Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Bagaimana Jika Aku Ayahnya ?


__ADS_3

Merasa ada sesuatu yang salah dengan perkataan wanita di depannya, Revina akhirnya bersuara.


"Maaf nona. Seharusnya kau memberi tahukan kepada ayah kandung putri mu karena hanya dia dan anda yang bisa membantunya." beritahu Revina.


"Felix, aku rasa kau pasti mengerti apa yang di katakan oleh dokter. Hanya saudara kandung satu ayah dan ibu yang bisa membantunya." kata Mia tanpa menanggapi perkataan Revina.


"Apa maksudnya mengatakan itu pada mu ?" tanya Revina yang kini beralih menatap tajam ke arah Felix. Meminta penjelasan lebih lanjut.


"Sebenarnya Felix adalah.."


"Aku akan membantu mu menemukan ayahnya !" potong Felix sebelum Mia meneruskan kalimatnya.


Revina menghembuskan napas lega setelah mendengar kata Felix. Ternyata tidak seperti yang ada di dalam pikirannya karena Felix akan membantu wanita itu menemukan ayah dari anak wanita itu.


"Kau tenang saja, nona. Suami ku akan berusaha untuk membantu putri mu." Revina tersenyum memegang tangan Mia yang kini sudah merasa sedikit lega.


"Terima kasih." balas Mia.


Setelah itu Felix dan Revina melanjutkan kembali langkahnya menuju keluar dari rumah sakit untuk pulang ke rumah.


"Kasihan sekali wanita itu. Pasti ia sangat sedih dengan keadaan putrinya. Semoga saja bayi kita di jauhkan dari penyakit seperti itu." Revina mengusap perutnya yang masih datar.


"Oh, ya siapa wanita tadi ? apa dia teman mu ?" Revina menatap Felix yang duduk di sebelahnya.


"Hanya kenalan saja." jawab Felix acuh.


"Mengapa dia meminta tolong kepada mu ? aku tadi sempat berpikir jika .."


"Jika apa ?" potong Felix cepat.


"Jika kau adalah ayah dari anaknya. Makanya dia meminta tolong pada mu." Revina mengatakan tentang apa yang ia pikirkan tadi.

__ADS_1


"Bagai mana jika apa yang kau pikirkan itu benar ?" tanya Felix tiba-tiba.


"Hah ?" Revina terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya.


"Bagai mana jika aku adalah ayah dari anak wanita itu ?" Felix mengulangi pertanyaannya.


Revina tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Felix.


"Hem, jika memang benar kau ayah dari anak itu maka aku akan membiarkan kau menikah dengan ibunya agar bisa menyelamatkan anak itu." kata Revina sambil mengangguk.


"Benarkah ?" tanya Felix memastikan.


"Benar. Tapi aku akan pergi dari hidup mu. Aku minta kita berpisah. Karena aku tidak mau berbagi apa yang jadi milik ku. Apalagi berbagai suami." Revina melanjutkan kata-katanya dengan nada penuh ancaman.


Felix menolehkan wajahnya kearah jendela mobil. Ia menelan ludah mendengar perkataan Revina. Hanya bertanya saja wanita itu sudah minta berpisah. Apalagi jika sampai Mia tadi sempat mengatakan jika dia adalah ayah dari anaknya. Meskipun itu tidak mungkin. Felix tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan pernikahannya sekarang.


Keesokan harinya, Mia datang ke perusahaan untuk bertemu dengan Felix. Tapi sayangnya Felix sedang tidak ada di kantor karena pergi ke luar untuk menemui kliennya. Wanita itu ingin menanyakan lagi tentang apa yang dikatakan Felix semalam yang berjanji akan membantunya. Jika itu benar, maka dia akan menikah dengan Felix. Meskipun hanya jadi istri kedua. Karena ia harus melahirkan anak pria itu agar bisa mengobati putrinya.


Tapi beberapa bulan yang lalu dokter telah memvonis putri yang bernama Lily itu memiliki penyakit yang cukup parah sehingga penyembuhannya harus melakukan transplantasi tali pusar. Jadi mau tidak mau Mia harus menemui Felix yang diyakininya adalah sebagai ayah dari anaknya.


