Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Aku Datang


__ADS_3

Felix tersenyum memegang sebuah berkas di tangannya. Dengan penuh percaya diri Felix masuk ke dalam ruangan Abraham. Sesaat setelah Felix masuk, Abraham dan Sonia pun masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut melihat Felix ada di sana.


"Felix, sejak kapan kau di sini ?" tanya Sonia.


"Aku baru saja tiba." Felix menjawab pertanyaan Sonia tapi matanya menatap ke arah Abraham yang berdiri di samping wanita itu.


"Aku sudah membawa buktinya." Felix menunjukan berkas di tangannya kepada Abraham.


Sebenarnya Felix tidak perlu melakukan itu, karena Abraham sudah mengetahuinya. Abraham hanya melirik berkas yang di letakkan Felix di atas meja. Ia sudah tahu apa isinya tanpa harus membukanya.


"Kau terlalu lama untuk menemukan baj**gan itu." kata Abraham meremehkan karena Felix membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk menemukan laki-laki yang telah membuat Mia hamil. Yang tidak lain adalah anak tiri dari ibunya Mia.


Pria itu adalah seorang pemabuk dan penjudi. Ia selalu datang untuk meminta uang kepada Mia. Tapi malam itu entah mengapa pria itu jadi tergoda dan menatap lapar melihat Mia yang sedang tertidur pulas di sofa karena saat itu Mia dalam keadaan mabuk.


Pria itu lalu mendekati Mia dan tanpa sungkan menikmati tubuh saudara tirinya itu. Mia yang sedang di bawah pengaruh alkohol juga begitu menikmati permainan pria itu tanpa melihat siapa yang telah menjamah tubuhnya.


Setelah puas menyalurkan hasratnya, pria itu mengangkat tubuh polos Mia dan meletakkan di samping Felix yang sedang tertidur pulas di tempat tidur Mia dan ia pun pergi begitu saja tanpa mengetahui jika dia sudah menanamkan benihnya.


"Kau tidak tahu aku harus mencarinya ke negeri antah berantah." Felix membela diri.


"Jadi sekarang bawa aku pergi menemui istri ku." pinta Felix menuntut janji Abraham.


*


Felix menghembuskan napas lega saat melihat Revina sedang tertidur pulas. Saat ini Felix sudah berada di rumah Abraham. Akhirnya Abraham mengizinkan Felix untuk bertemu dengan Revina setelah melihat kesungguhan pria itu membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Felix menatap penuh kerinduan wajah wanita yang merupakan calon ibu dari anaknya. Wanita yang sangat ia cintai. Felix berjalan mendekat ke tempat tidur dan duduk di samping Revina yang masih terlelap. Ia kecup kening istrinya dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


"Sayang. Aku datang menjemput mu." Felix berucap dengan suara lirih karena tidak ingin membangunkan Revina. Dan benar saja Revina tidak terbangun sama sekali. Wania itu hanya menggerakkan tubuhnya mencari posisi ternyaman nya kemudian melanjutkan lagi tidurnya.


Beberapa jam kemudian Revina terbangun. Samar-samar ia melihat seperti sosok Felix. Revina kembali mengerjabkan mata untuk memastikan penglihatannya.


"Felix."


Suara Revina menyadarkan Felix yang sedang tidur terduduk di sofa.


"Sayang, kau sudah bangun ?" Felix berjalan mendekat ke tempat tidur.


"Astaga. Kau benar-benar ada di sini." ucap Revina setelah merasakan Felix memeluk tubuhnya.


"Iya. Aku di sini datang untuk menjemput mu."


Felix melepaskan pelukannya dan beralih mengecup bibir milik istrinya yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Aku juga. Tapi bagai mana kau bisa ada di sini ?" Revina baru teringat jika Abraham sudah memerintahkan penjaga rumah untuk tidak membiarkan Felix masuk dan bertemu dengannya.


"Aku sudah bertemu dengan paman mu dan membuktikan diri ku tidak bersalah. Jadi dia tidak punya alasan lagi untuk menjauhkan mu dari ku." jawab Felix.


