Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Tidak Mengakui


__ADS_3

Setelah seminggu berada di Korea menikmati bulan madu romantis, kini saatnya Felix dan Revina kembali London. Mereka di sambut dengan penuh kegembiraan oleh mommy Mery yang masih berada di sana.


"Bagai mana, sayang bulan madunya ? apa menyenangkan ?" tanya Mery setelah melepaskan pelukannya kepada menantu kesayangannya.


"Sangat menyenangkan, mom. Ini ada sedikit oleh-oleh buat mommy dari Korea." Revina menyerahkan sebuah paper bag kepada ibu mertuanya.


"Terima kasih, sayang. Semoga perjalanan kalian segera membuahkan hasil."


Felix mengkerutkan keningnya, tidak mengerti maksud perkataan sang ibu.


"Mommy harap Revina segera hamil dan memberikan mommy cucu." terang Mery yang melihat Felix seperti kebingungan.


"Oh, pasti mom. Karena aku terus menanamkan bibit unggul ku di sini." Felix mengusap perut datar Revina.


Wajah Revina bersemu malu mendengar Felix berkata begitu kepada mommy Mery.


Besok harinya, Felix sudah mulai aktivitas seperti biasanya. Pagi-pagi sekali Revina mengantarkan Felix untuk berangkat bekerja.


"Hati-hati di rumah sayang." Felix mencium kening Revina dengan sayang sebelum masuk ke dalam mobil.


"Iya. Kau juga hati-hati." balas Revina. Kemudian ia melambaikan tangan sampai mobil yang di tumpangi Felix keluar dari gerbang rumahnya.


Setibanya di kantor, Felix mulai disibukkan dengan pekerjaannya yang sudah satu bulan ini ia tinggalkan. Pekerjaan yang begitu banyak dan menumpuk membuat Felix tidak menyadari jika waktu sekarang sudah saatnya jam makan siang.


"Tuan sudah saatnya makan siang. Apa anda ingin di belikan sesuatu ?" tanya seorang wanita yang merupakan sekretaris Felix di kantor.


"Ya. Tolong siapkan makan siang untuk ku. Aku akan memakannya di kantor." jawab Felix yang sedang sibuk. Sehingga ia memutuskan untuk makan siang di kantor agar lebih menghemat waktu.


"Baik, tuan." wanita itu kemudian keluar dari ruangan Felix.


Tidak berapa lama kemudian seorang mengetuk pintu dan Felix langsung menyuruhnya masuk. Felix pikir itu adalah sekretarisnya sehingga sebuah suara yang lain membuat Felix mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Felix." suara lembut seorang wanita menyapa Felix.


"Mia." Felix menatap seorang wanita cantik berambut pirang berdiri di tengah ruangannya.


"Selamat siang, Felix. Sudah lama tidak bertemu." wanita yang bernama Mia itu langsung mendudukkan tubuhnya di depan meja kerja Felix.


"Iya. Sudah lama sekali. Ada apa kau datang kemari ?" tanya Felix langsung ke intinya.


Mia bukanlah salah satu rekan bisnis yang punya urusan pekerjaan dengan Felix. Dia hanya salah satu teman Felix yang tidak begitu dekat.


"Sejak kapan kau kembali ke sini ? aku dengar kau sudah menikah. Mengapa tidak mengundang ku ?" Mia mengabaikan pertanyaan Felix dan malah balik bertanya kepada pria tampan di depannya itu.


"Sudah hampir enam bulan aku di sini. Aku sudah menikah. Maaf, jika tidak mengundang mu. Tante ku yang mengurus semua acaranya." jawab Felix seadanya.


"Tidak apa-apa. Aku ucapkan selamat."


"Jadi, ada apa kau datang menemui ku ?" Felix kembali bertanya karena ingin segera menyudahi pertemuan yang tidak penting ini dan sudah menganggu waktu kerjanya..


