
Baru saja Felix keluar dari kamar mandi, ia sudah mendapatkan amarah dari Revina tanpa alasan yang tidak masuk akal. Revina menuduh Felix memiliki simpanan hanya karena istrinya itu mendapati banyaknya pakaian wanita yang ada di kamar Felix. Padahal Felix sudah menjelaskan jika ia baru saja membeli pakaian itu hari ini khusus untuk Revina tapi wanita itu tetap tidak percaya.
Felix memijit keningnya yang terasa pusing. Meskipun ia sudah biasa mendapatkan omelan dan kemarahan dari istrinya tapi tetap saja membuat Felix pusing. Pasalnya jika tidak di selesaikan saat ini juga maka sudah dapat di pastikan ia tidak akan bisa menyentuh istrinya malam ini. Padahal Felix sudah membayangkan jika malam ini ia akan kembali mengulangi percintaan panas mereka seperti kemarin.
"Masuk." perintah Felix saat pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Lima orang pelayan wanita dan dua orang pelayan pria masuk menghadap Felix.
"Kau boleh bertanya apapun kepada mereka." kata Felix kepada Revina yang saat ini sedang duduk di sofa dengan memanyunkan mukanya.
"Kalian harus menjawab dengan jujur." perintah Felix kepada para pelayan.
"Apa yang ingin anda tanyakan nona ?" tanya seorang pelayan wanita senior karena ia yang paling tua dari yang lainnya.
"Sudah berapa lama kalian bekerja di sini ?" tanya Revina dengan suara datar.
"Kami semua bekerja di sini sudah lima tahun, nona." jawab pelayan wanita itu.
"Siapa yang menyusun pakaian di kamar ini ?" pertanyaan kedua Revina.
"Saya, nona." jawab seorang pelayan wanita yang berdiri di tengah.
"Sejak kapan pakaian wanita ada di kamar ini ?" lanjut Revina lagi.
__ADS_1
"Saya baru meletakkannya siang tadi, nona." jawab pelayan itu jujur.
"Semuanya ?"
"Iya, nona. Semuanya."
Felix tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban para pelayannya. Sekarang Revina pasti sudah percaya jika ia tidak seperti yang dituduhkan oleh istrinya.
"Apa ada wanita yang pernah datang ke rumah ini ?" pertanyaan Revina selanjutnya.
"Pernah, nona." jawab pelayan senior.
"Siapa ?"
"Nyonya besar, nona Sonia dan nona Diana."
"Siapa Diana ?"
"Nona Diana adalah wanita yang akan di jodohkan Tuan besar untuk tuan muda."
Felix menepuk kepalanya mendengar jawaban jujur pelayan. Ia sungguh tidak menyangka jika Revina akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Berapa kali dia datang ke sini ? dan kapan ?" Revina bertanya kepada pelayan tapi matanya menatap tajam ke arah Felix.
__ADS_1
"Hanya satu kali, nona. Sekitar dua tahun yang lalu." jawab pelayan lagi.
"Kau cari rekaman cctv dua tahun lalu." perintah Felix kepada seorang pelayan pria.
"Dan kalian boleh keluar." perintahnya lagi.
Kamar kembali sunyi setelah para pelayan itu keluar.
"Sayang, percayalah aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari mu." Felix berusaha membujuk istrinya.
"Kau ingat kan aku pernah menceritakan tentang daddy yang ingin menjodohkan aku dengan putri teman bisnisnyaa dan aku menolaknya sehingga aku di usir oleh daddy." Felix kembali mengingatkan Revina.
Dalam hati Revina juga membenarkan perkataan Felix. Tapi hatinya yang terlanjur marah tidak mengakuinya.
"Tapi aku bersyukur dan berterima kasih karena daddy melakukan itu pada ku. Jika tidak aku pasti tidak akan bertemu dengan mu." kata Felix jujur dari dalam lubuk hatinya.
Dua puluh menit kemudian pelayan pria itu kembali masuk ke kamar Felix sambil membawa sebuah laptop. Ia meletakkan laptop di atas meja tepat didepan Revina.
Felix yang sejak tadi berdiri kini berjalan mendekati Revina dan duduk di samping istrinya yang sedang marah itu. Kemudian Felix mulai memutar rekaman video cctv di laptop.
Video yang berdurasi lebih kurang lima belas menit itu berawal dari masuknya Eric dan Mery bersama seorang wanita muda dan cantik. Mereka bertiga duduk di ruang tamu dan beberapa saat kemudian pelayan mengantarkan minuman. Tampak mereka saling mengobrol santai sampai saat terlihat Felix datang.
Felix yang saat itu baru saja pulang kerja hanya berdiri di depan ketiga orang yang sedang duduk itu. Entah apa yang dikatakan oleh Felix sehingga membuat wanita yang bernama Diana itu menangis. Mery yang duduk di sampingnya itu memeluk Diana untuk menenangkannya. Eric langsung berdiri menuju Felix dan menamparnya. Eric terlihat memarahi Felix sehingga Felix mengeluarkan barang-barang dari sakunya. Dompet, kunci mobil, kunci rumah semuanya ia letakkan di atas meja. Kemudian Felix pergi.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Felix berjalan Eric memanggilnya yang membuat Felix kembali ke hadapan Eric. Felix meletakkan ponselnya di atas meja bersama tumpukan barang-barangnya tadi. Setelah itu Felix lagi pergi. Beberapa menit kemudian Eric, Mery dan Diana juga pergi keluar rumah ini.
"Bagaimana ? apa kau sudah percaya ?" tanya Felix kepada Revina yang sejak tadi mendiamkannya.