
Mery tersenyum melihat Revina. Sebagai seorang istri pasti Revina sangat tertekan dengan masalah yang sedang dihadapi suaminya.
"Mommy tahu kau mencoba untuk melindungi Felix dan menyembunyikan masalah rumah tangga kalian." kata Mery menjawab keterkejutan Revina.
"Jadi mommy sudah tahu tentang wanita itu ?"
Mery mengganguk menjawab pertanyaan Revina.
"Maafkan mommy. Bukan maksud mommy untuk mencampuri urusan rumah tangga kalian." Mery menghela napasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Sejak di usir oleh daddy, Felix tidak di berikan uang sepeserpun bahkan semua fasilitas yang ia miliki di ambil. Mommy sangat mengkhawatirkan keadaan Felix di luar sana jadi sejak saat itu mommy menyuruh seseorang untuk selalu mengawasinya. Mommy takut jika terjadi sesuatu padanya di luar sana. Tapi ternyata Felix bisa bertahan hidup tanpa harta dan nama keluarga Maxim." Mery menjeda ucapannya.
"Meskipun mommy selalu mengawasi Felix, tapi sekalipun mommy tidak pernah membantunya agar dia belajar bagaimana untuk menyelesaikan masalahnya sendiri." lanjutnya lagi.
Revina hanya diam mendengarkan cerita dari ibu mertuanya. Perasaannya jadi sedikit lega karena mommy Mery juga mendukung Felix.
"Sekarang istirahatlah. Jangan banyak pikiran. Mommy yakin Felix bisa menyelesaikan masalah secepatnya dan akan segera menjemput mu." kata Mery sebelum keluar dari kamar yang ditempati oleh Revina, yang merupakan kamar Felix.
"Terimakasih, mom." balas Revina.
Felix langsung menghubungi asistennya untuk menanyakan hasil penyelidikan tentang Mia. Untuk saat ini dia sudah mendapatkan informasi pria yang menjadi ayah dari anaknya Mia. Mungkin sebentar lagi dia akan menemukan pria itu.
*
Satu bulan berlalu.
Saat ini Mery sedang bersiap untuk pergi berangkat ke luar negeri bersama dengan Eric selama satu bulan.
"Sayang, tidak apa-apa ya mommy meninggalkan mu dengan Sonia." Mery merasa berat untuk meninggalkan Revina.
"Tidak apa-apa, mom. Aku baik-baik saja. Mommy juga hati-hati di sana." balas Revina. Mery memeluk Revina sebelum ia pergi.
"Sonia, mommy titip Revina ya. Tolong jaga dia dan tetap rahasiakan dari Felix." Mery gantian memeluk Sonia yang saat ini datang untuk menjemput Revina.
__ADS_1
"Mommy tentang saja. Revina akan aman bersama ku." balas Sonia.
Setelah mobil yang di tumpangi Mery dan Eric meninggalkan rumah. Sonia dan Revina juga segera pergi dari sana.
Selama Mery ke luar negeri, Revina akan tinggal di kediaman Abraham. Sonia mengantarkan Revina ke kamarnya.
"Sonia." panggil Revina pada adik iparnya sekaligus juga bibinya.
"Ya. Ada apa ?" Sonia mengurungkan langkahnya untuk menuju pintu keluar.
"Apa Felix sering menghubungi mu ?" Revina menanyakan tentang suaminya.
Selama satu bulan sejak Mery membawanya kembali ke Indonesia, Revina tidak pernah sekalipun berbicara dengan Felix. Hanya Mery yang selalu menceritakan tentang bagaimana keadaan Felix di luar negeri sana. Tentang Felix yang sedang berusaha keras untuk menemukan ayah dari anaknya Mia.
Sonia tersenyum mendengar pertanyaan Revina. Ia kembali mendekat duduk di samping Revina di tepi tempat tidur.
"Felix hampir setiap hari menelpon ku untuk menanyakan tentang keberadaan mu sampai aku bosan menjawabnya." Sonia memutar mata mengingat sepupunya yang satu itu.
"Benarkah ?" Revina begitu senang mendengarnya.
"Dia begitu mengkhawatirkan mu. Dia terus meneror ku setiap hari karena aku mengatakan tidak mengetahui keberadaan mu. Tapi dia tidak percaya." lanjutnya lagi.
"Apa kau merindukan Felix ?"
Revina tersenyum masam mendengar pertanyaan Sonia tiba-tiba.
