mu untuk datang ke London hari ini." Sonia menyampaikan pesan sesuai instruksi dari Eric.


Felix tersenyum miring mendengar perkataan Sonia. Mana mungkin daddy-nya melakukan itu.


"Tolong sampaikan pada paman mu itu Sonia jika saat ini tak ada yang lebih penting selain dari istriku." Felix langsung keluar setelah mengatakan itu.


Setelah pintu tertutup terdengar bunyi sesuatu terjatuh dan Sonia membuka kembali pintu yang baru saja di tutup oleh Felix.


"Maaf Felix."

__ADS_1


Sonia memandang tubuh Felix yang terbaring di lantai.


"Bawa dia." perintah Sonia kepada empat orang pria yang berseragam seperti pengawal.


*


Sementara itu Revina sedang merasa gelisah di dalam kamar sendirian. Sejak ia di bawa ke sini tidak ada siapapun yang dapat ia bertanya. Hanya ada seorang pelayan perempuan yang mengantarkan pakaian ganti tadi dan dia pun tidak menjawab pertanyaan Revina ketika Revina menanyakan saat ini ia sedang berada di mana.


Revina sungguh tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Sore tadi Revina sedang beristirahat di dalam kamar di rumahnya sambil menunggu Felix pulang kerja. Tiba-tiba saja ia mendengar suara keributan di luar. Ternyata ada beberapa orang yang berkelahi di dalam rumahnya. Revina sangat terkejut melihat itu.


"Nona maafkan kami. Kami harus membawa anda pergi dari sini untuk menyelamatkan anda." kata seorang pria yang tadi tengah berkelahi dan langsung berhenti ketika melihat Revina.


Entah karena panik atau ketakutan Revina langsung mengikuti pria itu tanpa merasa curiga atau apa. Dua orang pria membawa Revina kedalam mobil dan meninggalkan rumahnya. Sedangkan beberapa orang lainnya masih tinggal dan saling berhantam. Revina kemudian berpikir mungkin saja orang-orang ini ingin menculiknya. Seketika muncul perasaan takut. Felix tolong aku. Batin Revina.


"Nona." sapa seorang pelayan wanita menyadarkan Revina dari pikirannya.


"Saatnya untuk makan malam. Tuan sudah menunggu di ruang makan." beritahu pelayan tersebut.


Nah, kini saatnya untuk Revina bertemu dengan orang yang membawanya ke sini. Revina akan minta untuk di antarkan pulang karena ia yakin saat ini Felix pasti sedang mencari dan mencemaskannya. Apalagi ponsel miliknya ketinggalan di rumah.


Revina segera bangkit dari duduknya untuk cepat-cepat bertemu orang itu. Revina berharap siapapun dia, semoga orang itu adalah orang baik yang bisa menolongnya.


Revina mengikuti langkah pelayan wanita itu. Ia terus memperhatikan sekelilig setiap ruangan yang di lewatinya. Sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Revina kemudian menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah foto keluarga yang cukup besar, yang terpajang di dinding. Ia melihat dengan saksama dan mencoba mengenalinya. Namun sepertinya Revina tidak kenal dengan pasangan yang ada di foto tersebut bersama seorang bayi perempuan yang berumur sekitar satu tahun. Tapi rasanya Revina begitu familiar dengan wajah itu.


"Silahkan, nona."


Suara pelayan kembali membuat Revina melanjutkan langkahnya. Dari jauh Revina sudah bisa melihat seorang pria sedang duduk membelakanginya di meja makan sendirian. Revina terus berjalan mendekat dengan jantung yang deg-degan.

__ADS_1


"Selamat malam, tuan." sapa Revina. Pria itu kemudian mengangkat wajahnya mendengar sapaan dari Revina.


"Anda !"


__ADS_2