
Setelah kepergian wanita itu, Felix dan Revina pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Hanya berdua seperti yang di katakan oleh Revina tadi. Saat ini mereka baru saja selesai menikmati makan makanannya dan beranjak pergi dari restoran.
"Setelah ini kau mau ikut kembali ke kantor atau mau langsung pulang ke rumah ?" tanya Felix saat sudah keluar dari restoran.
Belum sempat Revina menjawab pertanyaan suaminya, wanita itu tiba-tiba saja menutup mulutnya dan langsung berlari masuk ke dalam restoran kembali.
"Revina, kau kenapa ? apa yang terjadi ?" Felix mengikuti Revina dengan perasaan cemas.
Revina yang tiba-tiba merasa mual langsung masuk ke dalam toilet untuk memuntahkan isi perutnya yang seperti di aduk-aduk.
"Sayang, ada apa ?" Felix mengusap punggung Revina dan membetulkan rambut Istrinya.
"Ayo, kita pergi ke dokter." ajak Felix yang sangat cemas melihat Revina.
Felix masih merasa trauma dengan apa yang terjadi kepada Revina satu bulan yang lalu saat Jasse memberikan racun ke dalam minuman Revina.
Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Revina tidak dapat menjawab pertanyaan Felix. Saat ini ia merasa begitu lemas dan seperti tidak punya tenaga meskipun hanya untuk berdiri.
Felix dengan sigap langsung mengangkat tubuh istrinya berjalan keluar dari restoran tanpa memperdulikan jika saat ini semua pengunjung yang ada di sana melihat ke arahnya. Yang ada si pikiran Felix saat adalah membawa Revina segera ke rumah sakit.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Hen kini sudah tiba di sebuah rumah sakit. Felix segera mengangkat tubuh Revina membawa ke dalam untuk segera di tangani. Bagaikan dejavu untuk Felix yang kembali harus membawa Revina masuk ke rumah sakit. Perasaan takut kembali menyerang Felix.
"Istri saya kenapa, dok ? tiba-tiba saja di muntah setelah selesai makan." kata Felix saat dokter memeriksa Revina. Sedangkan Revina saat ini memejamkan matanya karena merasa pusing.
Dokter wanita yang seumuran dengan mommy Mery itu masih berkonsentrasi memeriksa bagian tertentu dari tubuh Revina. Kemudian dokter itu tersenyum, membuat Felix bingung dan merasa kesal sekaligus. Bagaimana tidak kesal jika saat ini ia begitu mencemaskan keadaan Revina tapi dokter itu malah tersenyum.
"Selamat pak, istri anda sedang hamil."
Revina langsung membuka matanya begitu dokter mengatakan jika ia sedang hamil. Begitu juga dengan Felix yang tadi merasa kesal tiba-tiba hilang begitu saja dan berganti dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Benarkah istri ku sedang hamil ?" tanya Felix untuk memastikan jika ia tidak salah dengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi.
"Benar, pak. Untuk memastikan usia kandungan istri anda, saya akan merujuk ke dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan." kata dokter yang sepertinya sudah sangat berpengalaman.
"Terima kasih, dok." balas Felix sambil menggenggam tangan Revina.
Saat ini Felix dan Revina merasa sangat bahagia mendengar kabar jika sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua.
"Terima kasih, sayang." Felix mencium kening Revina dengan penuh rasa sayang.
Setelah mendapat rujukan dari dokter UGD, Revina kini sedang di periksa oleh dokter kandungan. Felix terus mendampingi wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Usia kandungan ibu saat ini sudah masuk enam minggu. Pada awal-awal kehamilan mungkin ibu sering mengalami gejala mual dan muntah, pusing dan gampang lelah. Ibu harus banyak istirahat dan makan makanan yang sehat dan bergizi. Hindari benturan dan kerja berat. Ibu juga harus menjaga emosi. Jangan terlalu banyak pikiran dan stress. Semua itu bisa mempengaruhi perkembangan bayi di dalam kandungan anda." terang dokter kandungan itu panjang lebar karena ini merupakan kehamilan pertama untuk pasangan suami istri di depannya ini.