"Kau sudah punya suami. Pasti kau tau bagaimana rasanya jika berjauhan dengan suami mu." Revina berkata sambil menatap lurus ke depan.
Sonia menghela napasnya mengingat bagaimana hubungan pernikahannya dengan Abraham selama dua bulan ini. "Entahlah. Aku tidak tahu."
"Sekarang kau istirahatlah. Aku akan kembali ke kamar. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu." pesan Sonia sebelum ia keluar dari kamar Revina.
Sejak Revina tinggal di rumah Abraham, kini Sonia tidak lagi kesepian. Sonia dan Abraham yang biasanya hanya berbicara seperlunya saja kini menjadi lebih banyak terlibat pembicaraan saat bersama Revina.
__ADS_1
"Revina, tadi mommy menelpon. Katanya hari ini jadwal mu memeriksa kehamilan ke dokter kandungan." tanya Sonia saat mereka sedang menikmati sarapan.
"Ah, iya. Terima kasih sudah mengingatkan." Biasanya Felix yang selalu mengingatkan Revina atau mommy Mery.
"Aku akan mengantarkan mu. Aku akan menjemput mu setelah makan siang." Sonia mendapatkan amanah dari Mery.
"Kita akan mengantarkannya."
Sonia dan Revina sontak melihat ke arah Abraham yang tiba-tiba bersuara.
"Aku akan menjemputmu di hotel terlebih dahulu." kata Abraham datar sambil melihat Sonia.
Sonia yang awalnya ingin membantah hanya mampu mengangguk patuh karena tidak ingin Revina melihat hubungan antara dia dan Abraham yang tidak baik-baik saja.
"Terima kasih." ucap Revina sambil tersenyum melihat keduanya. Revina merasa senang karena baik Sonia maupun Abraham begitu perhatian kepadanya.
Sesuai janjinya, Abraham datang ke hotel untuk menjemput Sonia. Wanita itu melihat jam di pergelangan tangannya. Abraham terlalu cepat datang menjemputnya. Sekarang bahkan belum masuk waktu makan siang. Sonia keluar dari hotel dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Abraham. Sejak menikah dua bulan yang lalu, ini kali pertama mereka pergi bersama dalam satu mobil. Sonia melirik Abraham yang sibuk dengan tabletnya untuk memeriksa pekerjaan.
Huh. Kalau memang sibuk tidak perlu repot-repot menjemput ku. Batin Sonia.
Sonia melihat jalan yang mereka lalui bukan merupakan jalan pulang ke rumah.
"Kita mau ke mana ? bukannya kita akan menjemput Revina di rumah ?" Sonia melihat Abraham yang duduk di sebelahnya.
Sonia lantas mengalihkan pandangannya melihat asisten suaminya yang sedang menyetir di depan, berharap mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya. Pria itu sudah mau membuka mulut untuk menjawab pertanyaan istri tuannya tapi suara Abraham telah mendahuluinya.
"Kita akan makan siang lebih dulu." jawab Abraham tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
Setelah mengatakan itu, tidak ada lagi pembicaraan antara Sonia dan Abraham sampai mereka tiba di sebuah restoran mewah. Mereka menikmati makan siang dalam diam bahkan sampai keduanya keluar dari restoran.
Saat tiba di rumah, Revina sudah menunggu. Revina langsung duduk di kursi penumpang di bagian depan. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Revina dan Sonia terus saja bercerita. Sedangkan Abraham hanya diam menatap layar ponselnya.
Sonia dan Abraham mengikuti Revina masuk ke dalam ruangan dokter. Mereka berdua begitu antusias mendengarkan penjelasan dokter tentang perkembangan bayi yang ada di dalam kandungan Revina yang saat ini sudah memasuki usia enam bulan.
__ADS_1
"Ah, rasanya aku ingin sekali memiliki bayi di perut ku." Sonia mengusap perut rampingnya.
Sonia begitu kagum melihat bayi yang bergerak-gerak di dalam kandungan Revina saat di USG tadi. Di tambah lagi dengan penjelasan dokter tentang kehamilan dan perkembangan bayi sampai saat dilahirkan. Begitulah impian setiap wanita. Apalagi wanita yang sudah menikah pasti ingin hamil dan memiliki anak. Kedua wanita yang duduk di belakang itu terus saja membahas tentang kehamilan. Sementara Abraham yang duduk di depan memasang telinganya mendengarkan keinginan-keinginan Sonia untuk hamil dan memiliki anak. Meskipun mata Abraham tertuju pada layar ponsel tapi fokusnya hanyalah suara istrinya.