Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Sudah Menerima


__ADS_3

Abraham merasa tidak percaya jika Sonia sedang berdiri di depannya saat ini. Apa ini hanya mimpi ? Abraham Berta dalam hatinya.


Hening.


Abraham kembali memejamkan matanya karena merasa ini memang sebuah mimpi. Sonia masuk ke dalam mimpinya. Tidak mungkin wanita yang sudah menjadi istrinya itu datang menggodanya terlebih dahulu.


Sonia menghela napasnya melihat Abraham yang masih belum sadar. Sekali lagi Sonia mengelus lengan Abraham dengan lembut.


"Mengapa tidur di sini ? kembalilah ke kamar."


Kali ini Abraham benar-benar membuka matanya. Ini nyata bukan mimpi. Abraham tiba-tiba menarik tangan Sonia, sehingga wanita itu jatuh di atas tubuh Abraham.


Aaaa


Sonia menjerit karena tindakan Abraham yang tiba-tiba itu.


"Kau sengaja menggoda ku , Hem ?"


Suara serak Abraham bertanya kepada Sonia yang saat ini berada di atasnya karena Abraham mengunci tubuh wanita itu sangat erat.


"Ti tidak. A aku hanya ingin menyuruh mu tidur di kamar." Sonia terbata. Dengan posisi yang begitu intim seperti ini membuatnya gugup.


Abraham mendudukkan tubuhnya tanpa melepas pelukannya dari tubuh Sonia.


"Ada apa ?" tanya Abraham yang merasakan ada perubahan sikap pada Sonia.


"A aku minta maaf." kata Sonia lirih. Menunduk, tidak berani melihat wajah Abraham.


Sonia menyadari kesalahannya setelah mendengar cerita dari Revina tentang bagaimana Abraham.

__ADS_1


"Maaf untuk apa ?" Abraham meminta penjelasan lebih.


"Maaf karena telah mengabaikan kewajiban ku." Sonia menunduk, merasa malu.


Abraham tersenyum di bawah cahaya lampu yang remang-remang. Akhirnya Sonia kini sudah bisa menerimanya sebagai seorang suami. Penantian Abraham kini tida sia-sia. Abraham sempat berpikir jika Sonia akan membutuhkan waktu yang lama untuk menerimanya. Sungguh Abraham sangat tidak pandai untuk meluluhkan hati wanita.


"Jadi, apa sekarang kau sudah bisa menerima ku ?" tanya Abraham yang di jawab dengan anggukan oleh Sonia.


Abraham mengangkat dagu Sonia agar ia bisa menatap wajah wanita itu. Wajah yang terlihat malu-malu itu sungguh membuat Abraham menjadi gemas. Abraham langsung menyambar bibir wanita yang selalu ia dambakan untuk di lumatnya setiap hari. Sonia meremat baju yang dikenakan oleh Abraham untuk menahan getaran tubuhnya karena Abraham dengan rakus me ***** bibirnya.


Perlahan tapi pasti, Sonia mulai membalas permainan mulut Abraham yang membuat pria itu semakin menggila. Abraham menurunkan ciumannya ke leher jenjang istrinya, mengecup dan memberikan tanda kepemilikan. Sonia tidak bisa menahan suara lengu-han karena merasakan sensasi nikmat yang dialirkan oleh Abraham melalui sentuhan yang memabukkan.


Napas Abraham mulai memburu dengan cepat karena aliran darah yang semakin meningkat menuju pusat ketegangannya.


"Kita kembali ke kamar." ucap Abraham yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Pria itu sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk segera menjadikannya Sonia sebagai miliknya yang seutuhnya.


Keesokkan harinya, saat Sonia terbangun dari tidurnya, ia melihat Abraham yang masih tertidur pulas di sampingnya. Tak biasanya pria itu terlambat bangun. Wajah Sonia memerah mengingat percintaan pertama mereka tadi malam. Tidak hanya sekali tapi Abraham berkali-kali meminta kepadanya.


"Hem." Abraham menahan tangan Sonia yang berada di wajahnya.


Pria itu tersenyum lebar melihat wanita yang dicintainya juga sedang tersenyum kepadanya.


"Sudah siang. Kau tidak pergi bekerja ?" Sonia mengingatkan.


"Tidak. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan mu." Abraham menarik tubuh Sonia ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.


"Hah, mana bisa begitu. Aku juga harus pergi bekerja." jawab Sonia.


"Aku tidak akan mengizinkan mu pergi ke mana-mana hari ini." perintah Abraham kepada Sonia.

__ADS_1


"Tapi aku ..."


"Ini perintah. Aku akan menghubungi Eric untuk memberikan cuti selama dua minggu untuk mu." kata Abraham lagi.


Sonia mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Mengapa harus sampai dua minggu ? bukankah cuma hari ini ?"


"Aku ingin mengajak mu pergi berbulan madu selama dua Minggu." Abraham mulai mencium pundak istrinya yang terbuka.


"Hah, bulan madu ?" Sonia terkejut mendengar perkataan suaminya dan Abraham mengangguk membenarkan apa yang di dengar oleh Sonia itu tidak salah.


"Kata mu ingin segera hamil dan punya bayi." Abraham ingat pembicaraan antara Sonia dan Revina waktu pulang dari luar sakit.


"Tidak. Aku tidak pernah mengatakan itu." Sonia menyangkal apa yang di katakan oleh Abraham.


"Kau pikir aku tuli. Tidak mendengar apa yang kau bicarakan dengan Revina. Kau bahkan sangat antusias mendengarkan penjelasan dari dokter kandungan." Abraham mengingatkan.


Padahal waktu itu Abraham juga sangat antusias mendengarkan penjelasan dari dokter. Dalam hatinya berharap Sonia juga akan segera hamil anaknya. Tapi itu tidak mungkin terjadi bagi Abraham karena saat itu Sonia masih belum bisa menerimanya.


"Bukannya saat itu kau sibuk dengan urusan mu sendiri ?" ingat Sonia saat itu Abraham fokus pada ponselnya.


"Sesibuk apapun aku akan selalu ingat keinginan istri ku." kata Abraham yang membuat perasaan Sonia menghangat.


"Tapi mengapa kau mengabaikan dan selalu menghindari ku ?"


"Aku memang sengaja menghindari mu karena..."


Sonia menatap dalam mata Abraham dengan jantung berdegup menanti ucapan pria itu selanjutnya.

__ADS_1


"Karena aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh mu, seperti ini." Abraham mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di tubuh Sonia.


__ADS_2