
Revina berusaha untuk menyembunyikan perasaan dan tersenyum kepada Mery seperti biasa. Revina ingin menyahut pertanyaan dari mommy Mery tapi malah sebuah ringisan yang keluar dari mulutnya. Tiba-tiba saja Revina merasa perutnya sakit.
"Sayang."
"Revina."
Panggil Felix dan Mery bersamaan ketika melihat wajah Revina sedang kesakitan. Tanpa menunggu lama Felix membawa Revina pergi ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Revina langsung di periksa oleh dokter kandungan yang biasa menanganinya. Benar saat ini Revina sudah ingin melahirkan. Mungkin beberapa jam lagi.
Felix dan Mery terus menemani Revina. Semakin lama Revina makin merasakan sakit. Mery terus mengelus perut Revina untuk mengurangi rasa sakit yang sedang di rasakan oleh menantu kesayangannya. Sementara Felix mengengam erat tangan Revina yang juga menggenggam kuat tangannya untuk menahan rasa sakit.
Dokter datang kembali untuk memeriksa Revina. Ternyata jalan lahir sudah bukaan sempurna dan Revina siap untuk melahirkan. Dokter lalu membawa Revina ke ruangan persalinan dan hanya boleh di temani oleh sang suami. Dengan sangat terpaksa Mery hanya menunggu di luar.
Beberapa belas menit kemudian sudah terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring. Felix memeluk Revina sama-sama menangis bahagia melihat bayi laki-laki mereka yang begitu sehat dan sempurna. Begitu juga dengan Mery yang berada di luar ruangan. Wanita paruh baya itu juga menangis bahagia mendengar suara cucu pertamanya untuk pertama kali.
Sore menjelang malam. Revina saat ini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap bersama bayi mereka. Bayi laki-laki itu di beri nama Louise Mahendra Maxim.
"Mom, sebentar lagi malam. Sebaiknya mommy pulang ke rumah saja. Istirahat." kata Felix kepada mommy Mery yang terus menatap sayang pada sang cucu yang sedang tertidur lelap.
__ADS_1
Mery tidak merasa lelah sedikit pun. Ia terlalu bahagia hari ini sampai tidak merasakan itu meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
"Aku akan menyuruh pelayan datang ke mari malam ini." lanjut Felix lagi.
"Baiklah." meskipun merasa berat untuk meninggalkan cucunya tapi Mery menurut apa yang dikatakan oleh Felix.
"Sayang, mommy pulang dulu ya. Besok pagi-pagi mommy datang lagi." Mery mencium kening Revina dengan sayang sebelum ia pulang.
"Iya, mom. Hati-hati." Revina tersenyum kepada Mery.
Apa yang dilakukan oleh Ibu mertuanya itu terasa begitu tulus menyayangi dirinya. Tapi senyuman Revina berubah masam saat mengingat jika wanita yang terlihat sangat baik kepadanya justru menginginkan wanita lain untuk berada di posisinya saat ini sebagai menantu. Hati wanita mana yang tidak sakit mendengar itu dari mulut sang ibu mertua.
"Mau makan sekarang ?" tanya Felix sambil memegang napan yang berisi makanan yang baru saja di antarkan oleh perawat.
Revina mengangguk karena ia memang sudah merasa lapar. Sejak tadi pagi Revina hanya makan sedikit. Rasa sakit akibat kontraksi membuatnya tidak berselera untuk makan. Felix menyuap makanan ke mulut Revina sampai makanan itu habis.
"Sebaiknya kau langsung tidur saja sayang. Biar baby Louise aku yang jaga." kata Felix sambil membantu Revina untuk berbaring dengan nyaman.
__ADS_1
"Tapi bagi mana jika dia haus ?" Revina menatap cemas ke arah putranya yang berada di dalam box bayi di samping tempat tidurnya.
"Aku akan membangunkan mu jika di ingin menyusu." kata Felix menenangkan kecemasan istrinya.
Ini hari pertama Revina menjadi seorang ibu, wajar jika dia merasa cemas dengan keadaan bayinya. Beruntung ada Felix, suami yang selalu berada di sampingnya dan menenangkan dirinya. Malam ini Revina lima kali bangun untuk menyusui baby Louise. Sehingga membuatnya mengantuk.
Tepat pukul enam pagi Mery sudah datang ke rumah sakit. Revina masih belum bangun. Setelah di bersihkan oleh perawat baby Louise di serahkan kepada Mery. Wanita itu sangat bahagia akhirnya bisa menggendong cucunya. Mery membawa baby Louise ke depan jendela agar bayi laki-laki yang baru berusia beberapa jam itu mendapatkan cahaya sinar matahari pagi yang sangat baik untuknya.
Revina mengerjapkan mata terganggu oleh cahaya terang yang masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, kau sudah bangun ? tidur lah lagi jika masih mengantuk." kata Felix yang merasa kasihan melihat istrinya yang tidak nyenyak tidur sejak kemarin malam.
Revina mengangguk. Tersenyum mendengar perkataan Felix. Suaminya itu sangat perhatian kepadanya. Kemudian ia beralih melihat ke arah mommy Mery yang masih menggendong baby Louise. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia. Terpancar dari senyuman di wajah cantiknya meskipun sudah memasuki usia lima puluhan.
Sepanjang hari ini Mery terus berada di ruang rawat Revina, ikut mengurus bayi Felix dan Revina. Malam harinya Mery kembali ke rumah dan bergantian dengan pelayan yang ada di rumah Felix. Sedangkan Felix sekali pun tidak pernah meninggalkan Revina meskipun hanya keluar dari pintu kamar.
Setelah menginap dua hari di rumah sakit, hari ini Revina sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah bersama bayi mereka.
__ADS_1
"Welcome home, Louise." kata Felix bahagia saat mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Revina merasa lega karena akhirnya bisa kembali ke rumah sang suami. Revina langsung membawa bayi mereka ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuk Louise. Kamar itu tepat berada di sebelah kamar Revina. Dua orang perawat wanita sudah di siapkan Felix untuk membantu Revina mengurus bayi mereka.