
Saat ini Abraham dan Sonia sedang berada di kamar mandi. Pantas saja Sonia tidak menjawab panggilan telepon dari pamannya, Eric. Seperti yang di katakan oleh Abraham, ia akan menghukum Sonia karena sudah berani menemui Revina tanpa izin darinya.
"Jangan bergerak ! nanti terluka." Sonia sedang berhati-hati mencukur bu lu bu lu yang mulai tumbuhnya di wajah Abraham. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan kepada orang lain sebelumnya.
"Ah. Kau lama sekali." Abraham sudah kebas mengangkat wajahnya di depan Sonia.
"Kalau begitu kau lakukan saja sendiri." Kata Sonia kesal.
"Apa kau mau hukuman di ganti dengan yang lebih ekstrim ?" ancam Abraham dan sontak wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Cepat selesaikan !" perintah Abraham lagi.
Sonia pun melanjutkan pekerjaan sebagai tukang cukur dadakan sampai selesai. Setelah Abraham keluar dari kamar mandi, ia kemudian menyuruh Sonia mandi di kamarnya juga.
"Ini pakaian mu. Bersiaplah cepat." Abraham memberikan sebuah paper bag kepada Sonia.
Syarat kedua yang di berikan oleh Abraham tadi pagi adalah meminta Sonia untuk menemaninya menghadiri sebuah acara pesta malam ini.
Tepat pukul tujuh malam, Abraham dan Sonia sudah pergi meninggalkan rumah Abraham. Sedangkan Revina baru saja keluar dari kamar untuk makan malam. Setibanya di meja makan, ia tidak mendapati Abraham di sana. Revina belum juga menyentuh makanan yang sudah tersaji di meja. Ia masih menunggu Abraham.
"Silahkan di makan, nona." sapa seorang pelayan.
__ADS_1
"Saya mau menunggu Tuan Abraham." balas Revina. Ia bermaksud ingin membicarakan tentang Felix dengan Abraham malam ini setelah makan malam.
"Malam ini Tuan tidak makan malam di rumah, nona. Ia sudah pergi menghadiri sebuah pesta." terang pelayan.
Revina hanya mengangguk mendengar perkataan pelayan. Ia pun mulai memakan makanannya. Mungkin besok pagi saja ia akan menemui Abraham dan berbicara tentang Felix.
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Revina sudah menunggu Abraham. Tidak berapa lama kemudian Abraham masuk ke ruang makan, sudah berpakaian rapi seperti biasanya. Sebelum mereka memulai sarapan. Revina lebih dulu mengatakan maksud hatinya.
"Tuan bisakah saya berbicara dengan anda sebentar ?" tanya Revina hati-hati.
"Ini tentang Felix." jawab Revina yang seakan mengerti maksud tatapan Abraham.
Setelah selesai sarapan, Abraham dan Revina berbicara di dalam ruang kerja Abraham.
"Tuan, saat ini Felix sedang berada di luar negeri." kata Revina yang sukses membuat Abraham terkejut. Tapi seperti biasanya wajah Abraham hanya terlihat datar.
Pantas saja Felix tidak datang kekantor kemarin. Batin Abraham.
"Saat ini ayahnya sedang sakit. Jadi, ia meminta Felix untuk mengurus usahanya untuk sementara waktu." kata Revina jujur seperti yang ia ketahui dari Sonia.
__ADS_1
"Dan untuk pekerjaannya di sini, mungkin dia akan mengirimkan surat pengunduran diri." lanjut Revina lagi.
"Apa kau ingin bekerja menggantikan posisinya ?" tanya Abraham serius.
"Maaf, saya merasa tidak pantas untuk menggantikannya."
"Kenapa tidak ? bukannya kau dulu bekerja sebagai staf pemasaran di perusahaan Globe Enterprise." kata Abraham dan Revina mengangguk membenarkan perkataan Abraham.
"Katakan saja kapan kau siap untuk memulai bekerja." lanjut Abraham.
Pria itu berdiri dari duduknya. Bersiap untuk pergi bekerja, merasa tidak ada lagi yang akan di bicarakan oleh Revina.
"Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan." ucap Revina yang juga berdiri melihat Abraham berdiri.
"Saya akan kembali ke rumah setelah saya bekerja." lanjut Revina.
"Kau akan tetap tinggal di sini sampai suami mu datang sendiri menjemput mu." kata Abraham sambil berlalu pergi meninggalkan Revina.
Sejujurnya Revina benar-benar tidak nyaman tinggal di sini. Bukan karena keadaan rumahnya. Tapi karena harus tinggal bersama laki-laki asing yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Revina menghela napasnya mendengar keputusan Abraham.
Ingin rasanya Revina meminta Felix segera kembali untuk menjemputnya di sini. Ini bahkan masih tengah malam waktu di London. Tidak mungkin jika Revina menghubungi Felix sekarang.
__ADS_1