Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Hari Penuh Kebahagiaan


__ADS_3

"Hoooeek."


Semua orang yang ada di sana melihat ke arah sumber suara.


"Kau kenapa ?" Abraham bertanya kepada Sonia yang duduk di sebelahnya.


"Hoooeek."


Sonia hanya mampu menggeleng menjawab pertanyaan suaminya. Sonia terus menutup mulutnya karena tidak ingin ia memuntahkan isi perutnya di depan semua orang. Ia segera pergi ke kamar mandi. Abraham juga langsung menyusul ke kamar mandi karena mencemaskan keadaan Sonia. Sementara Mery dan Yuli saling pandang sambil tersenyum penuh arti. Apakah hari ini akan ada kabar gembira lainnya ?


"Sayang kau sakit ?" tanya Abraham cemas melihat Sonia muntah-muntah.


Abraham membantu memegang rambut istrinya agar tidak terkena muntahan.


"Ayo kita ke rumah sakit." ajak Abraham.


"Tidak perlu." jawab Sonia sambil membetulkan napasnya yang terengah-engah setelah mengeluarkan isi perutnya


"Tapi kau sakit seperti ini. Aku takut kau kenapa-kenapa." kata Abraham cemas tapi Sonia justru tersenyum kepadanya.


"Sayang, kenapa kau malah tersenyum. Jangan menakut-nakuti ku." Abraham semakin cemas melihat tingkah istrinya. Lagi sakit tapi malah senyum.


Sonia tidak menanggapi perkataan suaminya. Ia malah menarik tangan Abraham dan meletakkannya di perutnya yang datar.


"Perut mu sakit ?" pikir Abraham tapi Sonia menggelengkan kepalanya dan semakin melebarkan senyumnya.


"Kau lapar ? ayo kita makan." lagi-lagi Sonia menggeleng.


"Astaga, sayang. Aku mohon jangan sakit." Abraham hanya mampu memeluk erat tubuh Sonia. Air matanya hampir saja menetes karena takut terjadi sesuatu kepada sang istri.


"Tenanglah. Aku tidak apa-apa." Sonia tersenyum setelah meleraikan pelukannya. Abraham semakin bingung melihat sikap istrinya.


Sonia kembali membawa tangan Abraham untuk mengusap perutnya.

__ADS_1


"Aku hamil." dua kata yang keluar dari mulut Sonia mampu membuat Abraham terkejut sampai pria itu kehilangan kata-kata.


"Aku hamil." Sonia mengulangi kata-katanya.


Sebenarnya Sonia menghitung tanggal menstruasinya yang sudah telat dua minggu. Hanya saja ia belum bisa memastikan apakah ia hamil atau tidak karena tidak ada tanda-tanda kehamilan yang lain. Tapi saat tadi dia merasa mual ketika mencium aroma makanan padahal sebelum-sebelumnya tidak ada apa-apa. Sonia jadi yakin jika dia memang positif hamil.


"Sa sayang, kau hamil ?" tanya Abraham memastikan jika ia tidak salah dengar. Sonia mengangguk dua kali sebagai jawaban.


"Ya Tuhan, aku akan jadi daddy." Abraham begitu bahagia mendengarnya. Dia bahkan melompat kegirangan seperti anak kecil.


Saat kembali ke meja makan, Abraham langsung memberitahukan kabar gembira ini kepada seluruh keluarga besar istrinya. Mereka semua ikut bahagia mendengarnya. Sungguh hari ini adalah hari penuh kebahagiaan untuk keluarga besar Felix dan Revina.


Dua bulan berlalu.


Setelah Tama menikah dengan Diana, Eric langsung mengangkat Tama untuk menggantikan posisi Felix di Boison Grup. Karena Felix akan kembali ke Indonesia atas keinginan Mery yang ingin tinggal bersama cucunya.


"Kalian pergilah istirahat. Biar Louise bersama mommy." kata Mery begitu anak dan menantunya tiba di rumah.


