
Setelah menghabiskan malam panjang dengan saling melepas rindu, Felix dan Revina sama-sama turun untuk sarapan. Alangkah terkejutnya mereka berdua ketika melihat Mery sudah duduk di meja makan menunggu kedatangan anak dan menantunya.
"Mommy." kata Revina dan Felix bersamaan.
"Selamat pagi." sapa Mery pada keduanya dengan senyum bahagia.
"Pagi juga, mom." hanya Felix yang membalas. Sedangkan Revina masih terkejut dengan kehadiran ibu mertuanya yang tiba-tiba.
"Kapan mommy pulang ?" tanya Revina akhirnya untuk menjawab rasa terkejutnya.
"Mommy tiba tadi malam, sayang." Mery langsung pulang ketika mendapat kabar jika Felix kembali ke Jakarta.
"Mom, aku akan membawa Revina pulang bersama ku besok." Felix mengutarakan niatnya sebelum memulai sarapan.
"Kalau keinginan mommy, mommy tidak akan mengizinkan kau membawa Revina."
Mery menjeda ucapannya melihat wajah Revina yang tertunduk sendu.
"Tapi itu terserah kepada Revina. Bagaimana sayang ?" Bagaimana pun Mery mengerti jika Revina membutuhkan Felix di sampingnya untuk menemaninya di masa-masa kehamilan seperti ini.
Perlahan Revina mengangguk tanda ia memang ingin ikut bersama dengan suaminya. Felix tersenyum penuh kemenangan kepada mommynya. Kini tidak ada alasan lagi bagi mommy Mery untuk menahan Revina.
Mery menghela napas pasrah. "Baiklah jika itu sudah keputusan mu. Mommy harap kau baik-baik saja di sana." Mery memegang tangan menantunya sambil tersenyum.
Sore harinya, Revina sedang beristirahat di kamarnya. Ia tersenyum melihat pesan yang dikirim oleh Sonia. Istri dari pamannya itu mengucapkan terima kasih kepada Revina karena telah membantunya untuk memperbaiki hubungannya dengan sang suami. Sonia juga mengatakan jika sebentar lagi mereka akan berangkat untuk pergi berbulan madu di Paris.
__ADS_1
Karena begitu asik berbalas pesan, Revina tidak sadar jika Felix masuk ke dalam kamar.
"Astaga, Felix !" Revina mengusap dadanya terkejut saat melihat Felix berdiri di belakangnya.
"Sejak kapan kau di sini ?" Revina benar-benar tidak sadar Felix masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku dari tadi berdiri di belakang mu. Dari sejak kau berkirim pesan dengan Sonia." Felix naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Revina yang masih duduk.
"Jadi kau membaca pesan yang aku kirimkan pada Sonia ?"
"Ya, hanya sedikit." jawab Felix santai.
"Felix, itu perbuatan yang tidak sopan." marah Revina.
"Sstt. Kau tidak boleh marah-marah, nanti dia akan jadi seorang yang pemarah." Felix membawa Revina berbaring dalam pelukannya dan mengusap perut Revina yang semakin membesar.
Felix terkekeh mendengar perkataan Revina yang sudah mengetahui jika Felix akan selalu menggunakan bayi dalam kandungannya sebagai alasan.
"Kau sudah sangat mengenal ku, sayang." menu Felix mengambil ponsel di tangan Revina dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
"Sudah, jangan mengganggu Sonia lagi. Biarkan mereka memadu kasih sepuasnya. Sekarang kita istirahat karena besok pagi kita akan berangkat kembali ke London."
Revina mengangguk dan menurut perkataan Felix. Tapi saat Revina baru saja ingin memejamkan matanya, ia merasakan tangan Felix menelusup masuk ke dalam piyama tidurnya. Refleks saja Revina menepis tangan Felix.
"Katanya ingin istirahat, mengapa mengganggu ku." kata Revina kesal.
__ADS_1
"Sekali saja, sayang. Please." Felix memohon kepada Revina dengan wajah memelas dan tentu saja Revina tidak bisa menolaknya.
"Terima kasih sayang." Felix segera merubah posisinya setelah melihat Revina mengangguk.
Keesokan harinya Felix dan Revina langsung ke bandara setelah pulang dari rumah sakit. Felix harus memastikan keadaan kandungan Revina baik-baik saja sebelum mereka melakukan perjalanan jauh. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada istri dan calon anaknya.
Setelah terbang selama belasan jam, akhirnya Felix dan Revina tiba di London dan mereka langsung menuju ke rumah karena saat ini sudah pukul sepuluh malam waktu setempat. Felix mengantarkan Revina ke kamar untuk beristirahat. Felix keluar dari kamar setelah Revina tertidur pulas. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk memeriksa pekerja yang kembali menumpuk karena beberapa hari ia tinggalkan. Semakin hari pekerjaan Felix semakin banyak. Perusahaan kembali berkembang di bawah pimpinannya.
Sementara itu di kota Paris, Prancis. Sepasang suami istri sedang memadu kasih sepanjang hari, sejak mereka cek in di hotel tadi pagi.
"Cukup. Aku sudah lapar." Sonia menahan tubuh Abraham yang mulai bergerak merangkak naik ingin mengukung tubuhnya kembali.
"Oh, pukul berapa sekarang ? Apa sudah waktunya makan malam ?"
"Ya, ampun. Ini bahkan sudah hampir tengah malam." Sonia memutar matanya kesal. Abraham benar-benar sudah lupa waktu karena begitu larut menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.
"Apa ?" Abraham terkejut dan langsung mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Sonia.
"Maaf, sayang." Abraham membantu Sonia untuk bangun.
"Mengapa kau tidak mengingatkan ku ?"
Sonia ingin menyahut perkataan Abraham, tapi mulutnya malah mendesis ketika merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya saat akan berdiri.
"Maaf sudah membuat mu kesakitan." Abraham dengan sigap mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Mandilah. Aku akan memesan makanannya dulu." kata Abraham setelah meletakkan tubuh polos Sonia di dalam bathtub. Sonia yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya mengangguk patuh.