"Oh. Bagai mana dengan anak itu ?" Revina teringat tentang anaknya Mia.


"Apa kau sudah menemukan ayah kandungnya ?" lanjutnya lagi dan Felix mengangguk.


"Aku akan melakukan apapun agar kau bisa percaya lagi pada ku." Felix menggenggam erat tangan Revina dan mengecupnya dengan sayang.

__ADS_1


Felix menceritakan kepada Revina tentang bukti yang ia dapatkan dan apa yang terjadi pada Mia sehingga wanita itu bisa hamil.


Sore harinya Felix membawa Revina kembali ke rumah orang tuanya setelah mendapatkan izin dari Abraham. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk Abraham menahan Revina di sini. Dan soal nyonya Maxim, Abraham tidak ingin ikut campur. Biarlah Felix menyelesaikannya sendiri dengan mommynya.


Di rumah keluarga Maxim, Eric dan Mery masih belum pulang dari luar negeri. Revina mengatakan jika kedua orang mertuanya itu akan pulang beberapa hari lagi sesuai dengan apa yang di katakan oleh Mery.


Setelah makan malam, Felix dan Revina masuk ke dalam kamar. Felix tidak melepaskan pelukannya dari istrinya karena masih merasa rindu dengan wanita itu.


"Sayang bolehkah aku menjenguk bayi kita ?" tanya Felix tiba-tiba karena sejak tadi Revina terus saja bercerita dan tidak peka dengan sinyal sinyal yang sudah di berikan oleh Felix. Akhirnya Felix harus memintanya secara langsung.


Revina langsung menghentikan ucapannya mendengar permintaan Felix. Tanpa menunggu lama Felix langsung menyambar bibir istrinya. Menunjukkan rasa rindunya melalui ciuman itu. Mereka berdua yang sudah lama tidak merasakan sentuhan saling membelai satu sama lain untuk memuaskan kebutuhan biologis masing-masing.


Dengan tidak sabar Felix me masuki Revina dengan perlahan karena tidak ingin membuat wanita itu kesakitan begitu juga dengan bayi mereka di dalam sana. Meskipun keinginan Felix begitu menggebu-gebu tapi ia tetap memperlakukan Revina dengan lembut sampai mereka sama-sama merasakan puncaknya dari kegiatan yang mereka lakukan.


Sementara itu di kediaman Abraham, saat ini Sonia sedang menunggu suaminya kembali ke kamar. Sonia melihat jam di dinding kamar, waktu sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Tapi Abraham masih belum masuk ke kamar. Sonia menghela napasnya mengingat jika selama dua bulan ini ia tidak tahu pukul berapa biasanya Abraham akan masuk tidur.


Sonia sudah merasa mengantuk, menunggu Abraham. Ia beberapa kali menguap. Dari pada dia tertidur, Sonia memutuskan untuk langsung menemui Abraham di ruang kerjanya. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Sonia mengatur napas dan detak jantungnya yang berdegup cepat sebelum ia masuk ke ruang kerja Abraham. Tapi ia masih ragu untuk melangkah. Sonia kembali membetulkan pakaiannya. Ia membuka tali baju kimono dan memperlihatkan gaun tidur satin yang panjangnya di atas lutut. Sekali lagi Sonia menghembus napasnya sebelum melangkah masuk.


Pandangan mata indah Sonia menyapu seluruh ruangan kerja Abraham yang belum pernah ia masuk sejak menikah dengan pria itu. Sonia menangkap sesosok tubuh yang sedang berbaring di sofa dalam ruangan yang hanya diterangi dengan cahaya temaram.


Sonia berjalan perlahan mendekat ke arah sofa. Ragu-ragu ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh yang sedang tertidur pulas itu.


"Bangun." Sonia mengusap lengan Abraham dengan lembut selembut suaranya yang memanggil pria itu.

__ADS_1


Samar-samar Abraham merasakan sentuhan di tubuhnya yang membuat ia tersadar. Abraham terkejut, merasa tidak percaya melihat Sonia berdiri di depannya saat ini.


Apa ini hanya mimpi ? Abraham bertanya dalam hatinya.


__ADS_2