"Tidak masalah, sayang. Mommy senang melakukannya." kata Mery tanpa melihat Revina. Karena saat ini wanita paruh baya itu sedang fokus dengan cucunya.


"Ayo, sayang kita ke kamar." ajak Felix dan Revina mengikuti suaminya.


Begitu tiba di kamar, Revina tidak langsung bisa istirahat karena Felix minta dilayani terlebih dahulu. Setelah selesai satu sesi percintaan mereka pada sore hari ini. Revina baru ingat tentang sesuatu yang selama dua bulan ini yang mengganjal di pikirannya.


"Felix, apa Tama bisa mengurus perusahaan Daddy dengan baik di sana ?" jujur Revina meragukan Tama. Karena yang ia tahu selama ini pria itu hanya mengurus salon kecantikan. Bagaimana bisa tiba-tiba saja ia mengurus sebuah perusahaan besar.


Felix terkekeh mendengar pertanyaan Revina. Istrinya itu sangat polos. Jujur dalam menilai orang hanya dari apa yang ia lihat tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Di mata Revina Tama hanyalah seorang pria yang berprofesi sebagai wanita jadi-jadian yang memiliki sebuah salon kecantikan.


"Kenapa kau tertawa ?" kata Revina kesal. Tangannya refleks memukul dada bidang Felix yang masih di penuhi oleh keringat percintaan mereka.


"Sayang, daddy tidak mungkin akan menyerahkan perusahaannya kepada seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengurusnya." jawab Felix yang membuat Revina bingung.


"Maksud mu ?" tanya Revina yang ingin tahu lebih jelas.

__ADS_1


"Tama bukanlah sembarangan orang, sayang. Kau bahkan tidak akan pernah terpikirkan seperti apa dia sebenarnya." kata Felix yang tidak ingin menjelaskan apa pun tentang sepupunya itu.


"Memangnya seperti apa dia ?" tanya Revina penasaran.


"Sudahlah. Jangan membicarakan pria lain di depan ku. Aku cemburu." Felix makin mengeratkan pelukannya pada tubuh polos Revina.


"Astaga. Dia itu sepupu mu, Felix." Revina tidak habis pikir jika felix bisa cemburu dengan Tama bahkan sekarang pria itu sudah menikah.


"Tidur. Jika tidak aku pastikan kita akan memulai sesi ke dua kegiatan panas sore ini." ancam Felix. Dan mendengar hal itu, Revina langsung menutup mata dan mulutnya. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melayani keinginan Felix yang tidak pernah puas.


Sementara itu jauh di belahan bumi lain.


Tama baru saja keluar dari perusahaan. Sebentar lagi waktunya untuk makan siang. Tama langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di pintu utama.


"Kita pergi ke markas sekarang." perintahnya kepada sang supir.


"Baik, tuan."


Lebih kurang tiga puluh menit Tama tiba di sebuah kantor Organisasi Badan Intelijen Resmi. Tama masuk dengan menggunakan card access miliknya dan berjalan memasuki lift untuk menuju lantai tertinggi gedung ini.


Tama di periksa oleh dua orang penjaga di depan pintu sebelum masuk ke ruangan salah seorang pemimpin tertinggi organisasi itu.


"Selamat siang, sir.," Tama menunduk hormat kepada pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu tersenyum melihat salah satu agen terbaik dalam organisasinya dalam sepuluh tahun terakhir datang menemuinya.


Tama mengeluarkan beberapa barang yang ia bawa dalam sakunya. Sebuah lencana, card access, chip, beberapa buah senjata dan terakhir sebuah kalung yang baru saja ia lepaskan dari lehernya.


Pria yang dipanggil Sir itu terkejut melihat apa yang di lakukan oleh Tama.


"Are you serious ?" tanya pria itu langsung berdiri dari duduknya.


Tama mengangguk yakin dengan keputusan yang diambilnya. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi seorang agen rahasia karena ingin fokus pada perusahaan milik pamannya yang sekarang ia pimpin.


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2