Mia tersenyum tipis sebelum membuka suara.


Felix kembali mengingat kejadian dua tahun yang lalu saat terakhir ia bertemu dengan wanita di depannya ini.


"Memangnya ada apa ?" tanya Felix tidak mengerti.


"Felix, apa kau melupakannya begitu saja ?" tanya Mia tidak percaya melihat ekspresi Felix yang terlihat seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang penting.


"Tidak. Aku tidak lupa. Kau membawa ku pulang ke apartemen mu saat aku mabuk." kata Felix mengingatkan Mia.


Hari itu Felix di usir dari rumah oleh daddy-nya. Kemudian Felix menuju sebuah bar tempat di mana teman-temannya sering berkumpul. Malam itu mereka minum bersama sampai semuanya mabuk. Teman-teman Felix lalu pergi dengan teman kencannya malam itu. Sedangkan Felix yang tidak suka berkencan dengan wanita di bawa oleh Mia ke apartemennya karena wanita itu tidak tahu harus mengantar Felix ke mana.


"Apa hanya itu yang kau ingat ?"

__ADS_1


"Iya, hanya itu. Dan kau sedang tertidur saat aku bangun, lalu aku membangunkan mu sebelum aku pergi." lanjut Felix menjelaskan.


"Benar. Tapi kau melupakan sesuatu." balas Mia.


"Apa ?" tanya Felix cepat.


"Satu bulan setelah itu aku hamil." lirih Mia.


"APA ?" Felix terkejut mendengar perkataan Mia.


"Tidak mungkin." Felix meraup wajahnya kasar.


"Mengapa tidak mungkin Felix ? sebelum itu aku sudah lama tidak berhubungan dengan pria mana pun. Begitu juga setelahnya." kata Mia untuk meyakinkan Felix.


"Kau sengaja ingin menjebak ku saat aku mabuk ?" Felix menatap tajam ke arah Mia.


"Tidak. Sedikit pun aku tidak berniat untuk menjebak mu. Saat itu kita sama-sama sedang mabuk dan tidak sadar melakukannya."


"Meskipun aku mabuk saat itu tapi aku masih bisa ingat apa yang aku lakukan. Dan aku ingat tidak melakukan apa-apa pada mu." kata Felix yakin.


"Tapi saat aku terbangun kau ada di sana. Aku tidak mengenakan pakaian dan mendapati bekas percintaan di tubuh ku."


"Bisa saja kau melakukannya dengan orang lain." tuduh Felix yang memang merasa tidak melakukan apapun.


"Tapi hanya kau yang ada di apartemen ku malam itu."


Felix ingin menyahut perkataan Mia, tapi suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Sekretaris Felix masuk mengantarkan makan siang untuk Felix. Setelah sekretaris itu pergi Felix kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Mia.


Mia tetap kekeh mengatakan jika Felix yang sudah menghamilinya. Begitu juga dengan Felix yang tetap menyangkal apa yang dikatakan oleh Mia.


"Aku pikir kau adalah pria yang baik. Ternyata aku salah. Kau tidak lebih dari seorang baji**an." kata Mia marah.

__ADS_1


"Aku datang ke sini bukan untuk meminta mu bertanggung jawab. Tapi sebagai ayah dari anak ku, aku rasa perlu memberitahukan pada mu. Namun aku tidak menyangka jika kau malah tidak mengakui perbuatan mu dan anak yang tidak berdosa itu." lanjut Mia lagi kemudian ia pergi keluar dari ruangan Felix dengan penuh kemarahan.


Felix memukul meja kerjanya dengan keras. Merasa frustasi dengan apa yang baru saja terjadi. Felix sangat yakin tidak melakukan hubungan in tim dengan Mia malam itu. Satu-satunya wanita yang pernah ia sentuh dan pertama kali ia melakukannya hanyalah dengan Revina seorang. Istrinya. Wanita yang sangat di cintainya.


__ADS_2