
Sonia melihat layar ponselnya, ternyata Felix yang menelpon. Ah, syukurlah. Kau menelpon di waktu yang tepat. Sonia tersenyum mengangkat panggilan dari Felix.
"Beraninya kau menipuku !" cerca Felix ketika panggilannya di angkat.
"Apa ? aku sudah menyampaikan pesannya kepada istri mu." balas Sonia santai. Untuk saat ini ia merasa aman karena Revina sedang ada di sampingnya.
Revina terkesiap mendengar perkataan Sonia. Apakah itu Felix yang sedang menelepon. Revina menatap penuh harap kepada Sonia
"Pesan apa ? kau jangan mengada-ada. Awas kau jika kita bertemu." Felix memarahi Sonia.
"Tenanglah. Sekarang aku bersama dengan Revina. Kau ingin bicara dengannya ?"
Felix langsung mengganti panggilan suara menjadi panggilan video ketika Sonia mengatakan Revina ada bersamanya.
"Mana istri ku ?" wajah Felix terpampang di layar ponsel Sonia.
"Ini." Sonia menyerahkan ponselnya kepada Revina.
"Felix." Revina tersenyum melihat wajah suaminya.
Felix pun merasa lega setelah melihat keadaan Revina yang baik-baik saja. Bahkan wanita itu tersenyum sangat cantik di matanya.
"Sayang." balas Felix.
"Kapan kau pulang dari luar negeri ? mengapa kau menyuruhku untuk tinggal bersama tuan Abraham ?" Revina memberondong suaminya dengan pertanyaan yang membuatnya bingung.
Sialan. Apa yang sudah disampaikan oleh Sonia kepada istri ku.
__ADS_1
"Belum pasti sayang. Tapi aku janji akan pulang secepatnya untuk menjemputmu. Maaf aku tidak ada untuk mu disaat kau membutuhkan ku." Felix merasa kesal dengan keadaanya sekarang yang tidak bisa mendampingi wanita yang sangat di cintainya.
"Untuk sementara tinggallah bersama Tuan Abraham. Dia orang baik. Dia akan menjagamu karena aku mengkhawatirkan keselamatan mu jika kau tinggal sendirian." lanjut Felix yang juga berpikiran sama seperti Sonia. Akan lebih baik jika untuk saat ini Revina tinggal bersama pamannya.
Revina menghela napasnya. "Baiklah. Aku akan tinggal di sini. Tapi, kau harus secepatnya menjemput ku."
"Iya, sayang. Aku mencintaimu." ucap Felix sebelum memutuskan panggilannya.
"Ini. Terima kasih." Revina menyerahkan kembali ponsel milik Sonia dengan wajah yang berbinar. Karena sudah dapat berbicara dengan suaminya.
"Oh, ya. Ini ponsel milik mu." Sonia memberikan ponsel milik Revina yang dia ambil dari Felix ketika pria itu tidak sadarkan diri.
"Terima kasih, Sonia. Kau sudah begitu banyak membantu ku." ucap Revina tulus.
"Tidak, masalah. Aku senang melakukannya." balas Sonia sambil tersenyum. Tapi dalam hatinya mengumpat Felix. Gara-gara Felix, ia harus kembali bertemu dengan Abraham pagi ini. Sangat menyebalkan.
"Hey, siapapun. Tolong lepaskan kami." Dewi terus berteriak sejak tadi pagi.
"Jasse kenapa kau diam saja ? berusahalah untuk mencari bantuan." kesal Dewi kepada temannya yang sejak tadi hanya diam dan tidur.
"Mau minta tolong pada siapa ? tidak ada orang lain di sini. Kita tunggu saja mereka datang." kata Jasse yang juga kesal karena Dewi begitu berisik.
Sebenarnya Jasse sudah dapat menerka jika yang menyekap mereka pasti orang suruhan Abraham. Sedangkan Dewi tidak tahu apa-apa. Sial. Mengapa mereka menangkap ku juga.
Tidak berapa lama kemudian pintu gudang itu terbuka. Biasan cahaya terang begitu menyilaukan mata dua wanita yang sejak tadi malam terkurung di sana. Terlihat beberapa orang pria berjalan masuk.
"Hey, lepaskan kami ! mengapa kalian menangkap kami ? apa salah kami ?" pertanyaan beruntun Dewi sambil berontak ingin melepaskan diri.
__ADS_1
Seorang pria berjalan mendekat. Mencekeram dagu Dewi, mendongakkan wajah wanita itu ke atas. Di bawah lampu yang temaram terlihat wajah Dewi yang ketakutan.
"Apa kau tidak tahu ? apakah teman mu ini tidak mengatakan mengapa kalian di tangkap ?" pria itu berkata dengan wajah yang menyeringai.
"Cih, apa maksudmu ?" tanya Dewi setelah pria itu melepaskan cengkeramannya.
"Ck, ck, ck. Aku yakin jika dia tidak mengatakan apa-apa. Seorang teman seharusnya membantu temannya. Tapi teman mu ini malah menjebak mu." kata pria itu lagi sambil menunjuk ke arah Jasse yang terlihat pias.
"Jasse, apa itu benar ? yang di katakannya itu benar ? mengapa kau melakukan itu ?" tanya Dewi yang sudah tersulut emosi oleh kata-kata pria tadi.
"A- aku tidak tahu apa yang dimaksudkannya." Jasse menjawab dengan terbata-bata karena mulai cemas.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu, nona." kini giliran Jasse yang dicengkeram di lehernya. Membuat wanita itu kesusahan bernapas.
"Bukankah tuan ku sudah sering mengingatkan agar kalian tidak menganggu wanita itu lagi. Kau pikir kau akan selamat. Ck, kau pikir bisa membodohi kami. Meskipun bukan kau yang melakukannya tapi kau telah menghasut teman mu."
"APA ?" Dewi yang mulai mengerti dengan keadaan yang terjadi begitu terkejut dan marah karena merasa telah di manfaatkan oleh Jasse.
"Kasihan sekali kau karena sudah di bodohi oleh teman mu. Kau hanya di jadikan alat untuk membalaskan dendamnya. Apa kau tahu jika wanita itu bukanlah sesuatu yang bisa kalian sentuh."
"Sialan kau Jasse. Kau sengaja menjebak ku !" marah Dewi dan Jasee hanya terdiam karena memang ia salah.
"Sekarang rasakan akibatnya ! kalian berdua akan mati kelaparan dan membusuk di sini. Tidak akan ada yang bisa menemukan mayat kalian di sini." ancam pria itu sambil berlalu pergi bersama teman-temannya.
"Hey, tunggu ! Aku tidak bersalah. Lepaskan aku. Dia lah yang telah menjebak ku." Dewi terus berteriak.
Orang-orang itu kembali menutup pintu gudang dan menguncinya tanpa memperdulikan teriakan Dewi.
__ADS_1