Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Rahasia Abraham


__ADS_3

Saat ini Sonia sedang melamun memikirkan apa yang di sampaikan oleh Revina tadi pagi. Sungguh Sonia sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Benar kata Revina kemarin, sebuah rahasia tentang suaminya yang akan merubah penilaiannya terhadap pria itu.


Setelah selesai sarapan, Sonia tidak langsung pergi ke hotel. Ia menemui Revina terlebih dahulu untuk menanyakan tentang rahasia Abraham seperti yang dikatakan oleh Revina semalam.


"Sepertinya kau begitu penasaran ?" Revina menggoda istri pamannya.


"Iiss. Kau mau cerita tidak ? jika tidak aku akan pergi bekerja sekarang." ancam Sonia untuk menutupi rasa malunya.


"Baik-baik. Aku akan ceritakan. Sini duduk." Revina menepuk sofa di sampingnya dan Sonia menurut duduk di tempat itu.


"Kau pernah pergi ke perusahaan paman ?" tanya Revina pertama-tama.


Sonia menggeleng. Memang dia tidak pernah datang ke perusahaan Black Diamond milik suaminya baik sebelum maupun sesudah menikah.


"Memangnya kenapa ?" Sonia balik bertanya.


"Di perusahaan Black Diamond staf sekretaris paman semuanya wanita-wanita cantik dan seksi. Kecuali sekretaris pribadi paman yaitu Yosi." beritahu Revina.


Sonia terdiam mendengar perkataan Revina. Sonia jadi teringat sifat Abraham sebelum mereka menikah. Pria itu selalu menciumnya tiba-tiba dan juga sangat mesum. Pantas saja ia membutuhkan sekretaris yang cantik dan seksi. Hati Sonia terasa sakit mengingat itu.


"Hey, apa yang kau pikirkan ?" Revina melambaikan tangannya di depan Sonia karena wanita melamun.


"Ti tidak. Aku tidak memikirkan apapun." helah Sonia.


Revina tersenyum melihat tingkah Sonia. Ia dapat menebak apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu.


"Pasti kau berpikir jika paman menyukai wanita cantik dan seksi, bukan ?"


Sonia kembali terdiam karena tebakan Revina seratus persen tepat. Tidak hanya Sonia, awalnya juga Revina sempat berpikiran begitu tapi sekarang ia sudah mengetahui kebenarannya.


"Tapi bukan itu alasannya." kata Revina lagi.


"Lalu untuk apa dia memilih wanita cantik dan seksi ?" tuduh Sonia.


"Sebenarnya paman memiliki kelainan atau bisa disebut penyakit."

__ADS_1


"Astaga. Apa dia tidak normal ? tidak tertarik pada wanita ?" Sonia menutup mulutnya tidak ingin percaya dengan tebakannya.


"Tidak. Dia sangat normal. Buktinya di mau menikah dengan mu." Revina membantah apa yang di pikirkan oleh Sonia.


"Paman memang tidak tertarik dengan wanita tapi dia juga tidak menyukai sesama jenis. Karena itu sampai usia empat puluh tahun dia belum menikah. Paman sendiri juga takut jika dia tidak normal sampai- sampai dia pernah menemui dokter untuk memeriksakan dirinya." terang Revina panjang lebar.


Revina mengetahui tentang pamannya dari pelayan senior. Pelayan itu bekerja di rumah ini sejak kedua orang tuanya masih ada dan Abraham waktu itu masih remaja. Jadi dia tahu banyak tentang Abraham dan hanya menceritakan ini kepada Revina.


"Jadi aku rasa paman pasti tertarik pada mu karena itu dia mau menikah dan menyentuh mu. Mungkin karena perbuatan bar bar mu yang menciumnya terlebih dahulu membuat paman tertantang." Revina menyimpulkan pendapatnya.


"Tapi belum tentu dia mencintai ku." kata Sonia yang belum mengerti.


"Cinta datang karena terbiasa. Aku dan Felix juga dulu tidak saling mencintai. Dan parahnya lagi kami bahkan tidak saling mengenal, tapi tiba-tiba saja menikah." Revina teringat saat awal-awal pernikahannya dengan Felix dulu.


Sonia tersadar dari lamunannya ketika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa ?" tanya Sonia kepada karyawannya.


"Tuan Abraham menyuruh anda untuk menghubunginya karena tadi beliau menelpon tapi anda tidak menjawabnya." karyawan itu menyampaikan pesan dari suami bos-nya.