Harapan Mia pupus ketika mengetahui jika sudah hampir dua tahun ini Felix menghilang dan tidak ada kabar. Sampai hari di mana Mia mendengar berita tentang pernikahan Felix dari teman-temannya. Dengan penuh harapan Mia datang menemui Felix untuk memberitahukan tentang putrinya. Tapi harapan Mia kembali pupus saat Felix dengan tegas tidak mengakui perbuatannya malam itu.


Mia mengusap air matanya. Ia menatap wajah malaikat kecilnya yang sedang tertidur pulas dengan infus yang terpasang di tangannya. Mia harus semangat menghadapi ujian hidupnya ini.


Hari berikutnya, Mia datang lagi ke perusahaan Felix. Tapi lagi-lagi pria itu tidak ada.


"Maaf, nona. Hari ini tuan berangkat ke luar negeri dan beberapa hari lagi baru kembali." kata sekretaris Felix.


"Baiklah. Terima kasih." Mia pulang dengan perasaan kecewa dan sedih.


Sementara itu, saat ini Felix dan Revina sedang berada di dalam pesawat pribadi milik keluarga Maxim. Felix memilih memakai pesawat pribadi di bandingkan dengan pesawat komersial agar Revina lebih nyaman dan bisa beristirahat di dalam kamar. Tidak lupa juga Felix membawa seorang dokter yang akan menjaga kesehatan Revina jika sewaktu-waktu terjadi apa-apa selama dalam perjalanan.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya Felix dan Revina sampai di kediaman mewah keluarga Maxim. Mereka di sambut dengan penuh kebahagiaan orang Mery.


"Sayang, apa kabar mu ?" Mery memeluk erat tubuh Revina. Wanita yang sedang mengandung cucunya, penerus keluarga Maxim.


"Aku baik, mom." jawab Revina yang juga membalas pelukan hangat ibu mertuanya.


"Ayo, mommy antar ke kamar. Ibu hamil harus banyak istirahat. Apalagi setelah melakukan perjalanan jauh. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mu." Mery mengandeng Revina berjalan menuju kamar.


Felix menggelengkan kepalanya karena mommy Mery mengacuhkannya begitu saja. Seperti ia tidak terlihat. Ibunya itu terlalu fokus pada Revina. Tapi Felix sedikit pun tidak merasa cemburu. Karena ia tahu mommynya itu pasti sangat bahagia dengan kehamilan Revina. Sudah lama wanita itu mendambakan kehadiran seorang cucu di tengah-tengah keluarga Maxim. Akhirnya Felix berjalan menyusul kedua orang wanita yang sangat ia cintai.


"Apa ada makanan yang ingin kamu makan ? biar mommy buatkan. Biasanya ibu hamil menginginkan sesuatu yang disebut dengan mengidam." kata Mery setelah mereka sampai di dalam kamar.


"Tidak ada, mommy. Aku bisa makan seperti biasa tanpa ada gangguan mual dan muntah." jawab Revina jujur.


Revina tidak mengalami mual dan muntah di awal kehamilannya. Hanya saja ia gampang pusing dan lelah jika beraktivitas berlebihan. Karena itulah Felix selalu menyuruhnya untuk lebih banyak beristirahat.


"Benarkah ? pasti cucu mommy sangat kuat di dalam sana."


"Pasti, mom. Dia pasti kuat seperti daddy-nya." sambung Felix yang baru saja tiba di dalam kamar.


"Tapi, waktu mommy mengandung mu dulu tidak seperti ini. Kau membuat mommy menderita karena mommy tidak bisa makan jika daddy mu tidak menyuapkan." ucap Mery mengingat masa lalunya.


"Mommy jangan menyalahkan ku. Katakan saja jika mommy tidak bisa jauh dari daddy." tuduh Felix.


"Seperti Revina yang tidak bisa jauh dari ku. Ya kan sayang ?" lanjut Felix lagi.


Seketika wajah Revina bersemu merah. Malu dengan mommy Mery. Benar yang di katakan oleh Felix. Ia memang tidak bisa jauh dari suaminya itu. Revina selalu menunggu Felix pulang dari kantor karena merasa rindu meskipun hanya di tinggal beberapa jam saja.


"Ah, pasti sebenarnya kau yang tidak bisa jauh dari Revina." Mery mengejek putranya.


"Ingat, Felix. Kau harus bisa menahan diri mu. Jangan membuat Revina kelelahan." pesan Mery sebelum ia keluar dari kamar Felix.

__ADS_1


__ADS_2