Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Pesan Felix


__ADS_3

Sonia ingin sekali tertawa melihat Abraham yang kelihatan terkejut. Sonia yakin Abraham tidak akan menyangka jika selama ini ia selalu mengawasi pria itu.


"Jangan terkejut begitu. Dari mana aku tahu Revina ada di sini, adalah hal mudah untuk ku." kata Sonia sedikit menyombongkan diri setelah menangkap ekspresi terkejut di wajah Abraham.


"Untuk apa kau menemuinya ?" tanya Abraham setenang mungkin menyembunyikan rasa terkejutnya meskipun sudah terlambat.


"Aku ingin menyampaikan pesan dari suaminya." jawab Sonia jujur.


Sonia ingin menemui Revina hanya karena Felix. Ia tahu sepupunya itu pasti akan menghubunginya dan memarahinya. Jadi, sebelum Felix melakukan itu ia harus punya tameng untuk menghadapi Felix.


"Apa hubungan mu dengan pria itu ?" tanya Abraham.


Ia pernah menerima informasi jika Felix beberapa kali bertemu dengan Sonia. Namun sampai saat ini Abraham masih belum mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara Felix dan wanita gila ini.


"Felix adalah teman ku." bohong Sonia. Karena ia tahu Abraham pasti belum mengetahui siapa Felix sebenarnya.


"Kau pikir aku percaya ?" Abraham tersenyum meremehkan. Jika hanya seorang teman, wanita gila ini tidak akan merendahkan diri untuk datang bertemu dengannya. Pikir Abraham.


"Terserah pada mu. Aku ke sini hanya ingin menemui Revina. Tolong panggilkan dia sekarang." perintah Sonia yang sudah malas untuk berlama-lama berbicara dengan Abraham si beruang kutub tua.


"Aku tidak akan mengizinkan mu untuk bertemu dengannya." kata Abraham santai.


"Tuan, tolong bekerja sama lah. Aku hanya ingin menyampaikan pesan." pinta Sonia yang sudah mulai jengah menghadapi Abraham.


"Aku akan mengizinkan mu bertemu dengannya. Tapi dengan syarat." kata Abraham dengan senyum menyeringai menatap Sonia dengan pandangan yang sulit diartikan.


Sonia memutar bola matanya malas. Apa yang di rencanakan oleh si beruang kutub tua ini. Mengapa senyumnya terlihat begitu mengerikan. Meskipun merasakan firasat buruk tapi Sonia harus menerima syarat dari Abraham.

__ADS_1


"Baiklah. Katakan apa syaratnya." tanya Sonia tanpa basa-basi.


"Aku ingin membalas apa yang telah kau lakukan pada ku dulu." kata Abraham masih menatap Sonia.


"A apa maksud mu ?" tanya Sonia yang seolah-olah tidak mengerti. Padahal ia sangat tau apa yang di maksudkan oleh Abraham.


"Aku rasa kau pasti masih mengingatnya." ucap Abraham yang membuat Sonia menelan ludahnya dengan susah payah.


"Atau apa perlu aku mengingatkan mu, hem ?" Abraham berdiri dari kursinya lalu berjalan perlahan mendekat ke arah Sonia.


"Tidak. Tidak perlu." kata Sonia cepat. Sebelum Abraham semakin mendekat padanya.


"Bagus jika kau masih ingat." Abraham kembali berjalan mendekati Sonia dan langsung menarik tangan wanita itu sehingga membuat posisi Sonia berdiri sejajar dengan Abraham.


Abraham keluar dari ruangan kerja sambil mengusap bibirnya yang basah dan Sonia mengikutinya dari belakang dengan wajah yang di tekuk masam.


"Di mana dia ?" tanya Abraham kepada salah satu pelayan wanita.


"Nona sedang ada di taman belakang, tuan."


Kemudian Abraham melanjutkan langkahnya menuju taman belakang seperti yang dikatakan oleh pelayan tadi. Dari jauh Abraham sudah melihat Revina yang sedang duduk melamun di kursi taman.


"Aku hanya mengizinkan mu untuk berbicara dengannya. Jangan berharap bisa membawanya keluar dari sini." kata Abraham yang hanya mendapatkan tatapan tajam dari Sonia.


"Dan jangan lupa dengan syarat yang ke dua." bisik Abraham tepat di samping telinga Sonia. Setelah itu Abraham pergi meninggalkan Sonia untuk bertemu dengan Revina.


"Selamat pagi, Revina." sapa Sonia ramah yang membangunkan Revina dari lamunannya. Sonia tersenyum hangat kepada kakak iparnya.

__ADS_1


"Eh, Nona Sonia." Revina terkejut melihat teman suaminya ada di sini.


"Sedang apa nona di sini ?" tanya Revina sambil melihat ke sekeliling seperti mencari seseorang.


"Panggil Sonia saja." Sonia mendudukkan tubuhnya di samping Revina.


"Aku ke sini ingin bertemu dengan mu. Ingin menyampaikan pesan dari Felix." beritahu Sonia.


"Pesan ? di mana Felix sekarang ?" tanya Revina sedikit kecewa karena Felix tidak datang untuk menjemputnya. Tapi malah hanya mengirimkan pesan.


"Saat ini Felix sedang pergi ke luar negeri. Ada pekerjaan mendesak yang harus dilakukannya. Sebenarnya semalam Felix sudah ingin datang untuk menjemput mu. Tapi, mendadak ia mendapatkan perintah untuk berangkat saat itu juga." terang Sonia agar Revina tidak kecewa dengan Felix.


"Ke luar negeri ? Apa tuan Abraham yang menyuruhnya ?" tanya Revina ingin tahu.


"Em, mungkin. Aku juga tidak tahu." bohong Sonia. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.


Revina mengangguk sambil berfikir. Jika Abraham yang menyuruhnya mengapa pria itu tidak mengatakan apa-apa padanya.


"Felix juga menitipkan mu kepada Tuan Abraham karena ia begitu mengkhawatirkan keselamatan mu. Tinggallah di sini untuk beberapa waktu. Di sini lebih aman. Felix akan menjemput mu setelah dia pulang nanti." lanjut Sonia lagi.


"Berapa lama ?" tanya Revina tidak bersemangat.


"Aku tidak pasti. Tapi percayalah. Felix sangat mencemaskan keadaan mu. Dia begitu mencintai mu." Sonia memegang tangan Revina. Meyakinkan wanita itu.


Suara dering ponsel membuat Sonia melepaskan tangannya dari tangan Revina untuk mengambil ponsel dalam tasnya. Melihat siapa yang menghubunginya.


Felix !

__ADS_1


__ADS_2