"Nah, sebagai suami anda harus memastikan istrinya anda melakukan apa yang saya katakan tadi. Perhatian dari seorang suami sangat penting bagi ibu hamil." lanjut dokter beralih kepada Felix.
Setelah dari rumah sakit, Felix memutuskan untuk langsung membawa Revina pulang agar istrinya itu bisa beristirahat. Tidak lupa juga mereka mengabarkan berita gembira ini kepada mommy dan daddnya.
Hari-hari berlalu begitu saja. Felix sangat protektif terhadap Revina semenjak wanita itu hamil. Felix lebih banyak memberikan perhatian kepada Revina dari pada pekerjaannya. Beruntung Felix memiliki asisten yang selalu dapat diandalkan seperti Hen.
"Sayang, siang nanti aku akan mengantarkan mu ke rumah sakit." kata Felix sebelum ia berangkat kerja.
"Ke rumah sakit lagi ? bukannya baru minggu kemarin kita datang untuk periksa kandungan." Revina mengingatkan Felix.
"Benar, itu memang jadwal mu check up bulan ini. Tapi, aku ingin dokter memeriksa kandungan mu sekali lagi sebelum kita berangkat besok lusa." terang
Dua hari lagi mereka akan pulang ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan Abraham dan Sonia. Karena itulah Felix ingin memastikan jika kandungan Revina tidak akan kenapa-kenapa ketika melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat.
"Hem, baik. Aku akan siap-siap nanti siang." Revina menurut dengan pasrah apa yang diperintahkan oleh Felix demi untuk menjaga keselamatan bayi yang ada di dalam rahimnya. Meskipun terkadang Felix bersikap sedikit berlebihan dan over protektif.
__ADS_1
Felix mencium kening Revina seperti biasa dan tidak lupa juga mengecup perut Revina yang masih datar.
Seperti yang sudah di janjikan Felix, ia sudah sampai di rumah menjelang jam makan siang. Setelah makan bersama di rumah keduanya pergi ke rumah sakit. Felix memang sengaja mengosongkan jadwalnya setiap kali akan mengantarkan Revina memeriksa kandungan.
"Kau dengarkan apa yang di katakan oleh dokter. Aku baik-baik saja." kata Revina setelah keluar dari ruangan dokter.
"Aku melakukan ini karena aku sayang pada kalian." balas Felix sambil berjalan menggandeng istrinya.
Felix tiba-tiba menghentikan langkahnya melihat seseorang yang ada di depannya. Revina yang sedang mengomel juga turut menghentikan langkahnya.
"Mengapa berhenti ?" tanya Revina bingung.
Revina mengikuti arah pandang Felix melihat seorang wanita yang sedang menangis terisak di depan ruang tunggu UGD.
"Felix." sapa wanita itu sambil mengusap air mata di pipinya.
Belum sempat Revina bertanya kepada Felix siapa wanita itu, seorang dokter lebih dulu keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan putri ku, dok ?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Mia.
"Keadaannya sudah semakin parah dan harus segera di lakukan operasi transplantasi tali pusar dari saudara kandungnya." terang dokter.
Mia semakin terisak mendengar penjelasan dari dokter. Wanita yang tengah bersedih itu menatap Felix dengan tatapan memohon. Felix yang mengerti arti dari tatapan Mia itu hanya menatap datar kedepan. Sedangkan Revina merasa turut bersimpati kepada wanita di depannya itu.
"Felix, kau dengar sendirikan apa yang di katakan oleh dokter tadi." kata Mia dalam tangisnya.
"Aku harap kau bisa sedikit berbelas kasih untuk membantu putri ku." lanjutnya lagi.
Apa maksud wanita ini meminta bantuan kepada Felix ? bukankah seharusnya wanita itu mengatakan dan meminta bantuan kepada ayah dari anaknya. Revina melihat wajah Felix dan Mia bergantian.
__ADS_1