
Heru memerintahkan seseorang untuk mencari tahu tentang Abraham. Pria yang baru saja bertemu dengannya untuk melamar Sonia. Bagaimana pun sebelum ia memutuskan sesuatu, Heru harus menyelidikinya terlebih dulu. Heru juga sudah menelepon Sonia agar segera datang ke London sekarang juga.
Keesokan harinya Sonia sudah sampai di London. Heru sengaja memanggil Sonia untuk membicarakan tentang lamaran untuknya. Tapi Heru masih merahasiakan identitas pria itu.
Waktu berlalu begitu saja. Kini malam berangsur menampakkan dirinya. Kurang dari tiga puluh menit lagi acara makan malam akan di mulai. Sonia merasa penasaran seperti apa pria yang datang melamarnya. Entah sudah berapa puluh orang pria yang di kenalkan oleh papanya, namun seorang pun tidak membuat Sonia tertarik.
"Sonia, coba kau hubungi Felix. Sudah sampai di mana dia. Sebentar lagi makan malam akan di mulai." perintah Mama Sonia.
"Baik, ma." Sonia memutar matanya. Malas sekali menghubungi kakak sepupunya itu.
"Aku pasti akan di belasah Felix jika dia tau aku disini." gumam Sonia. Tak lama kemudian panggilan teleponnya diangkat.
"Halo, Felix. Kau di mana ? kata mama acaranya akan segera di mulai. Cepatlah." kata Sonia tanpa jeda.
"Aku lagi di jalan. Sebentar lagi akan sampai."
"Ok." balas Sonia singkat
"Tunggu." Felix menahan Sonia agar tidak mematikan panggilannya.
"Apa kau sedang ada di London sekarang ?" tanya Felix lagi.
"Ya. Kenapa ?"
"Baguslah. Karena sudah lama aku ingin menghajar mu." jawab Felix lalu langsung memutuskan panggilan teleponnya.
"Sudah ku duga." kata Sonia menatap ponselnya. Felix pasti akan balas dendam padanya karena sudah bekerja sama dengan dedy Eric.
__ADS_1
"Sonia, bagaimana ?" mamanya menanyakan Felix.
"Sebentar lagi akan sam pai." perkataan Sonia tersendat ketika melihat seorang pria yang baru saja tiba dari pintu masuk.
"Selamat datang, tuan Wiliam." Heru berdiri menyambut kedatangan Abraham. Begitu juga dengan istrinya.
Sedangkan Sonia masih membeku di tempat duduknya terkejut melihat kedatangan Abraham.
"Silahkan duduk." Heru mempersilakan tamunya.
Abraham memilih tempat duduk berhadapan dengan Sonia. Saat ini mereka duduk di sofa ruang tamu. Abraham hanya sekilas melirik ke arah wanita pujaan hatinya. Setelah itu ia fokus berbicara dengan Heru.
"Apa aku terlambat ?" suara Felix yang baru saja tiba mengalihkan perhatian seluruh orang yang ada di sana.
"Belum. Kami masih menunggu mu. Berhubung kau sudah datang mari kita mulai makan malamnya." kata Heru sambil berdiri dan di ikuti oleh semua orang.
"Tuan Wiliam, perkenalkan ini keponakan ku. Felix Maxim." kata Abraham mengenalkan Felix kepada Abraham.
Tidak hanya Abraham, bahkan Felix juga terkejut dengan pertemuan ini. Abraham terkejut ketika mengetahui Felix adalah putra dari keluarga Maxim yang terkenal berkuasa dan kaya. Pantas saja sampai saat ini Abraham tidak bisa menyelidiki Felix. Karena memang identitasnya sengaja di sembunyikan. Sedangkan Felix terkejut karena ternyata Abraham adalah pria yang ingin melamar adik sepupunya.
Abraham dan Felix saling menatap sambil berjabat tangan.
"Senang bertemu dengan anda." ucap Abraham datar.
"Saya juga. Terima kasih." balas Felix.
Acara makan malam berlangsung dengan lancar. Meskipun dengan pikiran yang bercampur aduk antara Abraham, Felix dan Sonia. Abraham menarik lengan Sonia ketika mereka berjalan paling belakang menuju kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
"Ingat syarat kedua yang aku katakan ?" bisik Abraham.
"Kau harus menuruti apa pun keinginan ku. Termasuk menerima lamaran ku." lanjut Abraham yang membuat Sonia menelan ludahnya susah payah. Kemudian Abraham berjalan meninggalkan Sonia yang masih membeku di tempatnya berdiri.
Tepat pukul sepuluh malam Abraham pamit pulang. Ia merasa lega karena lamarannya di terima dengan baik oleh orang tua Sonia. Meskipun dengan cara mengancam wanita itu. Abraham menyerahkan kepada keluarga Sonia untuk mengurus semuanya mulai dari acara pertunangan sampai acara pernikahan mereka.
*
Abraham menunda keberangkatannya menjadi tengah hari karena pagi ini ia akan menemui Felix terlebih dahulu. Ia harus berbicara empat mata dengan suami dari keponakannya.
Abraham menatap tajam ke arah Felix.
"Selamat datang, paman." Felix menyambut Abraham dengan seringaian di wajahnya.
"Cih." Abraham tidak suka melihatnya karena Felix seperti sedang mempamerkan kemenangannya.
Felix sudah mengetahui semua tentang Abraham. Sedangkan Abraham tidak mengetahui apa pun tentang Felix. Meskipun ia sudah lama menyelidik tentang pria itu.
"Apa Revina sudah tahu ?" tanya Abraham yang menganggap Felix telah menipu keponakannya.
"Belum." jawab Felix singkat.
"Kau sengaja menyembunyikannya ?" tanya Abraham lagi.
"Aku tidak menyembunyikan apapun dari Revina selain dari nama belakang ku. Bahkan kepada mu." jawab Felix santai.
"Kau bisa langsung menanyakannya pada Revina." lanjut Felix yang melihat Abraham seperti tidak percaya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kau bertemu dengan Revina lagi jika aku mendapati kau hanya mempermainkannya." ancam Abraham kemudian berlalu pergi dari ruangan Felix.