"Baik. Terima kasih." Sonia sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak menyadari jika ada panggilan masuk di ponselnya.


"Ada apa ? maaf tadi aku tidak dengar ponsel ku berbunyi." kata Sonia begitu panggilannya di jawab oleh Abraham.


"Bersiaplah, aku akan menjemput mu untuk makan siang sebentar lagi." kata Abraham dari seberang sana.


Sonia mendelik mendengar Abraham mengajaknya makan siang. Seketika muncul ide di kepala Sonia.


"Bagaimana jika aku datang ke kantor mu membawakan makanan dan kita makan siang di sana. Aku belum pernah melihat bagaimana kantor mu."


Kali ini Abraham yang terkejut mendengar perkataan Sonia yang tiba-tiba ingin mengunjungi tempatnya bekerja.


"Baik. Aku tunggu di kantor." balas Abraham sebelum ia memutuskan panggilan teleponnya.


Sebenarnya Sonia ragu untuk datang ke perusahaan Abraham. Tapi rasa penasaran dengan apa yang di sampaikan oleh Revina tadi membuat Sonia berani mengatakan untuk makan siang di kantor Abraham dan ia tidak menyangka jika Abraham akan menyetujuinya.

__ADS_1


Satu jam kemudian Sonia sudah sampai di perusahaan Black Diamond milik suaminya. Yosi sudah menunggunya di depan pintu masuk untuk menyambut kedatangan istri tuannya. Yosi mengantarkan Sonia sampai di depan ruangan Abraham.


"Silahkan masuk, nona. Tuan sudah menunggu di dalam."


"Terima kasih."


Sonia berdebar begitu ia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kerja suaminya.


"Ehm. Hay." Sonia menyapa Abraham dengan senyum kaku.


Abraham tidak membalas sapaan Sonia. Pria itu terus berjalan menuju sofa dan duduk di sana.


"Mana makanannya. Aku sudah lapar." kata Abraham.


"Ini. Sebentar aku bukakan." Sonia mendekat dan duduk di samping Abraham mengeluarkan makanan dan meletakkan di depan suaminya.


Seperti biasa mereka makan dalam diam sampai mereka menghabiskan makanannya.


"Aku akan melanjutkan pekerjaan ku. Jika kau mau istirahat masuklah ke dalam kamar itu." Abraham kembali ke meja kerjanya. Sementara Sonia masih membereskan tempat mereka makan tadi.


Sekarang Sonia bingung apa yang akan ia lakukan lagi. Sonia sebenarnya masih ingin tinggal tapi ia tidak punya alasan untuk tetap di sini. Tidak mungkin kan dia mengatakan ingin menemani Abraham bekerja. Akhirnya Sonia mengambilnya tasnya dan memutus untuk pulang.


"Aku pulang." kata Sonia sebelum ia berjalan menuju pintu keluar.


Abraham menghentikan pekerjaannya dan beralih melihat Sonia.


"Mengapa terburu-buru ?" pertanyaannya Abraham membuat Sonia tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Kata mu ingin melihat kantor ku ?" tanya Abraham lagi.


"Mungkin lain kali saja. Sepertinya kau juga sedang sibuk." alasan Sonia. Sebenarnya memang ini yang ia tunggu-tunggu tapi Sonia terlalu malu untuk langsung menerima tawaran Abraham.


"Aku tidak terlalu sibuk. Ayo, aku ajak kau berkeliling." Abraham bangkit dari duduknya dan membawa istrinya berkeliling melihat kantor Balck Diamond miliknya.


Abraham merasa bangga menunjukkan kemegahan perusahaannya kepada Sonia. Sementara Sonia terus memperhatikan penampilan staf wanita yang ada di perusahaan ini . Terlebih lagi staf sekretaris Abraham. Benar apa yang dikatakan oleh Revina, mereka memang cantik-cantik dan seksi. Semua staf berdiri menunduk hormat saat Abraham dan Sonia melewati mereka.

__ADS_1


Lebih dari tiga puluh menit Sonia di ajak berkeliling oleh Abraham. Itu belum semua ruangan yang mereka datangi. Abraham memutuskan kembali kedalam ruangannya saat melihat Sonia yang sudah lelah berjalan.


Saat tiba di ruangannya, Abraham dan Sonia di kejutkan oleh kedatangan seseorang.


__ADS_2